Knowladge Is Free

Catatan Kuliah Teknik Informatika dan lain-lain

Alternatif Pintu Keluar Dari Krisis Kehidupan Bangsa


Prof. Imam Supriyogo
Prof Imam Suprayogo
Bagi orang yang suka mendengarkan berita, baik lewat koran, majalah, maupun media elektronik, akan merasakan kegelisahan yang mendalam. Mendengarkan bahwa Polri  berseteru dengan KPK, Pak Gubernur DKI  berseteru dengan DPRD-nya, terjadi kenaikan harga berasdan harga  tiket kereta api, dan lain-lain, maka menjadikan  mereka ikut sedih. Kapan bangsa ini akan meraih apa yang dicita-citakan, yakni adil, makmur,  dan sejahtera, apabila para pemimpin bangsa masih ribut sendiri.

 
Kesedihan itu menjadi semakin mendalam, ketika para tokoh membuat statemen yang berlebihan, misalnya mengatakan  bahwa sudah sempurna kebobrokan para pemimpin atau elite bangsa, atau di kesempatan lain mengatakan bahwa bangsa ini sudah semacam telah menggali kuburannya sendiri, juga dikatakan bahwa orang kampus masih bertiarap, dan lainnya. Kiranya, statemen itu disampaikan dengan niat  baik, agar banyak pihak menjadi sadar, bahwa bangsa ini perlu perbaikan secara bersama-sama, dan tidak boleh ada pihak-pihak yang  berdiam diri.

 
Sebenarnya jika direnungkan secara mendalam, bangsa ini tidak berkekurangan. Bangsa ini masih kaya beras, gula, daging, sayur mayur,  dan lain-lain. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan. Sekedar memelihara sapi, kambing, kerbau untuk memenuhi kebutuhan daging sangat mungkin dilakukan. Sarjana pertanian, dan tenaga kerja trampil sudah melimpah. Tanah untuk mengembangkan peternakan dan pertanian  tersedia sangat luas. Yang diperlukan adalah kemauan, yaitu kemauan para pemimpinnya untuk segera mengambil keputusan agar bangsa ini segera mandiri.

 
Kemandirian itu bisa  tercipta oleh kebijakan.  Sebagaimana sebaliknya, yaitu  bangsa yang hingga sekarang ini  belum mampu mandiri juga adalah sebagai akibat kekeliruan kebijakan yang diambil.  Seringkali untuk menyelasaikan persoalan besar,  mengambil  kebijakan yang bersifat   menerabas. Misalnya,  untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang panjang  ditempuh dengan cara membeli atau mengimport  dari  luar negeri. Beras, kedelai, jagung, gula, daging, dan bahkan garam saja diimport. Pemerintah lebih suka mengambil jalan pintas, atau menerabas, yaitu  dari pada menanam atau membuat  sendiri, maka merasa  lebih enak  memenuhi dengan cara membeli.

 
Akibat dari kebijakan tersebut cukup fatal. Banyak mafia, mulai dari mafia beras, mafia kedelai, mafia garam, mafia daging, dan lain-lain.  Selain itu, usaha-usaha yang dilakukan oleh rakyat tidak berkembang. Para petani, peternak, dan lain-lain mendapatkan saingan berat dari komoditas import, dan tentu akan kalah.  Akhirnya tidak banyak orang tertarik pada usaha yang tidak menguntungkan itu, kecuali hanya sebagian yang  memang tidak memiliki alternative lainnya.

 
Oleh karena kalah bersaing, maka tidak sedikit  rakyat yang menganggur, angka  kemiskinan  tidak mudah  dikurangi, kualitas hidup tidak mudah ditingkatkan, banyaik orang pergi ke luar negeri mencari pekerjaan sekalipun  berupah rendah, suasana berebut dan  konflik terjadi di mana-mana. Melihat betapa susahnya orang  mengalami kekurangan dan juga kesulitan hidup itu, ternyata juga tidak banyak orang yang memiliki kepekaan dan kemudian membantu. Mereka yang sedang berlebih tdak mau berbagi, khawatir di kemudian hari akan  mengalami kekurangan sendiri.   

 
Maka sebenarnya dapat dilihat dengan jelas bahwa krisis bangsa pada saat ini, bukan saja terletak pada   kekurangan beras, sandang dan papan, melainkan yang lebih mendasar adalah krisis kebersamaan sesama warga  bangsa.  Kebersamaan antar sesama  semakin menipis. Saling mengancam, dendam, ingin mengalahkan, atau dalam bahasa populernya saling mengkriminalkan dianggap hal biasa. Menyelamatkan uang dianggap lebih penting dibanding menyelamatkan orang. Semangatnya adalah sekedar memenuhi keperluannya sendiri, keluarga, atau kelompoknya masing-masing.  Menyusahkan orang lain tidak diangap keliru, dan bahkan dianggap hal biasa.

 
Pertanyaannya adalah bagaimana menyelamatkan bangsa ini dari krisis sebagaimana digambarkan dimaksud.  Pada setiap zaman, krisis kemanusiaan lazim  terjadi di mana-mana. Cara menyelesaikannya  biasanya  melalui cara-cara yang terkait dengan kemanusaan itu pula, dan  bukan sekedar dengan menambah luasnya bangunan penjara.  Krisis yang  bersumber dari  kekeringan hati, hingga menjadikan  bagian tubuh itu  sakit, maka penyembuhannya adalah dengan menyehatkan hati itu sendiri.  Suasana  saling menghujat, menghukum, balas dendam, permusuhan dan seterusnya, sebenarnya bukan cara yang benar untuk menyebuhkan hati, bahkan  justru sebaliknya.  Penyembuhan itu seharusnya dilakukan dengan cara  bersama-sama   membersihkan jiwa, hati, dan  pikiran secara keseluruhan.

 
Jika penyebab krisis itu adalah adanya kotoran pada jiwa, hati,  dan pikiran, maka kotoran yang dimaksudkan itu harus dibuang jauh-jauh. Kotoran itu  dalam kehidupan sehari-hari bisa berupa  penyakit dengki, hasut, dendam, permusuhan, sombong, suka menyakiti orang lain, dan seterusnya. Untuk membersihkan dan menyehatkan jiwa, hati,  dan pikiran  yang kotor itu, tidak ada jalan  lain kecuali harus ada gerakan bersama  kembali kepada nilai-nilai ketuhanan yang tinggi dan mulia. Oleh karena itu, -------sebagai bangsa yang majemuk, maka  gerakan itu  tidak akan mungkin meninggalkan  para pemuka agama, apapun agamanya. Hal demikian itu sangat mungkin, lebih-lebih bangsa ini adalah bangsa yang religious atau bangsa yang menempatkan Tuhan sebagai di atas segala-galanya. Wallahu a'lam
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Alternatif Pintu Keluar Dari Krisis Kehidupan Bangsa"

 
Copyright © 2014 Knowladge Is Free - All Rights Reserved - DMCA
Template By Kunci Dunia