Oleh: Prof. Imam Suprayogo
Dalam sebuah diskusi tentang pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, saya kebetulan diundang dan diminta untuk menjadi pembicara bersama Dr.KH Hasyim Muzadi. Dalam acara itu, yang diundang sebagai peserta tidak saja dari tokoh Islam, tetapi juga penganut agama lain, yaitu para pendeta, pedende, termasuk para biksu.
Sambil menunggu kegiatan itu dimulai, KH Hasym Muzadi yang kebetulan duduk berdekatan, membisiki saya tentang kesannya terhadap para tokoh agama yang berbeda-beda itu. Di antara para tokoh agama yang hadir, adalah para biksu yang mudah dikenali. Sebab, mereka mengenakan pakaian khas, yaitu kain berwarna kuning gelap, dan juga rambut mereka dipotong habis, atau gundul.
Para biksu itu menempati tempat duduk dalam satu deretan kursi berjajar. Agak aneh, dalam arti berbeda dibanding tokoh agama lainnya, para biksu itu biasanya tidak banyak berbicara. Pembicaraan mereka tampak terbatas, tidak sebagaimana peserta lainnya. Mungkin itulah cara hidup para biksu, yaitu serba membatasi diri pada hal yang tidak dianggap perlu.
Terkait dengan kehidupan para biksu, saya pernah mendapatkan penjelasan secara langsung dari pimpinan Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada saat itu, saya diundang untuk mengisi kuliah tamu yang diikuti oleh para pimpinan, dosen, dan mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Pada saat itu, saya diberi banyak penjelasan tentang kehidupan para biksu.
Dijelasan bahwa, para biksu sejak awal dididik dan dibiasakan selalu membatasi diri dari kesenangan hidup, seperti makan, pakaian, berbicara, dan lain-lain. Baju yang dimiliki oleh para biksu ternyata hanya cukup dua pasang saja, yakni satu dipakai dan satunya lagi digunakan untuk ganti, jika yang sedang dilekatkan pada badannya sudah kotor dan harus dicuci. Oleh karena itu, para biksu tatkala bepergian, mereka jarang sekali tampak membawa kopor besar.
Dalam berbisik itu, KH Hasyim Muzadi mengatakn bahwa, pada zaman dahulu, para tokoh atau ulama Islam juga memilih hidup sederhana. Tidak ada tokoh Islam yang menampakkan dirinya berlebih-lebihan, sehingga banyak penganut agama lain, atau bahkan mereka yang belum mengenal agama, menjadi bersimpatik, dan akhirnya terpengaruh, dan kemudian masuk Islam.
Para ulama dahulu, ——-masih menurut penjelasan KH Hasyim Muzadi, dalam berdakwah juga selalu mengedepankan akhlak mulia. Namun pada masa kemudian, atau sekarang ini tidak sedikit yang lebih memilih untuk menggunakan pendekatan fiqh atau ilmu kalam, sehingga banyak berdebat. Akibatnya, Islam dikesankan sebagai agama yang terlalu banyak diperdebatkan hanya untuk berebut kemenangan. Bahkan dalam berdebat, akhlak mulia seolah-olah boleh dikesampingkan, atau dibiarkan menjadi hilang.
Sudah barang tentu, apa yang disampaikan oleh KH Hasyim Muzadi tidak menggambarkan semua ulama secara keseluruhan. Masih banyak di antara mereka yang bertahan, dalam berdakwah masih menempuh cara-cara halus sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dulu. Demikian pula, menyangkut kesederhanaannya. Namun, kemuliaan akhlak yang dulu dijadikan pendekatan oleh para tokoh Islam dan nyataya berhasil, ternyata sekarang ini dijalani oleh para biksu. Wallahu a’lam.

0 Komentar untuk "Kehilangan Akhlak Mulia"