BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam dimulai dengan ajaran Muhammad saw., di tempat kelahirannya Mekkah;
sifat-sifat yang menjadi ciri agama baru ini dikembangkan setelah beliau pindah
ke Madinah dalam tahun 622 M. Sebelumnya beliau wafat sepuluh tahun kemudian,
telah jelaslah sudah bahwa Islam bukannya semata-mata merupakan suatu badan
kepercayaan agama pribadi, akan tetapi Islam meliputi pembinaan suatu
masyarakat merdeka, dengan sistem sendiri tentang pemerintahan, hukum, dan
Lembaga Generasi Muslimin pertama, telah menginsafi bahwa Hijrah adalah satu
titik perubahan penting dalam sejarah. Merekalah yang menetapkan tahun 622 M
sebagai permulaan takwin Islam baru.
Dengan pemerintah yang kuat, cerdas, dan satu kepercayaan yang
menggelorakan semangat penganut-penganut dan tentara-tentara dalam waktu yang
tidak lama, masyarakat baru ini menguasai seluruh Arabia Barat dan mencari
dunia baru untuk ditundukkan.
Setelah sedikit kemunduran pada wafat Muhammad saw., gelombang penaklukan
bergerak dengan cepat di Arabia bagian Utara dan Timur, berani menyerang
kubu-kubu pertahanan di perbatasan kerajaan Romawi Timur di Syirq al-Ardun dan
kerajaan Persia di Irak. Selatan. Angkatan-angkatan perang kedua kerajaan
raksasa ini –karena perang tidak henti-hentinya– telah kehabisan kekuatan,
dikalahkan satu-persatu dalam suatu rangkaian operasi cepat dan cemerlang.
Dalam waktu enam tahun sesudah Muhammad saw. wafat, seluruh Siria dan Irak
diharuskan membayar upeti kepada Madinah, dan empat tahun kemudian Mesir
digabungkan pada kerajaan Islam baru.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian agama Islam?
2. Sejarah
perkembangan Islam?
3. Mengapa
terjadinya penjajahan atau kemunduran Islam dijaman modern ini?
4. Apa
saja faktor- faktor penyebab kemunduran Islam?
C.
Tujuan Makalah
1. Mengetahui
pengertian agama Islam.
2. Mengetahui
sejarah perkembangan Islam.
3. Mengetahui
terjadinya penjajahan atau kemunduran Islam dijaman modern ini.
4. Mengetahui
faktor- faktor penyebab keminduran Islam.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Pengertian
Agama Islam
Berdasarkan
ilmu bahasa (Etimologi) kata ”Islam” berasal dari bahasa Arab, yaitu kata
salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari kata itu terbentuk kata
aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, paruh,
dan taat. Sedangkan muslim yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat,
menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah s.w.t
Secara istilah (terminologi),
Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah
kepada manusia melalui seorang rasul. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Islam
merupakan ajaran manusia mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Islam
merupakan ajaran yang lengkap , menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara
kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Islam juga merupakan agama yang
dibawa oleh Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’kub, Nabi Musa, Nabi Sulaiman,
Nabi Isa as. Dan nabi-nabi lainnya.
Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 132, Allah
berfirman :
وَوَصَّىٰ بِہَآ
إِبۡرَٲهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ
ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Artinya :
”Nabi
Ibrahim telah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Nabi Ya’kub, Ibrahim
berkata : Sesungguhnya Allah telah memilih agama Islam sebagai agamamu, sebab
itu janganlah kamu meninggal melainkan dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah, 2:132)
Nabi Isa juga membawa agama
Islam, seperti dijelaskan dalam ayat yang berbunyi sebagai berikut :
فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡہُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِىٓ إِلَى
ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ
وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ
Artinya :
”Maka ketika Nabi Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil)
berkata dia : Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan
agama Allah (Islam)? Para Hawariyin (sahabat beriman kepada Allah, dan
saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah
orang-orang muslim” (QS.
Ali Imran,3:52).
Pengertian Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai.
Pengertian Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai.
Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi
bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh
sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut
sebagai orang Muslim.
Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi
kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah
swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat.
Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan
atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai
makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada
Allah.
Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang
mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa
Islam menurut istilah ( Islam sebagai agama ) adalah agama yang
ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi
Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang
bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan
manusia.
Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama
perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau
persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar
dengan namanya.
Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana
tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak
sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah. Di kalangan masyarakat Barat,
Islam sering diidentikkan dengan istilah Muhammadanism dan Muhammedan.
Peristilahan ini timbul karena pada umumnya agama di luar Islam namanya
disandarkan pada nama pendirinya.
Di Persia misalnya ada agama Zoroaster. Agama ini disandarkan pada nama
pendirinya, Zarathustra ( W.583 SM ). Agama lainnya, misalnya agama Budha,
agama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Sidharta Gautama Budha ( lahir
560 SM ). Demikian pula nama agama Yahudi yang disandarkan pada orang-orang
Yahudi ( Jews ) yang berasal dari negara Juda ( Judea ) atau Yahuda.
Penyebutan istilah Muhammadanism dan Muhammedan
untuk agama Islam, bukan saja tidak tepat, akan tetapi secara prinsip hal
itu merupakan kesalahan besar. Istilah tersebut bisa mengandung arti bahwa
Islam adalah paham Muhammad atau pemujaan terhadap Muhammad, sebagaimana
perkataan agama Budha yang mengandung arti agama yang dibangun oleh Sidharta
Gautama Budha atau paham yang berasal dari Sidharta Gautama.
Analogi nama dengan agama-agama lainnya tidaklah mungkin bagi Islam.
Berdasarkan keterangan tersebut, Islam menurut istilah mengacu kepada agama
yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah swt, bukan berasal dari
manusia/Nabi Muhammad saw. Posisi Nabi dalam agama Islam diakui sebagai orang
yang ditugasi Allah untuk menyebarkan ajaran Islam tersebut kepada umat
manusia. Dalam proses penyebaran agama Islam, nabi terlibat dalam memberi
keterangan, penjelasan, uraian, dan tata cara ibadahnya. Keterlibatan nabi ini
pun berada dalam bimbingan wahyu Allah swt.
Dengan demikian, agama Islam adalah agama yang berasal dari Allah swt.
Agama yang diajarkan dari nabi- nabi terdahulu. Agama islam adalah agama yang
mengajarkan kita berbagai hal. Agama yang menuntun kita ke jalan yang benar.
Hal itu dapat dipahami dari petunjuk ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah
swt.
B. Sejarah Perkembangan Islam
Kemenangan-kemenangan yang mengagumkan, mendahului kemenangan yang lebih
besar lagi akan membawa orang Arab dalam waktu kurang dari satu abad ke Maroko,
Spanyol, Perancis, pintu-pintu kota Konstantinopel, jauh ke Asia Tengah sampai
ke Sungai Indus, membuktikan sifat Islam sebagai suatu kepercayaan kuat, insaf
akan harga diri, dan jaya. Sifat ini mengakibatkan pendirian yang tidak kenal
menyerah dan memusuhi segala yang ada diluarnya, tetapi menunjukkan toleransi,
kesabaran hati yang luas dalam pelbagai masyarakat, keseganan menuntut orang
dari golongan lain, dan kebesaran hati mereka dalam waktu kegelapan.
Pada tahun 660 M. ibu kota Kerajaan Arab dipindahkan ke Damsyik, tempat
kedudukan baru Khalifah Bani Umayah. Sedangkan Madinah tetap merupakan pusat
pelajaran agama Islam; pemerintah dan kehidupan umum kerajaan dipengaruhi oleh
adat-istiadat Yunani Rumawi Timur. Tingkat pertama saling pengaruh-mempengaruhi
dengan peradaban yang lebih tua ini tidak hanya dilambangkan dengan dua buah
monumen, yang indah sekali dari zaman Bani Umayahh ialah Mesjid Raya di Damsyik
dan Mesjid Al-Aqsa di Darusalam, akan tetapi kemunculan tiba-tiba cara
aliran-aliran baru dan pendapat yang berlawanan dengan paham resmi di
“propinsi-propinsi baru.” Akibat paling akhir dari pertumbuhan demikian ialah
perpecahan antara lembaga-lembaga agama dan duniawi dalam masyarakat Islam.
Pembelahan ini merusakkan azas duniawi Bani Umayah, dan ditambah dengan rasa
ketidakpuasan para warga negara bukan Arab, dan pecah perang saudara diantara
suku, Arab, menyebabkan jatuhnya tahun 750 M.
Dalam pada itu, perselisihan tadi menjelaskan bahwa dalam abad yang
lampau sejak wafat Muhammad saw. kebudayaan agama Islam telah mengalami perkembangan
dan konsolidasi yang luar biasa, baik, di dalam maupun di luar Arabia. Seorang
guru agama di satu pihak menunjukkan perkembangan kebatinan pada tingkat
tertinggi. Ia menyatakan inti sari yang penting dan menghidupkan itu dengan
kepribadiannya dan keyakinannya sehingga tampak pada penganutnya sebagai wahyu
kebenaran baru..
Itulah sumbangan asasi yang menentukan dari orang Arab terhadap
kebudayaan Islam baru. Terhadap peradaban materiil sokongan mereka sedikit.
Kemajuan materiil baru mulai; dengan cemerlang setelah Bani Abbas menggantikan
Bani Umayah sebagai khalifah, dan mendirikan ibu kotanya yang baru di Baghdad
dalam tahun 762 M. Masa pertama dari penaklukan wilayah luar Arabia telah
lampau, disusul oleh masa perluasan ke dalam. Abad kesembilan dan kesepuluh
Masehi menyaksikan puncak kemajuan peradaban Islam yang luas dan usaha-usaha
yang berhasil. Kerajinan, perdagangan, kesenian bangunan, dan beberapa kesenian
yang kurang penting, berkembang dengan subur waktu Persia, Mesopotamia, Siria,
dan Mesir, memberikan sokongan mereka dalam usaha serentak.
Kegiatan-kegiatan baru ini menumbuhkan kehidupan intelektual. Sedang ilmu
pengetahuan agama berkembang pada beberapa pusat baru terbesar dari Samarqand
sampai ke Afrika Utara dan Spanyol, kesusasteraan dan pikiran dengan
menggunakan sumber-sumber Yunani, Persia, dan juga India, melebar ke jurusan
baru, seringkali bebas dari tradisi Islam dan banyak sedikitnya memberontak
terhadap kepicikan dan kesempatan sistem kuno. Dengan dorongan perluasan kaki
langit alamiah, kecerdasan pikiran, keduniawian, dan kerohanian, saling
pengaruh mempengaruhi dengan hebatnya.
Sukarlah untuk menyatakan dengan singkat usaha-usaha bidang intelektual
yang bermacam-macam dalam zaman tersebut. “Ilmu pengetahuan Islam” yang lain
seperti sejarah dan ilmu bahasa, melebar hingga meliputi sejarah duniawi dan
kesusasteraan. Ilmu kedokteran dan ilmu pasti Yunani disediakan dalam
perpustakaan buku-buku terjemahan dan dikembangkan oleh sarjana Persia dan
Arab, khusus ilmu Aljabar, ilmu ukur segitiga, dan ilmu optik (penglihatan).
Ilmu bumi –barangkali yang boleh diumpamakan barometer kebudayaan yang paling
cermat– berkembang pada seluruh cabangnya, di bidang politik, organik,
matematik, astronomik, ilmu alam, dan pesiar, meluas demikian jauh hingga
meliputi negara-negara dan peradaban bangsa yang jauh letak kediamannya.
Ilmu pengetahuan baru tersebut, boleh dikatakan hanya mengenai
jumbai-jumbai, pinggiran kebudayaan agama, pemasukan ilmu mantik, dan filsafat
Yunani, mau tidak mau menumbuhkan perselisihan paham yang tajam dan pahit.
Pertikaian ini memuncak dalam abad ketiga. Para pemimpin Islam melihat
dasar-dasar kerohanian dibahayakan oleh keingkaran halus dan cerdik paham
rasionalisme murni. Walaupun mereka akhirnya mengalahkan pelajaran yang berpengaruh
Yunani, ilmu filsafat selalu tetap harus dicurigai dalam pandangan para alim
ulama, biarpun ilmu tadi hanya dipelajari sebagai alat perbantahan dan
pembahasan. Lebih berbahaya ialah akibat kemenangan yaitu pertumbuhan dalam
kalangan ahli agama, semacam perasaan iri hati terhadap usaha para intelektual
yang bercorak murni keduniawian ataupun yang memberanikan diri ke luar dari
bidang pengawasan mereka.
Selain keutamaan segi intelektual dan fungsi dalam pelajaran, syariat
ialah alat yang paling luas pengaruhnya dan paling tepat membentuk ketertiban
sosial dan kehidupan masyarakat bagi bangsa-bangsa Islam. Oleh karena
lengkapnya, maka syariat memberi tekanan yang tidak hentinya pada segala
kegiatan pribadi dan sosial, dan mewujudkan suatu ukuran-baku yang harus dianut
lebih lama, meskipun ada rintangan kebiasaan kuno dan adat-istiadat yang telah
berlaku lama. Khusus suku nomad dan suku yang diam di pegunungan, berlawanan.
Tambahan pula, syariat memberikan pernyataan praktis dalam memperjuangkan persatuan
yang menjadi ciri Islam. Hukum tadi dalam segala pokok yang penting adalah
seragam, walaupun pelbagai mazhab berbeda dalam beberapa pasal kecil.
Pertumbuhan ini disebabkan karena cita-cita sosial dan cara hidup di seluruh
dunia Islam dalam abad pertengahan menuju arah yang sama. Syariat lebih dalam
mempengaruhi kehidupan hukum Rumawi; karena memiliki landasan agama dan ancaman
hukuman Tuhan, maka syariat adalah pengatur rohani merupakan suara hati umat
Islam dalam semua segi dan kegiatan kehidupannya.
Tugas hukum syariat ini bertambah besar artinya waktu kehidupan politik
dunia Islam lebih lama menyimpang dari keinginan Muhammad saw. dan
pengganti-pengganti beliau yaitu pemerintahan berdasarkan ketuhanan. Keruntuhan
khalifah Bani Abbas dalam abad kesembilan dan kesepuluh Masehi membuka pintu
tidak hanya bagi kehancuran politik, tetapi juga bagi perebutan kekuasaan
kerajaan oleh pangeran-pangeran setempat dan gubernur militer, terbit dan
tenggelamnya kerajaan-kerajaan yang berumur pendek, dan berkobarlah perang
saudara. Bagaimanapun hebatnya kekuatan politik dan militer kerajaan Islam itu
telah dilemahkan, gengsi moral hukum syariat lebih dijunjung dan dapat
mengutuhkan serta mengukuhkan bentuk sosial Islam sepanjang pasang surut nasib
politik Islam.
Pada akhir, abad kesepuluh Masehi, daerah Islam sedikit lebih luas
dibandingkan pada tahun 750. Semenjak diciptakan suatu peradaban besar,
memuncak kehidupan intelektual, kaya dan cerdas dalam bidang ekonomi,
dipersatukan dengan kukuh oleh syariat yang dihormati; seluruhnya merupakan
penjelmaan kekuasaan Islam rohani dan duniawi. Waktu kekuatan militernya
berkurang, maka sebagaimana juga. terjadi dengan kerajaan Rumawi enam abad
sebelumnya, kerajaan Islam berangsur-angsur dikuasai oleh bangsa-bangsa biadab
dari luar perbatasannya; dan juga seperti kerajaan Rumawi, mengenakan pada
bangsa biadab tadi agamanya, hukumnya, dan penghormatan terhadap peradabannya.
Bangsa-bangsa biadab itu ialah Turki yang berasal dari Asia Tengah.
Tekanan ke arah Barat membawa orang Bulgar, Magiar, Kumari, Pecineg ke Rusia
Selatan dan Eropa Timur, mendatangkan suku-suku lain ke Iran dan lebih ke
Barat, ke Irak, dan Anatolia. Pekerjaan pengislaman telah dilakukan, waktu
mereka masih diam di tempat asalnya di Asia Tengah; oleh karena itu, kerajaan
Sultan Turki yang didirikan di Asia Barat mula-mula hanya membawakan sedikit
perubahan yang tampak ke luar dalam kehidupan rumah tangga umat Islam. Akibat
pertama adalah perluasan militer; ke arah Tenggara menuju India Utara, ke arah
Barat Laut menuju Asia Kecil. Pada waktu yang sama, jauh di sebelah Barat, suku
Berber nomad telah membawa Islam, ke tepi dunia Afrika Negro di daerah lembah
Senegal dan Niger sedang buku-buku Arab nomad yang tidak diawasi lagi oleh
kekuasaan khalifah yang terdahulu telah merusakkan dan melengahkan pusat
peradaban yang telah didirikan oleh bangsanya sendiri sebelum di atas puing
runtuhan Afrika Romawi dan Bizantium.
.Mulai abad kesebelas Masehi, ilmu Sufi mengerahkan kebaktian sebagian
besar kegiatan kerohanian umat Islam, dan mendirikan suatu sumber pembaharuan
kepribadian yang sanggup mempertahankan tenaga kebatinan selama abad-abad
sesudahnya penuh dengan kemerosotan politik dan perekonomian.
Para ahli Sufi, baik sebagai penyiar perseorangan maupun (di kemudian
hari) sebagai anggota dalam gabungan tarekat merupakan pemimpin dalam tugas
mengislamkan orang penyembah berhala, yang tidak beragama, dan suku yang hanya
tipis sekali pengislamannya. Penyebaran agama berhasil ialah terbanyak oleh
kawan sebangsa sendiri dari suku-suku tersebut yang biasanya kikuk, buta huruf,
dan kasar. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar yang memungkinkan generasi
kemudian menerima keadaban hukum syariat dan tauhid yang lebih halus. Berkat
pekerjaan mereka, maka dalam abad-abad berikutnya, batas-batas daerah Islam
dapat diperluas di Afrika, India, dan Indonesia, melintangi Asia Tengah ke
Turkestan dan Tiongkok, dan di beberapa bagian Eropa Tenggara
Perkembangan yang digambarkan di muka tadi dipercepat oleh malapetaka
yang berturut-turut terjadi di Asia Barat dalam abad ketiga belas dan keempat
belas. Penyerbuan pertama kaum Mongol penyembah berhala, membumihanguskan
propinsi-propinsi bagian Timur Laut antara 1220 dan 1225 M. Gelombang kedua
yang menduduki Persia dan Irak menamatkan khalifah Baghdad yang bersejarah
dalam 1258 M, dan memaksakan seluruh dunia Islam Timur, terkecuali Mesir,
Arabia, dan Siria, membayar upeti kepada kerajaan Mongol yang besar.
Sisa-sisanya diselamatkan oleh golongan militer terdiri dari “budak belian”
Turki dan Kipcak, kaum Mamluk, yang telah merebut kekuasaan politik di Mesir.
Di bawah pemerintahan Mamluk, peradaban Islam yang lama langsung
berkembang lebih kurang dua setengah abad dalam bidang kesenian benda (istimewa
dalam lapangan seni bangunan dan seni-kerajinan logam), tetapi disertai
kemunduran daya kerohanian dan intelek.
Pada waktu yang sama, di daerah-daerah kekuasaan Mongol hidup kembali
suatu peradaban Islam Persia yang cemerlang pada beberapa segi. Terutama dalam
seni bina dan kesenian halus, termasuk seni lukis dalam bentuk yang sangat
kecil (miniatur); kebudayaan tersebut berakar dalam kerohanian Sufi. Meskipun
kedatangan dua kali “Maut Hitam” dan mengalami serbuan Timur Lenk dalam abad
keempat belas yang menghancurleburkan Persia, namun kebudayaan Persia mampu
memberikan ragam kepada kehidupan intelektual dari kerajaan-kerajaan Islam
baru, –yang dilahirkan pada kedua sisinya– di Anatolia, Balkan, dan India.
Perluasan kerajaan Dinasti Osman di Asia dan Afrika Utara serta
pembentukan kerajaan Mughal di India dalam abad keenam belas membawa sebagian
besar dunia Islam kebawah pengawasan pemerintahan negara keduniawian yang kuat,
memusatkan kekuasaannya yang besar. Ciri khas kedua kerajaan tadi ialah
menitikberatkan pada pandangan ahli sunah waljamaah dan hukum syariat. Urusan
agama dan urusan ketatanegaraan tidak dipersatukan karena kebijaksanaan militer
dan sipil disusun menurut garis tidak Islam yang bebas, tetapi dapat saling
menyokong akibat suatu persetujuan yang berlangsung hingga abad kesembilan
belas.
Diantara dua saluran kehidupan agama Islam tersebut, saluran Sufilah yang
lebih lebar dan dalam. Abad ketujuh belas dan permulaan abad kedelapan belas
menyaksikan puncak tertinggi tarekat Sufi. Tarekat-tarekat besar menyebarkan
suatu jalinan perhimpunan-perhimpunan dari mula hingga akhir dunia Islam,
sedang perkumpulan-perkumpulan setempat dan cabang-cabangnya menggabungkan
anggota pelbagai golongan dan kejuruan jadi umat yang bersatu padu. Selain itu,
kebudayaan Islam dalam dua kerajaan tersebut yang hanya hidup atas warisan
zaman silam, dapat memelihara, akan tetapi jarang dapat menambah kekayaan
warisan intelektual tersebut. Tokoh-tokohnya berpendapat bahwa kewajibannya
pertama ialah bukan hanya memperluas, akan tetapi memelihara, menyatukan, dan
menyesuaikan kehidupan sosial atas sendi-sendi nilai Islam. Dalam batas-batas
tersebut kadar persatuan yang telah mereka capai, dan ketertiban sosial yang
dapat dilangsungkan memang menarik perhatian.
Persatuan itu merupakan suatu kekecualian yang menyolok mata. Dalam
permulaan abad keenam belas, suatu kerajaan baru yang disokong oleh suku Turki
dan Adzerbaijan menaklukan Persia dan menghidupkan kembali Syiah yang telah
mengalami kemunduran, dan meresmikan Syiah sebagai agama resmi Persia. Selama
peperangan dengan Dinasti Osman, orang Turki dari Asia Tengah, dan orang
Mughal, yang semuanya ahli sunah waljamaah, Syiah dijadikan ciri perasaan
nasional Persia. Akibat perpecahan antara Persia dan tetangganya penting buat
semuanya. Umat Islam selanjutnya dipecah menjadi dua golongan yang terpisah,
dan hubungan kebudayaan antara dua golongan tadi, sejak itu meskipun tidak
diputuskan seluruhnya hanya dapat dilakukan serba sedikit saja. Persia terpaksa
terpencil dalam urusan politik dan agamanya mencukupi kebutuhannya sendiri, yang
akhirnya memiskinkan kehidupan rohani dan budaya mereka. Lebih-lebih pula waktu
kekuatan politiknya mundur, orang suku Afghan dalam abad kedelapan belas
melepaskan hubungan dan mendirikan suatu negara sunah merdeka.
Di Afrika Barat Daya adanya perasaan kesukuan diantara kedua pihak, orang
Arab dan Berber, menukarkan kegiatan kebudayaan. Aliran ortodoks dan tarekat
Sufi, keduanya dipengaruhi pemujaan orang-orang suci, wali yang masih hidup
setempat (“marabout”). Di Tunisia dan di beberapa kota lain, sebagian warisan
kebudayaan Spanyol Arab tetap dilanjutkan, bahkan waktu Tunisia dan Aljazair
merupakan wilayah bajak laut, setengah jajahan kerajaan Dinasti Osman. Di
Maroko di bawah sultan-sultan (yang dapat menyelamatkan kedaulatannya hingga
1912), bahkan di Sahara Barat di bawah kepala suku-suku yang lebih kecil,
pelajaran ahli sunah yang lazim dilanjutkan, dan diperkuat oleh pengaruh yang
datang dari daerah Timur.
Di kepulauan Melayu sendiri, Islam telah beroleh tumpuan di Sumatera dan
Jawa, oleh pedagang-pedagang dalam abad ketiga belas dan keempat belas. Agama
Islam lambat laun membiak, sebagian hasil tindakan panglima militer, tetapi
lebih cepat dengan jalan perembesan damai, khusus di Jawa. Dari Sumatera, Islam
dibawa oleh para perantau ke Semenanjung Malaya; juga dari Pulau Jawa ke
Maluku. Sejak itu agama tersebut mendapat kedudukan yang lebih kuat di seluruh
kepulauan di bagian Timur hingga ke Pulau Sulu, Mindanao, dan Filipina.
Penyebaran Islam di Tiongkok hingga kini masih terselubung dalam kegelapan.
Kelompok muslimin dalam jumlah agak besar, yang pertama menetap di sana
–barangkali dalam zaman kerajaan Mongol– dalam abad ketiga belas dan keempat
belas. Jumlahnya bertambah besar di bawah pemerintah Mancu, biarpun ada
perasaan permusuhan setempat karena pemberontakan (kadang-kadang hebat) yang
dilakukan oleh kaum muslimin. Tetapi, hingga kini tidak mungkin menaksirkan
jumlahnya.
Islam
di Amerika Serikat Tiap Hari Bertambah Satu Mualaf
”Alhamdulillah kondisi umat Islam di Amerika Serikat baik-baik saja. Umat
Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat, baik sebelum maupun sebelum
peristiwa 11 September,” kata Mohammad Kudaimi, angota Nawawi Fondation, sebuah
lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat. Ia bertutur
kepada Republika di sela-sela kunjungannya ke Pesantren Khusus Yatim
As-Syafi’iyah, Jatiwaringin Bekasi, Jawa Barat, awal bulan ini.
Pria keturunan Syria yang sudah menetap di AS selama lebih dari 25 tahun
itu kini menjadi warga negara AS. Lima tahun belakangan ini, ia aktif di
yayasan itu. Mengutip sebuah koran yang terbit di AS, ia menyebut Islam
merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Amerika Serikat. bahkan,
ia sedikit meralat redaksional tulisan itu. ”Mestinya juga ditambahkan, setiap
harinya di AS, selalu ada warga negara Amerika yang memeluk Islam,” ujarnya.
Apa yang diungkapkannya, kata dia, adalah fakta sesungguhnya yang terjadi
di AS. Lembaganya turut membantu para mualaf mengikrarkan syahadat dan membantu
mereka memahami Islam dengan lebih baik. Bagi Kudaimi, sulit untuk memahami
fenomena kontradiktif ini.
C. Terjadinya
Penjajahan Dan Kemunduran Islam
Kenapa umat Islam saat ini mundur, sementara umat lainnya justru
mengalami kemajuan? Syaikh Al-Amir Syakib Arsalan, dalam bukunya, “Mengapa
Ummat Islam Mundur dan Ummat Selainnya Maju?” memberi penjelasan yang sesuai
dengan syariat Islam. Menurutnya, sebab pertama kenapa ummat Islam mundur
adalah karena ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat
dalam Al Qur’an dan Hadits. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia
dunia dan akhirat.
Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu
berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu
kitab Allah dan Sunnah Rasul.” (hadits)
Ditambah lagi Al-Qur’an: “Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya
kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqon: 30).
Ibnu Taimiyyah mengatakan, barang siapa tidak membaca Al Quran maka di
telah menjauhi Al Quran, dan barang siapa yang membacanya tapi tidak pernah
merenungkan isinya, maka dia telah menjauhi Al Quran, dan barang siapa yang
membaca lalu merenungkan isinya tapi tidak pernah mengamalkannya, maka dia
telah menjauhi Al Quran pula.”
Di dalam kitab suci ini, begitu banyak ajaran yang jika dilaksanakan akan
bermanfaat bagi umat Islam. Namun, sayangnya saat ini umat Islam
mengabaikannya, bahkan tidak merasa terbakar amarahnya ketika ada sekelompok
orang yang sengaja membakar Kalamullah yang mulia ini.
Saat ini boleh dikatakan ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal
dibanding umat-umat beragama lainnya. Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40
juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil
Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam, yang katanya, berjumlah 1,2
milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.
Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi
dan menguasai negara-negara Islam secara ekonomi dan politik. Mereka mampu
membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal
terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan
bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet
Saturnus.
Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan
membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh
ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru
bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.
Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700
tahun ummat Islam begitu maju menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate,
India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga
Spanyol.
D. Faktor-
Faktor Penyebab Kemunduran Islam
Kesadaran terhadap adanya musuh membuat kita semakin peka terhadap apa
yang sebenarnya terjadi dan saat itulah kita akan terbebas dari tipu daya atau
paling tidak kita mampu mengantisipasi tipu daya yang mungkin terjadi pada diri
kita yang akan mencelakakan kita. Salah satu di antara permasalahan yang paling
penting untuk disadari oleh umat Islam khususnya pada saat sekarang ini adalah
tentang ghozwul fikri (perang pemikiran) yakni suatu inovasi pemikiran atau
suatu gerakan yang sangat hebat dalam persoalan pemikiran.
Penting kita melihat bagaimana sebenarnya kondisi umat Islam sekarang
ini. Banyak sekali kemunduran-kemunduran, khususnya pada abad-abad terakhir
ini. Setelah umat Islam dimasa-masa kejayaannya pertama dimasa Rasulullah saw,
kemudian masa para sahabatnya. Dilanjutkan para tabiin dan tabiit tabiin sampai
7 abad berikutnya. Sampai kemudian dilanjutkan lagi dengan peradaban di
Andalus.
Jika kita melihat pada kehebatan umat Islam saat itu, lalu mengapa saat
ini umat Islam justru mengalami anti klimaks yang sangat merugikan umat Islam
itu sendiri. Ini bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, apalagi
mempermasalahkan Allah swt dengan mengatakan bahwa ini adalah takdir. Oleh
karena itu penting sekali kita mencoba mengevaluasi, merenungkan, mencari
sebab-sebab apa sajakah yang mengakibatkan kemunduran kaum muslimin ini.
Diantara faktor-faktor tersebut adalah :
1. Akibat
jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan As Sunnah.
Kitabullah dan sunnah rasul-Nyalah yang akan mengangkat harkat dan
martabat suatu bangsa. Dengannya Allah swt meneguhkan keyakinan kaum muslimin
dalam melawan musuh-musuhnya. Dengannya pula Allah mengangkat suatu kaum dan
merendahkan kaum yang lain.
Jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya merupakan salah
satu yang mengakibatkan umat Islam kini mempunyai konsep diri yang buruk
sekali. Lihatlah hari ini !. berapa banyak anak-anak kita pada umur 9 tahun
sudah hafal alquran. Jangankan menghafal, membacanyapun masih sangat jarang.
Berapa banyak anak-anak kita yang paham bahasa alquran ?. Hanya untuk belajar
matemataika, bahasa inggris dan ilmu umu lainnya kita rela untuk mengkursuskan
anak-anak kita, sedangkan untuk bahasa arab hampir tidak terpikirkan.
Maka benar apa yang disampaikan nabi
kita Muhammad saw dalam hadistnya :
عَنْ عَلِي
بن أَبِي طَالِب ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ
يَبْقَى مِنَ الْإِسْلاَمِ إِلاَّ اِسْمُهُ ، وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ
إِلاَّ رَسْمُهُ ، مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خِرَابٌ مِنَ الْهُدَى ،
عُلَمَاؤُهُمْ شَرٌّ مِنْ تَحْتِ أَدِيْمِ السَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ
الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ »
Dari Ali bin
abi Tholib ra berkata, bersabda Rasulullah saw : Akan datang pada ummatku suatu
zaman, yang tidak tersisa dari dari islam kecuali namanya, dan tidak tersisa
dari alqur’an kecuali tulisannya, masjid mereka ramai akan tetapi sepi dari
petunjuk, ulama mereka sejelek-jelek manusia dikolong langit, darinya keluar
fitnah dan kepada mereka fitnah tersebut kembali. (HR.
Baihaqi)
2. Taklid
(ikut-ikutan).
Karena umat tidak punya nilai, tidak memiliki prinsip-prinsip yang sangat
berharga sebagaimana yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, akhirnya yang
mereka lakukan adalah mencari nilai dari orang lain. Kalau sudah demikian yang
terjadi, maka mereka akan mengikuti apa saja sesuai dengan kebiasaan orang
lain. Akibatnya adalah ikut-ikutan. Ini yang pernah diantisipasi oleh
Rasulullah saw, dalam haditsnya
عَنْ أَبِى
سَعِيدٍ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ «
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ،
حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » . قُلْنَا يَا
رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Sungguh
kalian akan mengikuti cara-cara Sunan, gaya-gaya orang-orang sebelum kalian
satu jengkal, satu hasta, satu depa, secara bertahap sehingga sampai mereka
memasuki lubang biawak sekalipun kalian akan mengikutinya”. Para sahabat
bertanya, ”Yahudi dan Nasrani?”. Jawab Rasul, ”Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR.
Bukhori)
Antisipasi ini nampaknya sudah terasa dimasa sekarang. Penyebabnya adalah
umat ini telah kehilangan nilai, prinsip dan tidak punya paradigma dalam hidup
serta konsep hidup tidak jelas. Padahal dalam Qur’an dan Sunnah sangat kaya
dengan seluruh prinsip kehidupan manusia.
3.
Terjadinya perpecahan di kalangan umat.
Banyaknya organisasi-organisasi dan partai-partai umat Islam yang
diakibatkan karena umat sekarang ini tidak punya nilai konsep persatuan dan
kesatuan fikroh pemikiran, dan akidah. Semua merasa dirinya benar dan tidak
bersikap dewasa. Yaitu sikap bahwa antara gerakan yang satu membutuhkan gerakan
yang lain.
4. Adanya
pertempuran antara haq dan bathil .
Salah satu pelajaran berharga bagi umat Islam adalah “Perang Salib”, yang
menggunakan berbagai dimensi pertempuran, politik, ekonomi, dan perang di
tataran keagamaan. Musuh-musuh Islam menggunakan berbagai macam cara, mereka
itu dari berbagai macam kelompok yaitu orang-orang yang tidak beragama, atheis,
yahudi, musyrikin, nasrani dan munafik. Imam syafi’I dalam tafsir Ibnu katsir
di akhir surat al kafirun menyatakan : apapun jenisnya kekufuran itu merupakan
satu pokok ajaran. Mereka bersatu padu untuk membangun satu kesepakatan dan konspirasi
yang selanjutnya mereka menggunakan berbagai macam sarana.
Akan tetapi Allah Ta’ala akan
menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak senang. Allah Ta’ala
berfirman :
يُرِيدُونَ
لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَافِرُونَ {8} الصفّ
Mereka ingin
memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. [QS As
Shoff : 8]
Pada akhirnya, dengan seluruh sarana itu umat Islam digiring menjadi
kelompok yang tertindas. Pada saat umat ini merasakan titik bawah dalam
kehidupan, kehilangan kepercayaan diri, saat itulah mereka punya peluang untuk
dimurtadkan. Perang pemikiran ternyata merupakan langkah pertama yang utama dalam
pertempuran antara haq dan bathil.
Banyak teori-teori sekarang ini yang menjauh dari nilai-nilai Islam,
teori yang terkait dengan kemanusiaan, seperti ekonomi politik, sosial budaya
atau psikologi. Karena kita tidak memiliki kekuatan prinsip nilai-nilai Islam,
tidak memiliki paradigma teori yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah
Rasulullah saw, pada akhirnya kita semua mengikuti seluruh teori-teori itu
tanpa sedikitpun kita menyeleksi, akibatnya persepsi kita berubah. Cara
berfikir kita juga berubah, umat Islam tidak lagi mencerminkan cara berfikir
yang islami, sehinga emosi umat Islam pun tidak memiliki emosi yang islami.
Sebagai jalan keluar dari semua itu adalah mengembalikan seluruh
permasalahan kepada al quran dan as sunnah dengan pemahaman salaf. Sebagaimana
perkataan imam malik rahimahullah :
لَنْ
يَصْلُحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّة إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Generasi
akhir ummat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah
mengantarkan kejayaan generasi awal”
artinya, jauh dekatnya kita dengan
pemahaman para salaf akan mempengaruhi kuat dan tidaknya ummat islam ini.
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk mengembalikan kembali kejayaan
islam.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
ilmu bahasa (Etimologi) kata ”Islam” berasal dari bahasa Arab, yaitu kata
salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari kata itu terbentuk kata
aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, paruh,
dan taat. Sedangkan muslim yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat,
menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah s.w.t
Adapaun
factor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemunduran islam yaitu sebagai
berikut :
1. Akibat jauhnya umat Islam
dari Kitabullah dan As Sunnah.
2. Taklid
(ikut-ikutan).
3.
Terjadinya perpecahan di kalangan umat.
4. Adanya
pertempuran antara haq dan bathil .
B.
Saran
Penulisan makalah ini
tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu kritik dan saran
yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini sangatlah diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
·
Anonim."Kumpulan-kumpulansejarah".http://pandri-16.blogspot.com /2012/02/ sejarah-awal-berdiri-negara-iran.html. (diakses tanggal
29 0ktober 2012).
·
Anonim."Pusat-pusat Peradaban Islam: Isfahan(Persia)".http://ajiraksa.blogspot.com/2012/02/pusat-pusat-peradaban-islam-isfahan.html.(diakses
tanggal 29 0ktober 2012).
·
Anonim."Islam".http://vieislam.blogspot.com/2011/01/peradaban-islam-di-persia.html.(diakses
tanggal 29 0ktober 2012).
·
Anonim."Bangsa Persia".http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_persia.(diakses
tanggal 29 0ktober 2012).
·
Anonim."Tokoh Sejarah
Dunia".http://tokohsejarah.blogspot.com/2009/10/cyrus-yang-agung-590-sm-529-sm.html.(diakses
tanggal 29 0ktober 2012).
·
Anonim."Sekilas Tentang Bangsa Persia".http://kajiantimurtengah.wordpress.com/2010/12/06/sekilas-tentang-bangsa-persia/.(diakses
tanggal 29 0ktober 2012).
·
Yatim, Badri.2008.SEJARAH PERADABAN ISLAM Dirasah Islamiyah
II.Jakarta:Rajawali Pers.
0 Komentar untuk "MAKALAH KEMUNDURAN DAN PENJAJAHAN ISLAM : MODERN"