MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM
MAKALAH MASA KHULAFAUR RASYIDIN
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Setelah
mengalami kejayaan di saat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, pada tahun ke 11 H
Nabi Muhammad meninggal dunia tanpa memilih pemimpin umat Islam setelah kepemimpinan
beliau. Hal ini menyebabkan perbedaan pendapat dari kaum muslimin. Nabi
Muhammad SAW merupakan nabi akhiruzzaman yang merupakan nabi terakhir utusan
Allah SWT sehingga tidak ada lagi nabi utusan Allah selanjutnya. Masalah ini akhirnya
diserahkan kepada musyawarah umat Islam. Masa setelah Rasulullah SAW. wafat
dikenal dengan nama masa Khulafaur Rasyidin.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian Khulafaur Rasyidin?
2.
Siapa saja yang menjadi khulafaur rasyidin dan bagaimana cara pemilihan nya?
3.
Bagaimana sistem politik, pemerintahan, dan bentuk negara pada masa khulafaur
rasyidin?
1.3 Tujuan
1.
Menjelaskan pengertian dari khulafaur rasyidin.
2.
Menjelaskan seorang khulafaur rasyidin serta cara pemilihannya.
3.
Menjelaskan sistem politik, pemerintahan, dan bentuk negara pada masa khulafaur
rasyidin.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Khulafaur Rasyidin
Khulafaur rasyidin adalah pecahan dari kata Khulafa’ dan Al-Rasyidin,
Kata Khulafa’ mengandung pengertian : cerdik, pandai, dan
pengganti. Sedangkan kata, Al Rasyidin mengandung pengertian
: Lurus, Benar dan Mendapat petunjuk.
Khulafaur
rasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk
menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat tetapi bukan sebagai
nabi atau pun rasul. Khulafaur Rasyidin juga
dapat diartikan sebagai pengganti yang cerdik dan benar serta para pemimpin
pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang sangat adil dan
bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnya senantiasa pada
jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT”. Pedoman
yang dijadikan pegangan untuk memimpin islam adalah Al-Quran dan Sunah
Al-Hadits.
2.2 Nama-Nama Khulafaur
Rasyidin dan Masa Pemerintahannya
A. Khalifah Abu Bakar (11-13
H/632-634 M)
v Pembaiatan
Abu Bakar sebagai khalifah.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW,
muncul masalah baru tentang siapa yang akan menggantikan Rasulullah Muhammad
SAW yaitu masalah pemakaman Rasulullah SAW dan pemimpin umat Islam setelah
meninggalnya beliau. Nabi Muhammad SAW tidak berwasiat tentang siapa yang akan
menggantikannya sebagai khalifah. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat sejumlah
tokoh Muhajirin, Anshar, dan Bani Abbas yang masing-masing berpendapat bahwa
dari golongan merekalah yang lebih tepat untuk menjadi seorang khulafaur
rasyidin menggantikan Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pemimpin..Mereka
berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah untuk bermusyawarah. Dalam
musyawarah itu masing-masing golongan tetap bersikukuh terhadap pendapat mereka
karena sama-sama merasa calonnya berhak memimpin umat islam. Kaum Anshar
menekankan pada kriteria jasa yang disumbangkan bagi umat Islam. Mereka mencalonkan
Sa’ad bin Ubadah, Kaum Muhajirin menekankan aspek kesetiaan dan perjuangan pada
masa awal perkembangan Islam di Mekkah hingga Madinah. Maka mereka mencalonkan
Abu Ubaidah bin Jarah, sedangkan Bani Abbas mencalonkan Ali bin Abi Thalib
dengan alasan jasa, kedudukan, dan statusnya sebagai anak angkat sekaligus
menantu Rasulullah SAW.
Ketika terjadi perdebatan tersebut Abu Bakar berdiri
dan berpidato bahwa khalifah merupakan hak bagi kaum Quraisy karena kaum
muhajirin telah masuk Islam lebih dahulu dan lebih lama bersama Rasulullah. Khutbah
Abu Bakar ini dikenal dengan Khutbah Hari Tsaqifah. Setelah itu diputuskan
empat calon Khalifah, yaitu Sa’ad bin Ubadah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Umar bin
al-Khaththab, dan Abu Bakar. Namun Umar bin Khathab dan Abu Ubaidah tidak
bersedia menjadi pesaing Abu Bakar sehingga seakan-akan pencalonan itu hanya
terjadi di antara Abu Bakar dan Saad bin Ubadah saja.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskanlah Abu Bakar Ash Siddiq
sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW.
Alasan-alasan ditunjuknya Abu Bakar
Ash Shiddiq sebagai khalifah adalah sebagai berikut :
1. Abu
Bakar adalah seorang mukmin yang jujur, patuh dan setia kepada Nabi SAW semasa hidupnya.
2. Beliau
termasuk orang yang paling awal masuk Islam setelah kenabian Nabi Muhammad SAW.
3. Beliau
adalah orang yang menemani Nabi SAW dalam perjalannya hijrah ke Madinah.
4. Beliau
menikahkan Nabi SAW dengan putrinya: Aisyah, sepeninggal istri Nabi yang
pertama.
5. Beliau
tidak pernah absen dari peperangan-peperangan kaum muslimin.
6
Beliau pada tahun ke-9 Hijriah di jadikan wakil oleh Nabi untuk memimpin
jama’ah haji dari Madinah ke Makkah.
7. Beliau
juga sering dijadikan sebagai imam dalam setiap shalat jama’ah sebagai wakil
Nabi SAW.
Sebelum
pembai’atannya, Umar bin Khattab berpidato dan dalam pidatonya,ia berkata,”Kalian
tahu bahwa Abu Bakar adalah sebaik-baik sahabat nabi dan sahabat beliau dalam
gua, karena itu bangkitlah kalian dan segera berikan bai’at kepadanya.” Dan
bai’at tersebut dilakukan secara umum tepat sehari setelah majlis di Tsaqifah
Bani Sa’idah.
v Masa
Pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
Masa
pemerintahan Khalifah Abu Bakar berkisar 2 tahun 3 bulan. Walaupun berjangka
pendek masa pemerintahanya penuh dengan perbuatan-perbuatan yang agung.
Masa
awal pemerintahan Abu Bakar diwarnai kekacauan dan pemberontakan seperti
suku-suku arab tidak mau lagi tunduk di bawah kepemimpinan pusat di Madinah.Sehingga
diawal pemerintahannya muncul tiga golongan yaitu:
a.Golongan pertama menyatakan dirinya keluar
dari Islam (Murtad)
b.Golongan kedua yaitu golongan yang tidak
puas dengan Islam, mereka menganggap
karena pemimpinnya sama dengan para budak. Maka muncul Musailamah Al Kazzab
dari bani Hanifah di yamamah., Sajah dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari
yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid dari Bani Asad. mereka ini mengaku dirinya
sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
c.Golongan ketiga adalah mereka yang salah memahami
ayat – ayat Al – Qur’an, mereka mengatakan bahwa yang berhak memungut zakat
adalah Nabi, untuk itu setelah Nabi wafat maka tidak seorang pun yang berhak
memungut zakat.
Menghadapi golongan – golongan
ini Abu bakar setelah bermusyawarah dengan sahabat – sahabat lainnya mengambil
tindakan tegas yaitu disebut Perang Riddah / perang melawan kemurtadan.Beliau
membentuk pasukan yang dibagi ke dalam 11 batalion. Sebelum Pasukan itu
dikerahkan kenegeri masing-masing, Khalifah Abu bakar terlebih dahulu
mengirimkan surat kepada golongan-golongan itu agar mereka kembali ke
Islam. Namun sebagian besar mereka tetap bersikeras, maka pasukan ini pun
dikerahkan , dan dalam waktu yang relative singkat , pasukan Abu Bakar telah
sukses dengan gemilang. Dengan suksesnya pasukan Khalifah Abu Bakar ini , maka
keadaan Negara Arab tenang kembali.
Dalam menghadapi gelombang Riddah
dari kalangan muslimin banyak yang para penghafal al-Qur’an yang tewas. Melihat
hal ini Umar ibn al-Khattab cemas jika angka kematian itu bertambah yang
berarti beberapa bagian lagi dari al-Qur’an akan hilang. Oleh karena itu, ia
menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu kumpulan al-Qur’an (membukukan).
Mulanya Abu Bakar agak ragu untuk melakukan tugas itu karena tidak menerima
otoritas dari Nabi SAW, tetapi pada akhirnya Ia memberi persetujuan dan
menugaskan Zaid ibn Tsabit untuk mengumpulkan Al Qur’an, karena beliau paling
bagus hafalannya.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah
Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq
dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi
di bawah pimpinan empat panglima yaitu Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Amr ibnul
'Ash, Yazid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh
Usamah ibn Zaid yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini,
Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang
jarang dijalani, ia sampai ke Syria.
Secara
garis besar selama 2 tahun memegang tampuk
kepemimpinannya umat Islam sampai wafat, Abu Bakar berhasil melaksanakan
program kondisi untuk memantapkan stabilitas di bidang politik, ekonomi, sosial
dan keagamaan. diantaranya seperti:
1. Menggerakkan
aksi-aksi penumpasan gelombang Riddah
2. Membasmi
gerombolan-gerombolan penjahat di luar kota
3. Memadamkan gerakan-gerakan
yang menghasut pembangkangan terhadap kewajiban
mengeluarkan zakat.
4. Penumpasan
terhadap oknum-oknum yang mengaku sebagai Nabi baru 5. Operasi-operasi pemulihan keamanan
dan ketertiban di daerah-daerah Oman dan Hadramaut.
v Wafatnya
Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
Tatkala
Abu Bakar merasa bahwa kematiannya telah dekat dan sakitnya semakin parah. Beliau
ingin memberikan kekhalifahan kepada seseorang agar diharapkan tidak terjadi
konflik,maka jatuhlah pilihannya kepada Umar bin Khattab atas persetujuan serta
pertimbangan sahabat-sahabat senior dan mereka pun mendukungnya. Beberapa hari
setelah itu Abu Bakar meninggal, ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 13
H/634 M. Beliau meninggal antara waktu maghrib dan isya’, tepatnya senin 8
jumadil akhir tahun 13 Hijriah.Beliau wafat berusia 63 tahun dan jenazahnya
dimakamkan malam hari di rumah Aisyah, disamping makam Rasulullah SAW.
B. Khalifah Umar bin
Khattab (13-23 H/634-644 M)
v Pembaiatan
Umar bin Khattab sebagai khalifah
Umar
bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza beliau dari Bani Adi bin Ka’ab.Beliau adalah
pahlawan Quraisy dan salah seorang pemimpinnya yang terkemuka. Beliau masuk
Islam pada tahun ke 6 dari kenabian dan dengan masuk islamnya Umar bertambahlah
kekuatan Islam.
Umar
merupakan salah satu seorang sahabat yang selalu dimintai pertimbangannya oleh
Rasulullah, bahkan tidak jarang wahyu yang turun memperkuat pandangannya.Umar
bin Khattab sangat teguh dan keras dalam membedakan yang benar dan yang batil,
maka beliau di beri gelar ”al-Faruq” yang berarti sang pembeda.
Pembai’atan
Umar bin Khattab sebagai Khalifah merupakan realisasi dari wasiat Abu Bakar.
Meskipun Umar mendapat rekomendasi dari Abu Bakar, tetapi Umar tidak secara
otomatis mencapai usaha posisi tersebut,kecuali setelah di gelar musyawarah
yang dihadiri oleh sahabat senior yaitu Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan,
Said bin Zaid, Arsyad bin Hudhair, dan sahabat-sahabat lain, baik dari kalangan
Muhajirin maupun Anshar.
Umar
bin Khattab menjadi Khalifah pada tahun ke 13 H, tepatnya menurut az-Zuhri pada
hari Selasa, 22 Jumadil Akhir 13 H. Umar adalah khalifah yang menamakan dirinya
“Amirul Mukminin”, beliau adalah orang yang pertama kali menulis penanggalan
Islam yang diawali dari hijrahnya Rasulullah.Beliau pertama kali mendirikan
Baitul Mal, pertama kali menyuruh shalat Tarawih secara berjamaah dibulan
Ramadhan, pertama kali mengawasi masyarakat di malam hari, pertama kali menghukum
orang yang menghujat, pertama kali menyiksa peminum khamar dengan 80 deraan,
yang pertama kali menjual Budak, yang pertama kali mengumpulkan orang untuk
melakukan shalat jenazah, dan yang pertama kali membangun kota-kota besar.
v Masa
pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab
Pada
awal pemerintahannya khalifah Umar bin Khattab melakukan berbagai kebijakan
diataranya :
a. Memperbaiki
Struktur dan lembaga Negara.
Beliau
seorang yang adil dan jujur .pada masa pemerintahannya.negara menjadi aman.
Beliau mengangkat dewan hakim, badan permusyawaratan para sahabat. Badan
keuangan Untuk daerah-daerah, karena wilayah kekuasaan islam semangkin
luas,beliau mengangkat Gubernur.
b. Lembaga
kepentingan masyarakat
Yaitu
diadakannya jawatan pos yang akan menyampaikan berita dari kota madinah ke
daerah – daerah lainnya, begitu juga sebaliknya perbaikan jalan – jalan umum
juga mendapat perhatian , memberi santunan anak yatim, orang tua dan wanita
menyusui, khalifah umar juga menetapkan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru
Hijriyah dan menetapkan bulan sabit sebagai lambang Negara.
c. Menaklukkan
Damaskus.
Dibawah
pimpinan Khalid Ibn Walid, pasukan Islam bergerak ke Damaskus. Saat pasukan
islam masuk ke Damaskus prajurit Islam dalam keadaan mabuk – mabukan sehingga
dengan mudah dapat ditaklukkan. Sementara panglima Abu Ubaidah bersama
pasukannya juga sukses menaklukkan daerah sekitar Syam dan di daerah tersebut
Khalifah Umar memerintahkan Khalid Ibn Walid dan Abu Ubaidah agar memberi
kebebasan beragama kepada penduduknya.
d. Membebaskan
Baitul Maqdis
Saat
itu Baitul Maqdis dikuasai oleh kerajaan Romawi, maka khalifah Umar ibn Khattab
mengirim bala tentaranya dibawah pimpinan Amr Ibn Ash. Dan pasukan Romawi yang
dipimpin Artabun tidak mampu menghadapi pasukan Islam, setelah pasukan Romawi
dikepung selama 4 bulan akhirnya pasukan Romawipun menyerah.
e. Menaklukkan
Persia
Khalifah
Umar mengirim pasukannya ke Persia dibawah pimpinan Khalid Ibn Walid
yang dibantu oleh Mutsanna Ibn Haritsah, akan tetapi Khalid ibn Walid
diperintahkan untuk membantu pasukan Abu Ubaidah di Roma dan Mutsanna tetap
di Persia. Dengan begitu kekuatan kaum muslimin
di Persia berkurang dan tidak dapat menaklukkan Persia,namun
setelah Romawi tunduk pada Islam Khalifah Umar mengirimkan kembali pasukan
Islam ke Persia berjumlah 8000 orang dibawah pimpinan Sa’ad Ibn Abi Waqosh dan
bertemu dengan pasukan Persia dengan kekuatan 30000 pasukan, sehingga kaum
muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang.
f. Menaklukkan
Mesir
Mesir
saat itu dikuasai oleh tentara Romawi, maka khalifah Umar mengirim pasukannya
ke Mesir dibawah pimpinan Amr ibn Ash. Dibeberapa daerah kaum muslimin mendapat
kemenangan, namun di Ummu Dunain, kaum muslimin tidak dapat menundukkan
kekuatan tentara Romawi, maka Amr Ibn Ash meminta bantuan kepada khalifah Umar Ibn
Khattab. Kemudian khalifah Umar mengirim pasukannya yang berjumlah 4000 orang
dimana terdapat Zubai, Ubadah Ibn Shamit, dan Al Miqdad Ibn Aswad, dan kaum
muslimin harus berjuang menghadapi lawan yang berjumlah 20000 orang maka Amr
ibn Ash mengatur siasat perang.
v Wafatnya
Khalifah Umar bin Khattab
Khalifah
Umar memerintah selama 10 tahun 6 bulan (13-23 H/ 634-644 M) masa kepemimpinannya
berakhir dengan kematian yang tragis yaitu seorang budak bangsa Persia bernama
Feroz tiba-tiba menyerang dari belakang ketika Umar hendak sholat subuh dengan
menggunakan belati beracun. Khalifah Umar mengalami luka-luka atas percobaan
pembunuhan terhadap dirinya. Ketika keadaan semakin parah, maka sahabat-sahabat
dan pemuka-pemuka Islam meminta kepada Khalifah supaya menentukan penggantinya.
Khalifah menjawab: pilihlah seorang antara Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn
Affan, Zubair ibn Awwam, Sa’ad ibn Abi Waqas, Abdurrahman ibn ‘Auf dan Thalhah.
Kamu boleh pilih seseorang yang kalian sukai dari enam orang ini. Akhirnya
khalifah Umar meninggal pada tanggal 25 Dzulhijjah 23 H dan dimakamkan di
madinah disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar As – Siddiq .Setelah Umar
wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah
selanjutnya.
C. Utsman bin Affan 23-35 H (644-656 M)
v Pembaiatan
Usman bin Affan sebagai khalifah
Utsman
bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdu Syam termasuk orang yang pertama kali
masuk Islam.Beliau berasal dari Bani Umayyah dan dari kalangan terpandang
ditengah mereka.Utsman merupakan seorang yang dermawan, murah hati dan termasuk
orang yang paling kaya di masa pra Islam dan setelah beliau masuk Islam.Beliau
pernah menjadi sekretaris Rasulullah SAW menuliskan wahyu dan zaman Abu Bakar
beliau menjadi penasehat Khalifah. Utsman
terkenal dengan kejujuran dan kesalehannya dalam agama.Beliau menafkahkan
sebagaian besar hartanya untuk memajukan Islam.Beliau disayangi Rasulullah
sampai dikawinkan dengan dua puteri Rasulullah, Ruqoyah dan Ummu Kultsum. Oleh
karena itu diberi gelar Dzun-Nurain, yang artinya memiliki dua arti yaitu
mempunyai dua cahaya, dan pernah hijrah dua kali ke Habsyah dan Madinah
Terpilihnya Utsman sebagai khalifah
adalah melalui hasil musyawarah dewan formatur yang dibentuk oleh Umar bin Khattab. Enam orang Sahabat yang
menjadi Dewan Formatur pemilih khalifah adalah Abdurrahman bin Auf,
Saad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam,
Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.Tiga
hari setelah Umar bin khatab wafat, bersidanglah panitia enam ini. Abdurrahman
bin Auf lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat
masyarakat pun terbelah, namun sebagian besar warga cenderung memilih Utsman.
Sidangpun memutuskan Utsman sebagai khalifah. Maka Utsman bin Affan menjadi
khalifah ketiga dan. Pada saat diangkat,beliau telah berusia 70 tahun.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H. Pengumuman dilakukan
setelah selesai Shalat dimasjid Madinah.
v Masa
pemerintahan khalifah Usman bin Affan
Masa
kekhalifannya merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera meskipun pada
tahun pertama kekhalifahannya Khalifah Utsman bin Affan belum mampu mengatur
pemerintah dan rencana pembangunan yang menimbulkan pemberontakan dari berbagai
wilayah Persia dan Romawi yang ditaklukan Islam.. Beliau tidak mengadakan
perubahan sistem pemerintahan yang telah diberlakukan oleh Umar bin Khattab.
Dalam enam tahun pemerintahan mengalami kemajuan yang gemilang terutama
perluasan Islam.
Di
masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam
mempunnyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai
wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal
dipakai untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus,
Pulau Rodhes digempur. Konstantinopelpun sempat dikepung.
Masa
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan dipenuhi dengan penaklukan-penaklukan
sebagai penyempurna di masa pemerintahan Khalifah Umar.Kebijakan di masa Kholifah Ustman ibnu Affan.Banyak sekali
kebijakan-kebijakan pada masa pemerintahan Utsman ibnu Affan yang memberikan
dampak bagi kemajuan dan perkembangan Islam di antaranya :
a. Penyempurnaan pembukuan
Al-Qur’an
Prestasi
terpenting bagi khalifah Utsman ialah menulis kembali al-Qur’an yang telah
ditulis pada zaman Abu Bakar yang pada waktu itu disimpan oleh Khofsoh binti
Umar. Melihat pertikaian umat Islam dalam pembacaan al-Qur’an, akhirnya Usman
membentuk panitia penulisan al-Qur’an yang di ketahui oleh Zaid ibnu Sabit
(penulis Mushaf pada Rasulullah dan Abu Bakar).
Kebijakan
ini dilakukan untuk membentuk Badan Pembukuan Al-Qur’an. Badan ini bertugas
untuk mengumpulkan al-Qur’an. Yang akhirnya nanti disebut dengan Mushaf.
Setelah
kitab suci Al-Qur’an yang disebut Mushaf tersebut selesai di tulis Khalifah
Utsman ibnu affan menginstruksikan untuk memperbanyak menjadi lima buah. Satu
kitab ditinggalkan di Madinah, sedangkan yang lainnya dikirim ke Mekkah, Suria,
Basra, dan Kufah. Semua naskah al-Qur’an yang dikirimkan itu dijadikan pedoman
untuk diperbanyak di daerah masing-masing. Naskah al-Qur’an yang ditinggalkan
di Madinah disebut Mushaf al-Imam.
b. Pembangunan Masjid Nabawi
Khalifah
Utsman ibnu Affan dalam menjalankan roda pemerintahannya, selain membukukan
Al-Qur’an beliau juga membongkar dan membangun ulang masjid Nabawi yang
merupakan masjid peninggalan Rasulullah SAW, pembangunan masjid ini tidak
diambilkan dari kas Negara, melainkan dari harta Khalifah Utsman ibnu Affan
sendiri serta ikut serta dalam pembangunannya. Dalam pembangunan ini,
tiang-tiang penyangga masjid Nabawi ini terbuat dari beton yang kokoh dan dinding-dindingnya
dihiasi dengan ukiran-ukiran yang sangan indah, sehingga menjadi masjid yang
megah dimasa itu.
c. Pembagian daerah kekuasaan
Kholifah
Usman ibnu Affan membagi wilayah pemerintahannya menjadi 20 propinsi,
diantaranya yaitu : Syiria atau Syam, Mesir, Iran, Irak, Makkah, Thaif, san’a,
Jundi, Bahrain, Homas, Qunissirin, Yordan, Palestina, Azarbaijan, Hulman, Mahi,
Hamdhan, Rayy, Masbzan, dan Khurasan, gubernur yang menjabat dari
propinsi-propinsi itu kebanyakan dari sanak kelurga khalifah Utsman ibnu Affan,
dari hal inilah rakyat menganggap bahwa khalifah telah bersikap nepotisme dan
tidak adil kepada rakyat. Seperti mengganti Musa al-As’ari yang asalnya
menjabat Gubernur diganti dengan Abdullah ibnu Amir ibnu Kuraiy, Amru ibnu Ash
yang asalnya gubernur Mesir diganti dengan saudaranya yang bernama Abdullah
ibnu Sa’ad, dan lain-lain.
d. Perluasan daerah kekuasaan
Islam
Seperti
halnya Khalifah terdahulu, Utsman ibnu Affan juga melakukan perluasan kekuasaan
Islam, oleh karena itu Utsman ibnu Affan membentuk armada angkatan laut yang
digunakan untuk memperlancar dan mempercepat dalam perluasan wilayah islam juga
untuk menuntaskan pemberontakan di Iskandariyah. Perluasan daerah ini meliputi
:
1) Perluasan ke Khurasan.
Untuk
menaklukkan kota Khurasan, Khalifah Utsman ibnu Affan mengirim
pasukan-pasukannya yang dipimpin oleh Saad ibnu al-Ash serta
panglima-panglimanya yang sangant kuat dan lincah, diantaranya Hasan, Husain,
Abdullah ibnu Abbas, Abdullah ibnu Umar, Abdullah ibnu Zubair dan Abdullah ibnu
Ash.
2) Perluasan ke Armenia
Pasukan
umat Islam untuk melakukan perluasan ke Armenia dipimpin oleh Salman ibnu
Rabiah al-Habibi, yang akhirnya dapat memperoleh kemenangan.
3) Perluasan ke Tunisia
Tunisia
merupakan wilayah di Afrika yang dikuasai oleh kerajaan Romawi, dalam
menaklukkan kota Tunisia ini tentara muslim dipimpin oleh Abdullah ibnu Saat,
kedatangan pasukan Islam ke Tunisia ini di sambut sangat baik oleh rakyat yang
sangat membenci tentara Romawi, dengan bantuan rakyat Tunisia, akhirnya tentara
muslim dapat mengalahkan tentara Romawi.
4) Perluasan ke Amuriah dan
Siprus
Untuk
melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam ke Amuriah dan Siprus, Utsman ibnu
Affan menunjuk Muawiyah ibnu Abu Sufyan sebagai pemimpin armada angkatan laut,
walaupun mendapatkan perlawanan yang kuat, tapi akhirnya pasukan Islam dapat
menaklukkan Amuniah dan Siprus.
v Akhir masa pemerintahan Khalifah
Usman bin Affan
Pada
mulanya pemerintahan Khalifah Utsman berjalan lancar. Hanya saja seorang
Gubernur Kufah, yang bernama Mughirah bin Syu’bah dipecat oleh Khalifah Utsman
dan diganti oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, atas dasar wasiat khalifah Umar bin
Khatab.
Kemudian
beliau memecat pula sebagian pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik,
untuk mempermudah pengaturan, lowongan kursi para pejabat dan pembesar itu
diisi dan diganti dengan famili-famili beliau yang kredibel (mempunyai
kemampuan) dalam bidang tersebut.Tindakan beliau yang terkesan nepotisme ini,
mengundang protes dari orang-orang yang dipecat, maka datanglah gerombolan yang
dipimpin oleh Abdulah bin Saba’ yang menuntut agar pejabat-pejabat dan para
pembesar yang diangkat oleh Khalifah Utsman ini dipecat pula. Usulan-usulan
Abdullah bin Saba’ ini ditolak oleh khalifah Utsman. Pada masa kekhalifan
Utsman bin Affan-lah aliran Syiah lahir dan Abdullah Bin Saba’ disebut sebagai
pencetus aliran Syi’ah tersebut. Karena merasa sakit hati, Abdullah bin Saba’
kemudian membuat propoganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti Bani Umayah,
termasuk Utsman bin Affan. Seterusnya penduduk setempat banyak yang termakan
hasutan Abdullah bin Saba’. Sebagai akibatnya, datanglah sejumlah besar
(ribuan) penduduk daerah ke madinah yang menuntut kepada Khalifah, tuntutan
dari banyak daerah ini tidak dikabulkan oleh khalifah, kecuali tuntutan dari
Mesir, yaitu agar Utsman memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah, dan
menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar. Karena tuntutan orang mesir itu
telah dikabulkan oleh khalifah, maka mereka kembali ke mesir, tetapi sebelum
mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan seseorang yang ternyata
diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Utsman bin Affan. Isinya adalah
perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah bin Abi sarah membunuh
Gubernur Muhammad Abi Bakar (Gubernur baru). Karena itu, mereka kembali lagi ke
madinah untuk meminta tekad akan membunuh Khalifah karena merasa dipermainkan.
Setelah surat diperiksa, terungkap
bahwa yang membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Tetapi mereka melakukan
pengepungan terhadap khalifah dan menuntut dua hal :
1.Supaya Marwan bin Hakam di qishas
(hukuman bunuh karena membunuh orang).
2.Supaya Khalifah Utsman meletakan
jabatan sebagai Khalifah.
Setelah
mengetahui bahwa khalifah Utsman tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka
mereka lanjutkan pengepungan atas beliau sampai empat puluh hari. Situasi dari
hari kehari semakin memburuk. Rumah beliau dijaga ketat oleh sahabat-sahabat
beliau, Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan
Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, beliau
menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun,hingga
suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah
kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan
membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an. Dalam riwayat lain,
disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat
lain menyebutkan pembunuhnya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran
Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat
sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
D. Ali
bin Abi Thalib 35-40 H (656-661 M)
Ali
Ibnu Abi Thalib ibnu Abdil Muthalib adalah putra dari paman Rasulullah dan
suami dari Fatimah anak Rasulullah. Beliau lahir di Mekah daerah Hejaz, Jazirah
Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum
dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600 M.. Ali adalah
khalifah yang keempat setelah Utsman bin Affan. Pengangkatan beliau sebagai
khalifah dalam situasi politik yang kurang mendukung, peristiwa pembunuhan
terhadap khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia
Islam. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan
lain selain Ali ibn Thalib sebagai khalifah. Waktu itu Ali berusaha menolak dan
mengusulkan agar memilih dari senior yang lain seperti Zubair ibn Awwam dan
Thalhah ibn Ubaidillah. Akhirnya dengan tekanan-tekakan tersebut dengan
permintaan serius dari kawan-kawan dekatnya serta sahabat-sahabat yang lain,
maka pada hari keenam pasca terbunuhnya Utsman, Ali terpilih menjadi khalifah.
Gambaran
situasi awal pembaiatan Ali adaalah lahirnya beberapa kelompok yang saling
bertentangan, yaitu :
Pertama,
kelompok
yang melarikan diri dari Madinah menuju Syam segera setelah terbunuhnya Utsman
dan menghindari ikut campur dalam pembai’atan pengangkatan Khalifah
Kedua,
Kelompok
yang menangguhkan pembai’atan terahadap Ali dan menyatakan menunggu
perkembangan situasi.
Ketiga,
kelompok
yang sengaja tidak mau memberikan bai’at kesetiannya kepada Ali bin Abi Thalib
meskipun mereka tetap berada di Madinah saat pembaiatan Ali.
Keempat,
kelompok
sahabat penduduk Madinah yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu dan belum
pulang saat terjadi pembai’atan
Sikap kaum
muslimin di atas, berpengaruh besar terhadap pemerintahan khalifah Ali di
kemudian hari. Gambaran situasi awal pembaiatan Ali seperti diungkapkan diatas
cukup menjadi isyarat tentang rumitnya situasi politik menjelang dan pasca
pembunuhan Utsman. Hal ini menjadi insiden tidak baik bagi situasi politik yang
dihadapi Ali. Bagaimanapun, Madinah adalah ibukota Negara dan pusat kewibawaan
agama semenjak Nabi Muhammad hingga tiga Khalifah sesudahnya. Keputusan politik
dan keagamaan yang disepakati penduduk Madinah menjadi acuan bagi seluruh
wilayah Islam yang ada di luarnya. Untuk saat itu, dapatlah dikatakan Madinah
menjadi barometer keutuhan umat. Sebab, disinilah berkumpulnya para
sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh generasi sesudahnya. Jika penduduk
Madinah saja sudah tidak utuh dan bila dalam suatu keputusan politik public,
maka penduduk di luar Madinah akan lebih sulit lagi untuk bersatu menerimanya.
v Masa pemerintahan Khalifah Ali Bin
Abi Thalib
Kebijaksanaan yang diterapkan masa
pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib:
a. Dalam bidang politik dan
pemerintahan
1. Mengganti para gubernur
yang diangkat oleh Khalifah Utsman karena kinerja yang sewenang-wenang dan
banyak yang tidak disenangi oleh kaum muslimin.
2. Menarik kembali tanah milik
negara yang dibagikan Utsman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa
jalan yang sah.
b. Dalam bidang politik militer
Ali
adalah pemimpin yang gesit dan cerdas, perumus kebijaksanaan yang mengarah
kepada kebaikan masa depan, pahlawan yang gagah berani, penasehat yang
bijaksana, dan beliau amat mengetahui ihwal tipu daya musuhnya.
c. Dalam bidang bahasa
Pada
masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, banyak diantara daerah kekuasaan
Islam yang semakin meluas tidak mengerti bahasa Arab. Oleh karena itu, khalifah
berinisiatif untuk menyempurnakan bahasa Arab. Maka diperintahkannya Abu Aswad
al Duali untuk memberikan tanda baca dan mengarang kitab pokok-pokok ilmu
Nahwu.
d. Dalam bidang pembangunan
Pada
bidang pembangunan, Ali mengatur kembali tata kota dan berusaha membangun
sebuah kota baru di Kufah.kemudian pada akhirnya kota kufah ini menjadi pusat
pengembangan ilmu pengetahuan.
Pada pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib terjadi
peperangan dan pemberontakan dari dalam negeri sediri karena banyak yang tidak
setuju atas di bai’atnya Ali menjadi Khalifah pengganti Utsman bin Affan.
Peperangan itu diantaranya: perang Jamal (perang unta) antara Khalifah Ali bin
Abi Thalib dengan Aisyah. Dalam peperangan ini kemenang ada pada khalifah,
Thalhah dan Zubair terbunuh dan Aisyah ditawan. Selanjutnya perang Shiffin
antara Khalifah dengan Mu’awiyah disinilah terjadi perpecahan dalam golongan
Ali yang keluar dari Ali yang di kenal kaum khawarij. Didalam perang ini
terjadi sebuah “Tahkim” yang tempatnya di Daumatul Jandal dan dikenal dengan
“Tahkim Daumatul Jandal”. Tahkim ini merupakan perjanjian antara kedua belah
pihak yang masing-masing mengirim utusan, dari Kahlifah Ali sendiri mengirim
Abu Musa al-Asyari dan dari Mu’awiyah mengirim Amru bin Ash.Dengan siasat yang
licin Amru bin Ash dapat mengalahkan Abu Musa yang lurus hati dalam persidangan
itu. Dalam Satu riwayat disebutkan hasil dari keputusan perundingan antara Amru
dan Abu Musa yaitu Ali dan Mu’awiyah harus diturunkan dari pangkat Khalifah.
Keduanya telah setuju dengan keputusan perundingan tersebut. Di hari
persidangan di Daumatul Jandal (suatu tempat antara Irak dan Syam) dihadapan
beribu-ribu umat Islam, maka Abu Musa dikelabuhi oleh licinnya politik Amru bin
Ash. Karena menghormati ketinggian umur dan derajatnya Amru bin Ash meminta
kepada Abu Musa untuk terlebih dahulu berdiri diatas mimbar untu menerangkan
hasil perundingan. Kemudian Abu Musa dengan ikhlas dan jujur hati naik kemimbar
dan berkata “untuk kemaslahatan umat Islam, telah bersepakat untuk
memberhentikan Ali dan Mu’awiyah dari jabatan khalifah dan tentang pengangkatan
khalifah yang baru diserahkan spenuhnya kepada permusyawaratan umat Islam, saya
dari pihak Ali dengan jujur dan ikhlas hati menurunkan Ali dari jabatan
khalifah.” Kemudian naik pula Amru bin Ash lalu menerangkan bahwa ia menerima
dan menguatkan pemberhentian Ali dan mengangkat Mu’awiyah sebagi Amirul
Mukminin. Karena kepincangan hasil perjanjian tersebut maka terjadilah perang
saudara kembali.
v Akhir masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi
Thalib
Di
waktu beliau bersiap-siap hendak mengirim bala tentara sekali lagi untuk
memerangi Mu’awiah, terjadilah suatu komplotan untuk mengakhiri hidup
masing-masing dari Ali, Mu’awiah, dan Amr Ibnu ‘Ash. Komplotan ini terdiri dari
tiga orang khawarij, yang telah bersepakat hendak membunuh ketiga orang
pemimpin itu pada malam yang sama. Seorang diantaranya bernama Abdurrahman ibnu
Muljam. Orang ini berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali. Yang seorang lagi
bernama Barak ibnu Abdillah at Tamini bertugas membunuh Mu’awiah. Yang ketiga
yaitu ‘Amr ibnu Bakr At Tamini berangkat ke Mesir untuk membunuh ‘Amr ibnu ‘Ash Tetapi
diantara ketiga orang itu hanyalah Ibnu Muljam yang dapat membunuh Ali pada
tanggal 17 Ramadhan Tahun 40 H.Dengan demikian berakhirlah riwayat Ali. Dengan
berpulangnya Ali ke Rahmatullah habislah masa pemerintahan al Khulafaur
Rasyidin.Beliau memerintah selama 5 tahun.
BAB III
PENUTUP
Khulafaur
Rasyidin juga dapat diartikan sebagai pengganti yang cerdik dan benar serta
para pemimpin pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang
sangat adil dan bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnya
senantiasa pada jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari
Allah SWT”. Pedoman yang dijadikan pegangan untuk memimpin islam adalah
Al-Quran dan Sunah Al-Hadits.
Masa Khulafaur Rasyidin ini tidak lebih dari 30 tahun.
Pada masa ini peradaban Islam mencapai puncak yang sebenarnya. Pada masa itu
manusia telah mendapatkan kebahagian, mendapatkan perlakuan yang adil,
persamaan hak, keamanan, rasa tentram dan memperoleh segala kebutuhan asasi
mereka.
Namun, diakhir pemerintahan khulafaur rasyidin
muncul fitnah yang menyebabkan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah
memecah mereka menjadi beberapa sekte dan golongan.
DAFTAR PUSTAKA
Syukur, Fatah.
2009. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT Pustaka Rizki Putra
0 Komentar untuk "MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM"