Perumpamaan tentang kehidupan dunia [QS. Yunus : 24]
Artinya :
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan
duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu
tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada
yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[1], dan
pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya [2], tiba-tiba
datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan
(tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum
pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan
(Kami) kepada orang-orang berfikir. [QS. Yunus 10: 24]
[1] Maksudnya:
bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau
dengan tanam-tanamannya.
[2] Maksudnya:
dapat memetik hasilnya.
Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan
sebab-sebab manusia berbuat aniaya dan kebinasaan di muka bumi ialah karena
terlalu mencintai apa yang disenanginya, terlalu memperturutkan keinginan
hatinya untuk memiliki segala macam perhiasan dan kesenangan duniawi. Pada ayat
ini Allah memberikan perumpamaan hidup duniawi dengan perumpamaan yang mudah
ditangkap oleh akal pikiran yang sehat yang tidak dipenuhi hawa nafsu, bahwa
kesenangan duniawi itu adalah fana, sementara dan akan lenyap dan hilang dalam
sekejap mata bila dikehendaki Allah.
Ayat ini menerangkan sifat hidup di
dunia dan perumpamaan yang tepat ditinjau dari segi cepat dan lekas hilangnya,
seperti lenyapnya segera suatu harapan yang mulai timbul pada diri seseorang,
yaitu dengan menyerupakan hidup itu dengan air hujan yang diturunkan Allah dari
langit. Dengan air itu tumbuhlah beraneka macam tanam-tanaman dan
tumbuh-tumbuhan yang beraneka rupa dan berlainan rasa yang menjadi makanan bagi
manusia dan binatang. Lalu permukaan bumi ditutupi oleh kerindangan yang
menghijau, yang dihiasi oleh bunga dan buah-buahan yang beraneka warna. Pada
saat itu timbullah harapan dan cita-cita manusia yang mempunyai kebun itu,
seandainya tumbuh-tumbuhan itu telah dapat dipetik. Dalam keadaan demikian,
yaitu dalam keadaan yang penuh harapan dan cita-cita itu karena beberapa hari
lagi akan tiba waktu memetiknya, datanglah malapetaka yang memusnahkan
tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan itu, sehingga bumi yang berhias beraneka
warna itu tiba-tiba menjadi datar dan rata seakan-akan belum pernah ditanami
dengan sesuatu apa pun. Dan di saat itu sirnalah harapan dan cita-cita itu
sebagaimana kehidupan dan kesenangan duniawi itu dapat pula sirna seketika.
Kefanaan hidup
di dunia itu ditegaskan oleh firman Allah swt.:
Artinya:
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu
merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu
mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik
ketika mereka sedang bermain? (Q.S. Al-A'raf 7: 97, 98)
Sebagaimana Allah telah memberikan
perumpamaan yang tepat dan jelas dalam melukiskan keadaan kehidupan dunia dan
tertipunya manusia oleh kehidupan itu karena pengaruh setan dan memperturutkan
hawa nafsu, maka seperti itu pulalah jelas dan terangnya Allah menerangkan
hakikat tauhid, pokok-pokok agama, budi pekerti yang baik dan amal-amal yang
saleh yang harus dikerjakan. Hanya orang-orang yang mau menggunakan akal
pikiran yang sehatlah yang dapat memahami perumpamaan dan penjelasan itu.
Banyak manusia yang lalai dan ingkar karena merasa dirinya telah merasa cukup,
merasa sanggup dan merasa berkuasa, sehingga lupa akan tujuan hidup dan
kehidupan yang sebenarnya.
Dari ayat di
atas terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Berbagai pemandangan alam yang indah tidak boleh
mengecoh manusia sehingga mereka menjadi terikat dan cinta kepada dunia. Karena
sesungguhnya dunia itu fana dan semuanya tidak akan bertahan lama dan hancur.
2.
Umur manusia di dunia sebagaimana umurnya tetumbuhan
dan bunga-bunga yang dalam waktu sekejab akan layu dan rusak. Karena itu
janganlah kita merasa bisa tinggal di dunia ini untuk selamanya.
Perumpamaan
mengenai ucapan atau kata-kata yang baik [Surat Ibrahim ayat 14: 24]
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[1] seperti pohon yang baik, akarnya
teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
[1]. Termasuk dalam kalimat yang baik ialah
kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran
serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.
Perumpamaan yang disebutkan dalam
ayat ini ialah perumpamaan mengenai kata-kata ucapan yang baik, misalnya
kata-kata yang mengandung ajaran tauhid, seperti "la ilaha illallah"
atau kata-kata lain yang mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka
dari kemungkaran. Kata-kata semacam itu diumpamakan sebagai pohon yang baik,
akarnya teguh menghujam ke bumi dan dahannya rimbun menjulang ke langit. Pohon
yang baik itu dalam peradaban Indonesia digambarkan "akarnya tempat
bersila, batangnya tempat bersandar, daunnya tempat bernaung, dan buahnya lezat
dimakan". Artinya memberikan manfaat yang banyak.
Agama Islam mengajarkan kepada
umatnya agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik yang berfaedah bagi
dirinya, dan bermanfaat bagi orang lain. Ucapan seseorang menunjukkan watak dan
kepribadiannya serta adab dan sopan santunnya. Sebaliknya setiap muslim harus
menjauhi ucapan dan kata-kata yang jorok yang dapat menimbulkan kemarahan,
kebencian, permusuhan dan menyinggung perasaan atau menimbulkan rasa jijik bagi
yang mendengarnya.
Hal itu
diperkuat pada ayat selanjutnya pada surat ini [surat Ibrahim 14:25]
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat.
Dalam ayat ini digambarkan, bahwa
pohon yang baik itu selalu memberikan buahnya pada setiap manusia dengan seizin
Tuhannya. Sebab itu manusia yang mengambil manfaat dari pohon itu hendaklah
bersyukur kepada Allah karena pada hakikatnya, bahwa pohon itu adalah rahmat
dan nikmat dari Allah SWT.
Demikian pula halnya kata-kata yang
baik yang kita ucapkan kepada orang lain, misalnya dalam memberikan ilmu
pengetahuan yang berguna, manfaatnya akan didapat oleh orang banyak. Dan setiap
orang yang memperoleh ilmu pengetahuan dari seorang guru haruslah bersyukur
kepada Allah karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya
melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.
Kita dalam kehidupan sehari-hari
haruslah senantiasa mempergunakan kata-kata yang baik dan sopan, serta menjauhi
ucapan-ucapan kotor dan kasar, karena ucapan-ucapan itu akan ditiru oleh
anak-anak mereka.
0 Komentar untuk "AMTSALUL AL-QUR’AN (PERUMPAMAAN DALAM AL-QURAN)"