AHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Salah satu masalah yang dipunyai oleh manusia, yang
sama tuanya dengan usia kemanuasiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya
dapat melibatkan ke seluruh aspek kehidupan manusia, tetapi sering tidak
disadari kehadirannya sebagai masalah, ialah kemiskinan. Dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat, kemiskinan adalah sesuatu yang nyata adanya, bagi
mereka yang tergolong miskin , mereka sendiri merasakan dan menjalani kehidupan
dalam kemiskinan tersebut. Kemiskinan itu akan lebih terasa lagi apabila mereka
telah membandingkannya dengan kehidupan orang lain yang lebih tinggi tingkat
kehidupannya. Selanjutnya, kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya
pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, pakaian, papan,
sebagai tempat berteduh. Melihat kondisi Negara Indonesia yang masih memiliki
angka kemiskinan tinggi, penulis tertarik untuk mengangkat masalah kemiskinan
dan menganalisis dampaknya bagi masyarakat.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka rumusan masalahnya adalah :
1. Perubahan
sosial dari kemiskinan ?
2. Dampak
kemiskinan bagi kehidupan bermasyarakat
?
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN
KEMISKINAN
Emil
Salim (1982) menyatakan bahwa mereka dikatakan berada di bawah garis kemiskinan
apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling
pokok, seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain-lain.
Suparlan (1981) menyatakan
kemiskinan adalah sebagai suatu standar
tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada
sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum
berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini
secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan
moral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
Kemiskinan bukanlah sesuatu yang
terwujud sendiri terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi kemiskinan itu
terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan
manusia. Aspek-aspek tersebut, terutama adalah aspek social dan ekonomi. Aspek
sosial ialah adanya ketidaksamaan sosial diantara sesame warga masyarakat yang
bersangkutan, seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber
dari corak sistemm pelapisan social yang ada dalam masyarakat. Sedangkan yang
dimaksud dengan aspek ekonomi ialah, adanya ketidaksamaan diantara sesame warga
masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian
sumber-sumber daya ekonomi.
Klasifikasi atau penggolongan
seseorang atau masyarakat itu dikatakan miskin, ditetapkan dengan menggunakan tolak
ukur. Tolak ukur yang umumnya dipakai adalah sebagai berikut :
1. Tingkat
pendapatan
2. Kebutuhan
relatif
Di Indonesia tingkat pendapatan digunakan ukuran
waktu kerja sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dari siapa yang
tergolong sebagai orang miskin dapat diketahuinya. Tolak ukur yang telah dibuat
dan digunakan di Indonesia untuk menentukan besarnya jumlah orang miskin adalah
batasan tingkat pendapatan per waktu kerja ( Rp. 30.000,- per bulan atau
rendah) yang dibuat pada tahun 1976/1977, dan disamping itu juga tolak ukur
yang dibuat berdasarkan atas batas minimal jumlah kalori yang dikonsumsi yang
diambil persamaannya dalam beras, dimana dinyatakan batas minimal kemiskinan
adalah mereka yang makan kurang dari 320 kg beras di desa dan 420 kg di kota
pertahunnya (Suparlan, 1981).
Dengan menggunakan ukuran-ukuran di atas, Sayogyo
(1978) menyatakan bahwa pada tahun 1976 di Indonesia terdapat 45 juta orang
yang tergolong miskin. Dan jumlah tersebut 38 juta atau 84% berada di pedesaan.
Diperkirakan sekarang jumlahnya 60 juta.
Tolak ukur yang lain ialah yang dinamakan tolak ukur
kebutuhan relative per keluarga, yang batasan-batasannya dibuat berdasarkan
atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi guna sebuah keluarga dapat
melangsungkannya kehidupannya secara sederhana tapi memadai sebagai warga
masyarakat yang layak. Tercakupnya tolak ukur ini adalah kebutuhan-kebutuhan
yang berkenaan dengan biaya sewa rumah dan mengisi rumah dengan peralatan rumah
tangga yang sederhana tapi memadai, biaya untuk memelihara kesehatan dan untuk
pengobatan, biaya ubtuk menyekolahkan anak-anak, biaya untuk sandang dan pangan
sederhana tetapi mencukupi dan memadai.
Para ahli ilmu-ilmu sosial umumnya berpendapat bahwa
sebab utama yang melahirkan kemiskinan ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam
masyarakat yang bersangkutan. Sistem ekonomi ini tercermin dalam berbagai
pranata yang ada dalam masyarakat tersebut, yaitu suatu sistem antar hubungan peranan-peranan
dan norma-norma yang terorganisasi untuk usaha-usaha penentuan
kebutuhan-kebutuhan social utama yang dirasakan perlunya dalam masyarakat. Sistem
ekonomi yang terjalin dalam berbagai pranata tersebut memberikan corak pada
pola kehidupan ekonomi, yang menghasilkan adanya ketidakmerataan ekonomi yang
dirasakn oleh warga masyarakat sebab tidak semua warga masyarakat tersebut
dapat mencapai pola ideal yang ada dalam pola kehidupan ekonomi, yang bersumber
pada sistem ekonominya.
2.2 MACAM-MACAM
KEMISKINAN
Dari
berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, padadasarnya bentuk
kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang
dikategorikan termasuk ke dalamgolongan miskin absolut apabila hasil
pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan,
danpendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang
tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan
tetapi masih beradadi bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini
berkaitan erat dengan sikapseseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau
berusahamemperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari
pihak lain yang membantunya
Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan
dalam tiga unsur, yaitu :
1. Kemiskinan
yang disebabakan aspek badaniah atau mental seseorang.
2. Kemiskinan
yang disebabkan oleh bencan alam
3. Kemiskinan
buatan
Kemiskinan disebabkan aspek badaniah biasanya
orang-orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya
yag sehat jasmaniyah. Karena cacat badaniyah misalnya, dia lantas berbuat atau
bekerja secara tidak wajar, seperti menjadi pengemis atau peminta-minta.
Menurut ukuran produktivitas kerja, mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu yang
maksimal malah lebih bersifat konsumtif. Sedangakan yang menyangkut aspek
mental, biasanya mereka disifati oleh sifat mals bekerja secra wajar,
sebagaimana halnya manusia lainnya. Mereka ada yang bekerja sebagai
peminta-minta, atau sebagai pekerja sambilan bila ada yang memerlukannya.
Tindakan-tindakan seperti itu jelas bisa menyebabkan
kemiskinan bagi dirinya dan menimbulkan beban bagi masyarakat lainnya. Kemiskinan
yang disebabkan oleh bencana, apabila tidak dengan segera diatasi sama saja
halnya akan menimbulkan beban bagi masyarakat umum lainnya. Mereka yang kena
bencana alam, umunya tidak memiliki tempat tinggal bahkan sumber-sumber daya
alam yang mereka miliki sebelumnya habis oleh pengikisan bencana alam.
Kemiskinan yang disebabkan bencana alam, biasanya pihak pemerintah mengambil,
atau menempuh dua cara, pertama sebagai pertolongan sementara diberikan bantuan
secukupnya dan tindakan berikutnya mentrasmigrasikan mereka ke tempat-tempat
lain yang lebih aman dan memungkinkan mereka bisa hidup layak.
Kemiskinan buatan disebut juga kemiskinan
struktural, ialah kemiskinan yang ditimbulkan oleh dan dari struktur-struktur
ekonomi, sosial dan kultur serta politik. Kemiskinan struktur ini selain
ditimbulkan oleh struktur penenangan atau nrimo memandang kemiskinan sebagai
nasib, malahan sebagai takdir Tuhan.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan
bahwa kemiskinan itu pada hakikatnya langsung berkait dengan sistem masyarakat
secara menyeluruh dan bukan hanya ekonomi atau politik, social dan budaya.
Sehingga penanganannya harus berlangsung secara menyeluruh dengan suatu
strategi yang mengandung kaitan semua aspek dan perikehidupan manusia. Bisa
dimulai dengan resep ekonomi, kemudian ditunjang oleh tindakan , sosial, dan
politik yang nyata. Namun demikian, dalam kenyataannya bahwa masalah memerangi
kemiskinan sering kali menjadi suatu masalah perdebatan di antara mereka yang
yang merasa ada kaitannya dengan masalah tersebut, yaitu berkenaan dengan cara
dan sasarannya. Adanya orang-orang yang tergolong miskin, seperti orang tua,
cacat, anak-anak yang orang tuanya miskin, orang yang pendapatannya di bawah
garis kemiskinan.
Pendapat lain ada yang mengatakan, bahwa usaha
memerangi kemiskinan hanya dapat berhasil kalau dilakukan dengan cara
memberikan pekerjaan yang memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang
miskin. Karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan,
tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dinaikkan,
seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan
kesempatan kepada meereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan di sektor-sektor
ekonomi lainnya.
Karena kemiskinan diantaranya disebabkan oleh
struktur ekonomi, maka terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari suatu
struktur. Inti pokok dari struktur adalah realisasi hubungan antara suatu
subyek dan obyek, dan antara subyek-subyek komponen-komponen yang merupakan
bagian dan suatu sistem. Maka permasalahan struktur yang paling penting dalam
hal ini adalah pola relasi.
2.3
PROSES PERUBAHAN SOSIAL
Menurut Roy Bhaskar (1984),
perubahan sosial biasanya terjadi secara wajar (naturaly), gradual, bertahap serta
tidak pernah terjadi secara radikal atau revolusioner. Proses perubahan sosial
meliputi : Proses Reproduction dan proses Transcormation.
Proses Reproduction adalah proses
mengulang-ngulang, menghasilkan kembali segala hal yang diterima sebagai warisan
budaya dari nenek moyang kita sebelumnya. Dalam hal ini meliputi bentuk warisan
budaya yang kita miliki. Warisan budaya dalam kehidupan keseharian meliputi :
a. Material
(Kebendaan, teknologi)
b. Immaterial
(Non benda, adat, norma, dan nilai-nilai)
Roy
Bhaskar menyatakan, reproduction berkaitan dengan masa lampau perilaku
masyarakat, yang berhubungan dengan masa sekarang dan masa yang akan datang.
Transformasi merupakan suatu proses masa depan yang akan menjadi ancangan
perilaku manusia, yang sebetulnya dasar perilaku strukturalnya telah tertanam
pada masa sekarang dan masa lalu. Dengan demikian transformasi masa depan
bukanlah perilaku yang lepas dari dasar kegiatan manusia pada masa sekarang
serta masa lalunya. Kondisi ini berlaku bagi masayarakat dunia, yang menerima
perubahan sebagai proses kematangan sehingga sebenarnya perubahan social akan
berjalan dengan menapak sebagai penahapan model kematangan perilaku manusia,
dari suatu masa ke masa yang lain. Setiap jenis kematangan akan mengikuti
aspekyang telah dilakukan, jauh sebelum sebuah perilaku masyarakat berubah pada
masa kini. Pada masa sekarang ini yang banyak dilakukan orang adalah mengulang-ngulang
apa yang pernah kita miliki, sehingga hanya sedikit sekali kesempatan untuk
mengubahnya atau mengadakan pembaharuan secara simultan. Reproduction dapat
diamati dari kemajuan bidang teknologi, peralatan ‘Hi-tech’ misalnya akan
memiliki basis teknologi yang telah dikembangkan terlebih dahulu (Industri
outo-motive, electronic dll)
Proses Transformation adalah suatu
proses penciptaan hal yang baru (something new) yang dihasilkan oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi (tools and technologies) , yang berubah adalah aspek
budaya yang sifatnya material, sedangkan yang sifatnya norma dan nilai sulit
sekali diadakan perubahan (bahkan ada kecenderungan untuk dipertahankan).
Sebagai contoh orang Jawa memakai pakaian dengan setelan dasi dan jas, tetapi
nilai kehidupannya masih tetap Wonogiri atau Purwodadi Grobogan. Hal ini
menunjukkan bahwa budaya yang tampak (material) lebih mudah diubah, tetapi
sikap hidup adalah menyangkut nilai-nilai yang sukar untuk dibentuk kembali.
Menurut kalangan sejarawan Inggris,
hanya bangsa yang mampu menjawab
tantanganlah yang akan tetap eksis di dunia ini. Sedangkan bangsa yang tidak
berani menjawab tantangan akan selalu tergilas dalam proses perubahan. Bangsa
Jepang, mungkin merupakan pilihan sedikit dari bangsa-bangsa di dunia ini yang
memiliki kemampuan menjawab tantangan zaman dengan keberanian mengubah perilaku
teknologi serta mengubah nilai kehidupannya.
Teori modernisasi barat, berasal
dari akumulasi budaya dan teknologi barat (Industrialisasi) yang dapat mengubah
hal-hal yang berisi tradisi seperti norma dan lain-lain. Namun kasus di
Indonesia kenyatannya tidaklah demikian, perilaku bertekonologi modern yang
masuk dengan industrialisasi tidak disertai dengna perubahan nilai-nilai yang
berlaku. Dalam proses perubahan social, dunia ke tiga dapat meniru perubahan
dari dunia kedua, sedangkan dunia pertama terjadi perubahan yang sangat alamiah,
salah satu kekuatannya terjadi karena kekuatan modal (kapital).
2.3.1
Konsep Perubahan Sosial
Membahas
perubahan social tidak dapat lepas dari konteks filsafat barat yaitu suatu
pandangan terhadap kemajuan manusia dalam masyarakat yang ditimbulkan oleh
kemajuan masyarakatnya. Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat ditopang oleh dua
kelompok pemikiran utama yaitu filsafat yunani (Greek Philosophy) dan perilaku
kehidupan ke kristenan (Christianity) yang sifatnya progresif dan perfection.
2.3.2
Teori Perubahan Sosial
(Menurut Teori Sosial Klasik)
Teori
sosiologi klasik muncul dari tiga tokoh (Karl Marx, Marx Weber, dan Emile
Durkheim) yang secara khusus memang menjadi peletak dasar teori dasar yang
nantinya menjadi induk dari perkembangan teori-teori sosiologi yang muncul
kemudian. Dalam memahami perubahan social ketiga tokoh ini berusaha memahami
fenomena perubahan secara radikal terutama untuk masyarakat barat yang sedang
beralih dari struktur agraris ke struktur industri.
Ketiga
pemikir tersebut mencuat pemikirannya hampir secara bersamaan pada abad 19,
tepat ketika benua Eropa tepat setelah revolusi di Prancis. Substansi pemikiran
mereka disarikan berasal dari sumber Lewis A. Coser selaku editor yang berasal
beberapa sumber utama (Lewis A. Coser and Bernard Resenberg, edidor, 1976;
Lewis A Coser, editor, 1977), Henry Etzkowitz and Ronald M. Glassmant, editor,
1991 Doyle Paul Johnson, 1986 dan Jonathan H. Turner (1998).
Pemikiran
Karl Max, Emile Durkheim dan Max Weber tersebut pada awalnya hanya melihat
perkembangan masyarakat di benua Eropa, tetapi mereka masing-masing juga mencari
relevansi dengan benua lain dalam batas-batas kemampuan generalisasi yang
wajar.
BAB
III
STUDI
KASUS
Kondisi kemiskinan di DKI Jakarta
Data kemiskinan di DKI Jakarta
1.tahun2005=316,2
2.tahun2006=407,1
3.tahun2007=405,7
4.tahun2008=379,6
5.tahun2009=323,2
6.tahun2010=312,2
3.1 GAMBARAN KONDISI WILAYAH DKI JAKARTA
DKI Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 9.15 juta jiwa sehimgga Jakarta merupkan salah satu kota terpadat di wilayah Negara Indonesia
Dengan jumlah penduduk yang banyak maka DKI Jakarta mempunyai banyak masalah kependudukan yang salah satunya adalah masalah kemiskinan yang kurun tahun jumlahnya selalu meningkat.
Dan salah satu penyebab kemiskinan adalah kurngnya lapangan pekerjaan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta menurut data BPS Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja sebesar 4,77 juta orang dan bukan angkatan kerja 2,18 juta orang tetapi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja yang ada.
1.tahun2005=316,2
2.tahun2006=407,1
3.tahun2007=405,7
4.tahun2008=379,6
5.tahun2009=323,2
6.tahun2010=312,2
3.1 GAMBARAN KONDISI WILAYAH DKI JAKARTA
DKI Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 9.15 juta jiwa sehimgga Jakarta merupkan salah satu kota terpadat di wilayah Negara Indonesia
Dengan jumlah penduduk yang banyak maka DKI Jakarta mempunyai banyak masalah kependudukan yang salah satunya adalah masalah kemiskinan yang kurun tahun jumlahnya selalu meningkat.
Dan salah satu penyebab kemiskinan adalah kurngnya lapangan pekerjaan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta menurut data BPS Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja sebesar 4,77 juta orang dan bukan angkatan kerja 2,18 juta orang tetapi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja yang ada.
3.2 KONDISI KEMISKINAN DI WILAYAH
DKI JAKARTA
Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 sebesar 323,17 ribu orang (3,62 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2008 sebesar 379.6 ribu orang (4,29 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 57,45 ribu (0,67 persen). Keadaan ini dapat terjadi karena salah satu penyebabnya adalah adanya deflasi pada bulan januari sampai maret sebesar 0,13%
Dari data BPS pula dapat dikatakan bahwa kemiskinan dari tahun-ketahun secara umum dikatakan meningkat.
Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 sebesar 323,17 ribu orang (3,62 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2008 sebesar 379.6 ribu orang (4,29 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 57,45 ribu (0,67 persen). Keadaan ini dapat terjadi karena salah satu penyebabnya adalah adanya deflasi pada bulan januari sampai maret sebesar 0,13%
Dari data BPS pula dapat dikatakan bahwa kemiskinan dari tahun-ketahun secara umum dikatakan meningkat.
3.3 CONTOH KASUS KEMISKINAN SAAT
INI DI WILAYAH DKI JAKARTA
Harus diakui, Jakarta mempunyai berbagai program pemberantasan kemiskinan. Akan tetapi, program itu hanya menjangkau warga miskin ber-KTP DKI. Padahal,banyak warga miskin pendatang dari daerah-daerah di Jawa, bahkan juga luar Jawa, yang tidak tercatat sebagai penduduk DKI.
Sumber :
BPS Provinsi DKI Jakarta. 2009. Jakarta Dalam Angka 2009. Jakarta : BPS Provinsi DKI Jakarta
Harus diakui, Jakarta mempunyai berbagai program pemberantasan kemiskinan. Akan tetapi, program itu hanya menjangkau warga miskin ber-KTP DKI. Padahal,banyak warga miskin pendatang dari daerah-daerah di Jawa, bahkan juga luar Jawa, yang tidak tercatat sebagai penduduk DKI.
Sumber :
BPS Provinsi DKI Jakarta. 2009. Jakarta Dalam Angka 2009. Jakarta : BPS Provinsi DKI Jakarta
BAB
IV
PENUTUP
ANALISA
DAN KESIMPULAN
4.1 ANALISA
Faktor penyebab
kemiskinan secara umum yakni :
1. Tingkat
pendidikan yang rendah
2. Produktivitas
tenaga kerja rendah
3. Tingkat
upah yang rendah
4. Distribusi
pendapatan yang timpang
5. Kesempatan
kerja yang kurang
6. Kualitas
sumberdaya alam masih rendah
7. Penggunaan
teknologi masih kurang
8. Etos
kerja dan motivasi pekerja yang rendah
9. Kultur/budaya
(tradisi)
10. Politik
yang belum stabil
Kesemua
faktor tersebut di atas saling mempengaruhi, dan sulit memastikan penyebab kemiskinan
yang paling utama atau faktor mana yang berpengaruh langsung maupun tidak
langsung. Kesemua faktor tersebut merupakan VICIOIS CIRCLE (Lingkaran setan)
dalam masalah timbulnya kemiskinan
Dampak
kemiskinan bagi masyarakat
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan
kompleks. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak
memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak
memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara
otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat.
Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan,
nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritonga menyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukup dominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya [74,99 persen].
Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].
Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan "pemiskinan struktural" terhadap rakyatnya.
Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
Solusi dari dampak kemiskinan :
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas kuncinya harus ada kebijakan dan strategi pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan jangka panjang. Pemerintah boleh saja mengejar pertumbuhan-ekonomi makro dan ramah pada pasar. Tetapi, juga harus ada pembelaan pada sektor riil agar berdampak luas pada perekonomian rakyat.
Ekonomi makro-mikro tidak bisa dipisahkan dan dianggap berdiri sendiri. Sebaliknya keduanya harus seimbang-berkelindan serta saling menyokong. Pendek kata harus ada simbiosis mutualisme di antara keduanya.
Perekonomian nasional dengan demikian menjadi sangat kokoh dan vital dalam usaha pemenuhan cita-cita tersebut. Perekonomian yang tujuan utamanya adalah pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan memihak rakyat maka mustahil cita-cita tersebut dapat tercapai. Intinya tanpa pemaknaan yang subtansial dari kemerdekaan politik menjadi kemerdekaan ekonomi maka sia-sialah pembentukan sebuah negara. Mubazirlah sebuah pemerintahan. Oleh karenanya pentingnya menghapus kemiskinan sebagai prestasi pembangunan yang hakiki.
Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritonga menyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukup dominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya [74,99 persen].
Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].
Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan "pemiskinan struktural" terhadap rakyatnya.
Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
Solusi dari dampak kemiskinan :
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas kuncinya harus ada kebijakan dan strategi pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan jangka panjang. Pemerintah boleh saja mengejar pertumbuhan-ekonomi makro dan ramah pada pasar. Tetapi, juga harus ada pembelaan pada sektor riil agar berdampak luas pada perekonomian rakyat.
Ekonomi makro-mikro tidak bisa dipisahkan dan dianggap berdiri sendiri. Sebaliknya keduanya harus seimbang-berkelindan serta saling menyokong. Pendek kata harus ada simbiosis mutualisme di antara keduanya.
Perekonomian nasional dengan demikian menjadi sangat kokoh dan vital dalam usaha pemenuhan cita-cita tersebut. Perekonomian yang tujuan utamanya adalah pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan memihak rakyat maka mustahil cita-cita tersebut dapat tercapai. Intinya tanpa pemaknaan yang subtansial dari kemerdekaan politik menjadi kemerdekaan ekonomi maka sia-sialah pembentukan sebuah negara. Mubazirlah sebuah pemerintahan. Oleh karenanya pentingnya menghapus kemiskinan sebagai prestasi pembangunan yang hakiki.
4.2 KESIMPULAN
Berdasarkan analisa
pembahasan di atas, kondisi kemiskinan di Indonesia khususnya lingkup DKI
Jakarta sangat memprihatinkan. Setelah penulis
menganalisis ada 3 macam kemiskinan yaitu absolute, relative, cultural.Ini disebabkan karena beberapa faktor seperti tingkat
pendidikan yang rendah, produktivitas tenaga kerja rendah, tingkat upah yang rendah,
distribusi pendapatan yang timpang, kesempatan kerja yang kurang, dll. Dampak
dari kemiskinan sangat dirasakan masyarakat diantaranya adalah pengangguran,
maraknya kekerasan dimana-mana, pendidikan yang terganggu. Hal ini menyebabkan
perubahan sosial sulit berkembang.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial : Sketsa Teori dan Refleksi
metodologi kasus Indonesia. Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya
·
Ahmadi, Abu. 1991. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka
Cipta
0 Komentar untuk "Makalah ISBD Kemiskinan"