Knowladge Is Free

Catatan Kuliah Teknik Informatika dan lain-lain

Makalah ISBD Kemiskinan

AHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu masalah yang dipunyai oleh manusia, yang sama tuanya dengan usia kemanuasiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan ke seluruh aspek kehidupan manusia, tetapi sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah, ialah kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, kemiskinan adalah sesuatu yang nyata adanya, bagi mereka yang tergolong miskin , mereka sendiri merasakan dan menjalani kehidupan dalam kemiskinan tersebut. Kemiskinan itu akan lebih terasa lagi apabila mereka telah membandingkannya dengan kehidupan orang lain yang lebih tinggi tingkat kehidupannya. Selanjutnya, kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, pakaian, papan, sebagai tempat berteduh. Melihat kondisi Negara Indonesia yang masih memiliki angka kemiskinan tinggi, penulis tertarik untuk mengangkat masalah kemiskinan dan menganalisis dampaknya bagi masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya adalah :
1.      Perubahan sosial dari kemiskinan ?
2.      Dampak kemiskinan  bagi kehidupan bermasyarakat ?




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN KEMISKINAN
Emil Salim (1982) menyatakan bahwa mereka dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain-lain.
            Suparlan (1981) menyatakan kemiskinan  adalah sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
            Kemiskinan bukanlah sesuatu yang terwujud sendiri terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut, terutama adalah aspek social dan ekonomi. Aspek sosial ialah adanya ketidaksamaan sosial diantara sesame warga masyarakat yang bersangkutan, seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber dari corak sistemm pelapisan social yang ada dalam masyarakat. Sedangkan yang dimaksud dengan aspek ekonomi ialah, adanya ketidaksamaan diantara sesame warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.
            Klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat itu dikatakan miskin, ditetapkan dengan menggunakan tolak ukur. Tolak ukur yang umumnya dipakai adalah sebagai berikut :
1.      Tingkat pendapatan
2.      Kebutuhan relatif
Di Indonesia tingkat pendapatan digunakan ukuran waktu kerja sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dari siapa yang tergolong sebagai orang miskin dapat diketahuinya. Tolak ukur yang telah dibuat dan digunakan di Indonesia untuk menentukan besarnya jumlah orang miskin adalah batasan tingkat pendapatan per waktu kerja ( Rp. 30.000,- per bulan atau rendah) yang dibuat pada tahun 1976/1977, dan disamping itu juga tolak ukur yang dibuat berdasarkan atas batas minimal jumlah kalori yang dikonsumsi yang diambil persamaannya dalam beras, dimana dinyatakan batas minimal kemiskinan adalah mereka yang makan kurang dari 320 kg beras di desa dan 420 kg di kota pertahunnya (Suparlan, 1981).
Dengan menggunakan ukuran-ukuran di atas, Sayogyo (1978) menyatakan bahwa pada tahun 1976 di Indonesia terdapat 45 juta orang yang tergolong miskin. Dan jumlah tersebut 38 juta atau 84% berada di pedesaan. Diperkirakan  sekarang jumlahnya 60 juta.
Tolak ukur yang lain ialah yang dinamakan tolak ukur kebutuhan relative per keluarga, yang batasan-batasannya dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi guna sebuah keluarga dapat melangsungkannya kehidupannya secara sederhana tapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak. Tercakupnya tolak ukur ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan dengan biaya sewa rumah dan mengisi rumah dengan peralatan rumah tangga yang sederhana tapi memadai, biaya untuk memelihara kesehatan dan untuk pengobatan, biaya ubtuk menyekolahkan anak-anak, biaya untuk sandang dan pangan sederhana tetapi mencukupi dan memadai.
Para ahli ilmu-ilmu sosial umumnya berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Sistem ekonomi ini tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut, yaitu suatu sistem antar hubungan peranan-peranan dan norma-norma yang terorganisasi untuk usaha-usaha penentuan kebutuhan-kebutuhan social utama yang dirasakan perlunya dalam masyarakat. Sistem ekonomi yang terjalin dalam berbagai pranata tersebut memberikan corak pada pola kehidupan ekonomi, yang menghasilkan adanya ketidakmerataan ekonomi yang dirasakn oleh warga masyarakat sebab tidak semua warga masyarakat tersebut dapat mencapai pola ideal yang ada dalam pola kehidupan ekonomi, yang bersumber pada sistem ekonominya.
2.2  MACAM-MACAM KEMISKINAN
Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, padadasarnya bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu: 
1.      Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalamgolongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, danpendidikan.
2.      Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih beradadi bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3.      Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikapseseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusahamemperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya

Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan dalam tiga unsur, yaitu :
1.      Kemiskinan yang disebabakan aspek badaniah atau mental seseorang.
2.      Kemiskinan yang disebabkan oleh bencan alam
3.      Kemiskinan buatan
Kemiskinan disebabkan aspek badaniah biasanya orang-orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yag sehat jasmaniyah. Karena cacat badaniyah misalnya, dia lantas berbuat atau bekerja secara tidak wajar, seperti menjadi pengemis atau peminta-minta. Menurut ukuran produktivitas kerja, mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal malah lebih bersifat konsumtif. Sedangakan yang menyangkut aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat mals bekerja secra wajar, sebagaimana halnya manusia lainnya. Mereka ada yang bekerja sebagai peminta-minta, atau sebagai pekerja sambilan bila ada yang memerlukannya.
Tindakan-tindakan seperti itu jelas bisa menyebabkan kemiskinan bagi dirinya dan menimbulkan beban bagi masyarakat lainnya. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana, apabila tidak dengan segera diatasi sama saja halnya akan menimbulkan beban bagi masyarakat umum lainnya. Mereka yang kena bencana alam, umunya tidak memiliki tempat tinggal bahkan sumber-sumber daya alam yang mereka miliki sebelumnya habis oleh pengikisan bencana alam. Kemiskinan yang disebabkan bencana alam, biasanya pihak pemerintah mengambil, atau menempuh dua cara, pertama sebagai pertolongan sementara diberikan bantuan secukupnya dan tindakan berikutnya mentrasmigrasikan mereka ke tempat-tempat lain yang lebih aman dan memungkinkan mereka bisa hidup layak.
Kemiskinan buatan disebut juga kemiskinan struktural, ialah kemiskinan yang ditimbulkan oleh dan dari struktur-struktur ekonomi, sosial dan kultur serta politik. Kemiskinan struktur ini selain ditimbulkan oleh struktur penenangan atau nrimo memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir Tuhan.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kemiskinan itu pada hakikatnya langsung berkait dengan sistem masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya ekonomi atau politik, social dan budaya. Sehingga penanganannya harus berlangsung secara menyeluruh dengan suatu strategi yang mengandung kaitan semua aspek dan perikehidupan manusia. Bisa dimulai dengan resep ekonomi, kemudian ditunjang oleh tindakan , sosial, dan politik yang nyata. Namun demikian, dalam kenyataannya bahwa masalah memerangi kemiskinan sering kali menjadi suatu masalah perdebatan di antara mereka yang yang merasa ada kaitannya dengan masalah tersebut, yaitu berkenaan dengan cara dan sasarannya. Adanya orang-orang yang tergolong miskin, seperti orang tua, cacat, anak-anak yang orang tuanya miskin, orang yang pendapatannya di bawah garis kemiskinan.
Pendapat lain ada yang mengatakan, bahwa usaha memerangi kemiskinan hanya dapat berhasil kalau dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin. Karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dinaikkan, seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada meereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan di sektor-sektor ekonomi lainnya.
Karena kemiskinan diantaranya disebabkan oleh struktur ekonomi, maka terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari suatu struktur. Inti pokok dari struktur adalah realisasi hubungan antara suatu subyek dan obyek, dan antara subyek-subyek komponen-komponen yang merupakan bagian dan suatu sistem. Maka permasalahan struktur yang paling penting dalam hal ini adalah pola relasi.
2.3 PROSES PERUBAHAN SOSIAL
            Menurut Roy Bhaskar (1984), perubahan sosial biasanya terjadi secara wajar (naturaly), gradual, bertahap serta tidak pernah terjadi secara radikal atau revolusioner. Proses perubahan sosial meliputi : Proses Reproduction dan proses Transcormation.
            Proses Reproduction adalah proses mengulang-ngulang, menghasilkan kembali segala hal yang diterima sebagai warisan budaya dari nenek moyang kita sebelumnya. Dalam hal ini meliputi bentuk warisan budaya yang kita miliki. Warisan budaya dalam kehidupan keseharian meliputi :
a.       Material (Kebendaan, teknologi)
b.      Immaterial (Non benda, adat, norma, dan nilai-nilai)
Roy Bhaskar menyatakan, reproduction berkaitan dengan masa lampau perilaku masyarakat, yang berhubungan dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Transformasi merupakan suatu proses masa depan yang akan menjadi ancangan perilaku manusia, yang sebetulnya dasar perilaku strukturalnya telah tertanam pada masa sekarang dan masa lalu. Dengan demikian transformasi masa depan bukanlah perilaku yang lepas dari dasar kegiatan manusia pada masa sekarang serta masa lalunya. Kondisi ini berlaku bagi masayarakat dunia, yang menerima perubahan sebagai proses kematangan sehingga sebenarnya perubahan social akan berjalan dengan menapak sebagai penahapan model kematangan perilaku manusia, dari suatu masa ke masa yang lain. Setiap jenis kematangan akan mengikuti aspekyang telah dilakukan, jauh sebelum sebuah perilaku masyarakat berubah pada masa kini. Pada masa sekarang ini yang banyak dilakukan orang adalah mengulang-ngulang apa yang pernah kita miliki, sehingga hanya sedikit sekali kesempatan untuk mengubahnya atau mengadakan pembaharuan secara simultan. Reproduction dapat diamati dari kemajuan bidang teknologi, peralatan ‘Hi-tech’ misalnya akan memiliki basis teknologi yang telah dikembangkan terlebih dahulu (Industri outo-motive, electronic dll)
            Proses Transformation adalah suatu proses penciptaan hal yang baru (something new) yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (tools and technologies) , yang berubah adalah aspek budaya yang sifatnya material, sedangkan yang sifatnya norma dan nilai sulit sekali diadakan perubahan (bahkan ada kecenderungan untuk dipertahankan). Sebagai contoh orang Jawa memakai pakaian dengan setelan dasi dan jas, tetapi nilai kehidupannya masih tetap Wonogiri atau Purwodadi Grobogan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya yang tampak (material) lebih mudah diubah, tetapi sikap hidup adalah menyangkut nilai-nilai yang sukar untuk dibentuk kembali.
            Menurut kalangan sejarawan Inggris, hanya  bangsa yang mampu menjawab tantanganlah yang akan tetap eksis di dunia ini. Sedangkan bangsa yang tidak berani menjawab tantangan akan selalu tergilas dalam proses perubahan. Bangsa Jepang, mungkin merupakan pilihan sedikit dari bangsa-bangsa di dunia ini yang memiliki kemampuan menjawab tantangan zaman dengan keberanian mengubah perilaku teknologi serta mengubah nilai kehidupannya.
            Teori modernisasi barat, berasal dari akumulasi budaya dan teknologi barat (Industrialisasi) yang dapat mengubah hal-hal yang berisi tradisi seperti norma dan lain-lain. Namun kasus di Indonesia kenyatannya tidaklah demikian, perilaku bertekonologi modern yang masuk dengan industrialisasi tidak disertai dengna perubahan nilai-nilai yang berlaku. Dalam proses perubahan social, dunia ke tiga dapat meniru perubahan dari dunia kedua, sedangkan dunia pertama terjadi perubahan yang sangat alamiah, salah satu kekuatannya terjadi karena kekuatan modal (kapital).
2.3.1        Konsep Perubahan Sosial
Membahas perubahan social tidak dapat lepas dari konteks filsafat barat yaitu suatu pandangan terhadap kemajuan manusia dalam masyarakat yang ditimbulkan oleh kemajuan masyarakatnya. Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat ditopang oleh dua kelompok pemikiran utama yaitu filsafat yunani (Greek Philosophy) dan perilaku kehidupan ke kristenan (Christianity) yang sifatnya progresif dan perfection.
2.3.2        Teori Perubahan Sosial (Menurut Teori Sosial Klasik)
Teori sosiologi klasik muncul dari tiga tokoh (Karl Marx, Marx Weber, dan Emile Durkheim) yang secara khusus memang menjadi peletak dasar teori dasar yang nantinya menjadi induk dari perkembangan teori-teori sosiologi yang muncul kemudian. Dalam memahami perubahan social ketiga tokoh ini berusaha memahami fenomena perubahan secara radikal terutama untuk masyarakat barat yang sedang beralih dari struktur agraris ke struktur industri.
Ketiga pemikir tersebut mencuat pemikirannya hampir secara bersamaan pada abad 19, tepat ketika benua Eropa tepat setelah revolusi di Prancis. Substansi pemikiran mereka disarikan berasal dari sumber Lewis A. Coser selaku editor yang berasal beberapa sumber utama (Lewis A. Coser and Bernard Resenberg, edidor, 1976; Lewis A Coser, editor, 1977), Henry Etzkowitz and Ronald M. Glassmant, editor, 1991 Doyle Paul Johnson, 1986 dan Jonathan H. Turner (1998).
Pemikiran Karl Max, Emile Durkheim dan Max Weber tersebut pada awalnya hanya melihat perkembangan masyarakat di benua Eropa, tetapi mereka masing-masing juga mencari relevansi dengan benua lain dalam batas-batas kemampuan generalisasi yang wajar.















BAB III
STUDI KASUS

Kondisi kemiskinan di DKI Jakarta
Data kemiskinan di DKI Jakarta
1.tahun2005=316,2
2.tahun2006=407,1
3.tahun2007=405,7
4.tahun2008=379,6
5.tahun2009=323,2
6.tahun2010=312,2                              

3.1   GAMBARAN KONDISI WILAYAH DKI JAKARTA
DKI Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 9.15 juta jiwa sehimgga Jakarta merupkan salah satu kota terpadat di wilayah Negara Indonesia
Dengan jumlah penduduk yang banyak maka DKI Jakarta mempunyai banyak masalah kependudukan yang salah satunya adalah masalah kemiskinan yang kurun tahun jumlahnya selalu meningkat.
Dan salah satu penyebab kemiskinan adalah kurngnya lapangan pekerjaan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta menurut data BPS Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja sebesar 4,77 juta orang dan bukan angkatan kerja 2,18 juta orang tetapi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja yang ada.



3.2 KONDISI KEMISKINAN DI WILAYAH DKI JAKARTA
Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 sebesar 323,17 ribu orang (3,62 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2008 sebesar 379.6 ribu orang (4,29 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 57,45 ribu (0,67 persen). Keadaan ini dapat terjadi karena salah satu penyebabnya adalah adanya deflasi pada bulan januari sampai maret sebesar 0,13%
Dari data BPS pula dapat dikatakan bahwa kemiskinan dari tahun-ketahun secara umum dikatakan meningkat.
3.3 CONTOH KASUS KEMISKINAN SAAT INI DI WILAYAH DKI JAKARTA
Harus diakui, Jakarta mempunyai berbagai program pemberantasan kemiskinan. Akan tetapi, program itu hanya menjangkau warga miskin ber-KTP DKI. Padahal,banyak warga miskin pendatang dari daerah-daerah di Jawa, bahkan juga luar Jawa, yang tidak tercatat sebagai penduduk DKI.

Sumber :
BPS Provinsi DKI Jakarta. 2009. Jakarta Dalam Angka 2009. Jakarta : BPS Provinsi DKI Jakarta







BAB IV
PENUTUP
ANALISA DAN KESIMPULAN

4.1 ANALISA
Faktor penyebab kemiskinan secara umum yakni :
1.      Tingkat pendidikan yang rendah
2.      Produktivitas tenaga kerja rendah
3.      Tingkat upah yang rendah
4.      Distribusi pendapatan yang timpang
5.      Kesempatan kerja yang kurang
6.      Kualitas sumberdaya alam masih rendah
7.      Penggunaan teknologi masih kurang
8.      Etos kerja dan motivasi pekerja yang rendah
9.      Kultur/budaya (tradisi)
10.  Politik yang belum stabil
Kesemua faktor tersebut di atas saling mempengaruhi, dan sulit memastikan penyebab kemiskinan yang paling utama atau faktor mana yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung. Kesemua faktor tersebut merupakan VICIOIS CIRCLE (Lingkaran setan) dalam masalah timbulnya kemiskinan

Dampak kemiskinan bagi masyarakat
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.

Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritonga menyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukup dominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya [74,99 persen].

Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].

Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.

Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.

Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan "pemiskinan struktural" terhadap rakyatnya.

Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.

Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.

Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.

Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
Solusi dari dampak kemiskinan :
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas kuncinya harus ada kebijakan dan strategi pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan jangka panjang. Pemerintah boleh saja mengejar pertumbuhan-ekonomi makro dan ramah pada pasar. Tetapi, juga harus ada pembelaan pada sektor riil agar berdampak luas pada perekonomian rakyat.
Ekonomi makro-mikro tidak bisa dipisahkan dan dianggap berdiri sendiri. Sebaliknya keduanya harus seimbang-berkelindan serta saling menyokong. Pendek kata harus ada simbiosis mutualisme di antara keduanya.

Perekonomian nasional dengan demikian menjadi sangat kokoh dan vital dalam usaha pemenuhan cita-cita tersebut. Perekonomian yang tujuan utamanya adalah pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan memihak rakyat maka mustahil cita-cita tersebut dapat tercapai. Intinya tanpa pemaknaan yang subtansial dari kemerdekaan politik menjadi kemerdekaan ekonomi maka sia-sialah pembentukan sebuah negara. Mubazirlah sebuah pemerintahan. Oleh karenanya pentingnya menghapus kemiskinan sebagai prestasi pembangunan yang hakiki.
4.2  KESIMPULAN
            Berdasarkan analisa pembahasan di atas, kondisi kemiskinan di Indonesia khususnya lingkup DKI Jakarta sangat memprihatinkan. Setelah penulis menganalisis ada 3 macam kemiskinan yaitu absolute, relative, cultural.Ini disebabkan karena beberapa faktor seperti  tingkat pendidikan yang rendah, produktivitas tenaga kerja rendah, tingkat upah yang rendah, distribusi pendapatan yang timpang, kesempatan kerja yang kurang, dll. Dampak dari kemiskinan sangat dirasakan masyarakat diantaranya adalah pengangguran, maraknya kekerasan dimana-mana, pendidikan yang terganggu. Hal ini menyebabkan perubahan sosial sulit berkembang.













DAFTAR PUSTAKA

·         Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial : Sketsa Teori dan Refleksi metodologi kasus Indonesia. Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya
·         Ahmadi, Abu. 1991. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta
·         id.shvoong.com › Menulis & BicaraPresentasi : Faktor-faktor penyebab kemiskinan di Indonesia


Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Makalah ISBD Kemiskinan"

 
Copyright © 2014 Knowladge Is Free - All Rights Reserved - DMCA
Template By Kunci Dunia