BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Berpikir
merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan manusia dengan makhluk
lain. Dengar dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh
akal dapat memikirkannya. Berpikir juga disebut juga sebagai proses bekerjanya
akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan demikian akal
merupakan intinya, sebagai sifat hakikat, sedang makhluk sebagai genus yang
merupakan hakikat dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang
berakal.
Akal
merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping
rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal
inilah manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki. Berpikir banyak
sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan antara berpikir
alamiah dan berpikir ilmiah. Bepikir alamiah yang dimaksud di sini adalah pola
pemikiran berdasarkan kebiasaan sehari-hari dan pengaruh alam sekelilingnya.
Misalnya; penalaran tentang panas yang dapat membakar, jika dikenakan kayu maka
pasti akan terbakar. Sedangkan berpikir ilmiah yang dimaksudkan adalah pola
penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat, misalnya; dua
hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat
yang sama dalam satu kesatuan.[1]
Hasil
dari berpikir adalah pengetahuan. Berpikir adalah suatu proses, proses berpikir
itu biasa disebut bernalar manusia melakukan proses berpikir untuk berusaha
tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pertanyaan lain
yang telah diketahui(The, 1999: 21). Pernyataan yang telah diketahui itu
disebut pangkal pikir(premise),
sedangkan pernyataan baru yang yang diturunkan dinamakan simpulan(conclusion). Menjadi pernyataan
berikutnya adalah: apakah pernyataan atau pengetahuan yang dihasilkan melalui
penalaran mempunyai dasar kebenaran? Untuk menjawab hal ini maka perlu dilacak,
apakah proses berpikir atau penalaran yang dilakukan itu telah malalui cara tertentu
dan sampai kepada cara penarikan kesimpulan yang sahih (valid) sesuai dengan
cara tertentu tersebut? Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika.
Terdapat berbagai cara penarikan kesimpulan, namun dalam dunia keilmuan secara
garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis cara penarikan simpulan, yakni
lagika induktif dan logika deduktif.[2]
Berpikir deduktif adalah salah satu metode dalam bernalar
selain berpikir induktif. Menurut wikipedia, berpikir deduktif adalah “ metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.” misalnya: “ Sekolah tersebut
adalah sekolah terfavorit(Umum) karena lulusannya memiliki prestasi yang
cermelang(khusus) dan berpontensi tinggi(khusus) ” atau “ setiap mamalia(umum)
pasti melahirkan, dan kuda(khusus) adalah hewan mamalia”.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang
permasalahan di atas, dapat kami
1. Apa
yang dimaksud dengan berpikir ilmiah?
2. Apa
yang dimaksud dengan deduktif?
3. Bagaimana
cara merumuskan ide secara deduktif ?
4. Apa yang dimaksud dengan silogisme?
5. Apa saja macam-macam silogisme?
6. Bagaimana
cara pengambilan keputusan yang benar?
3.
TUJUAN
Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas matakuliah Pengantar Filsafat Ilmu
dan untuk mengetahui hal-hal yang baru terutama dalam hal filsafat seperti di
bawah ini :
1. Mengetahui pengertian
penalaran deduktif?
2. Mengetahui macam-macam
metode penalaran deduktif dalam Filsafat Ilmu?
3. Mengetahui bagaimana
menentukan kebenaran dengan metode deduktif?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Berpikir
Ilmiah
Ada berbagai macam definisi yang bisa dijadikan
sebagai rujukan untuk memahami definisi berpikir. Diantaranya;
a. Philip L.
Harriman mengungkapkan, bahwa berpikir adalah suatu aktivitas dalam menanggapi
suatu situasi yang tidak objektif yang menyerang organ panca indera.
b. Drever
mengemukakan masalah berpikir sebagai berikut: “thinking is any course or
train of ideas; in the narrower and stricter sense, a course of ideas initiated
by a problem”. Artinya, bahwa berpikir bertitik tolak dari
adanya persoalan atau problem yang dihadapi secara individu.
c. Menurut
Floyd L. Ruch, berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur
lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung
melakukan kegiatan yang tampak3.
Dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana,
berpikir dapat didefinisikan sebagai proses yang intens untuk memecahkan
masalah dengan meghubungkan satu hal dengan yang lainnya. Sebagaimana yang
diungkapkan Anita Taylor, bahwa berpikir adalah proses penarikan
kesimpulan (thinking is a inferring process).
Manusia berpikir
untuk menemukan pemahaman atau pengertian, pembentukan pendapat, dan kesimpulan
atau keputusan dari sesuatu yang kita kehendaki. Menurut J.S.Suriasumantri4, ‘manusia – homo sapiens, makhluk
yang berpkir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang
lahat, dia tak pernah berhenti berpkir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut
dengan perikehidupan yang terlepas dari jangkauan pikirannya, dari soal paling
remeh sampai soal paling asasi”.
“Berpikir merupakan
ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lain.
Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal
dapat memikirkannya. Berpikir merupakan proses bekerjanya akal, manusia dapat
berpikir karena manusia berakal.
Akal merupakan
salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di
samping rasa dan kehendak untuk mencapai kebaikan”5. Dengan demikian, “cirri utama dari berpkikir
adalah adanya abstraksi. Maka
dalam arti yang luas kita dapat mengatakan berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi.
Sedangkan dalam arti yang sempit
berpikir adalah meletakan atau mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi.
“Secara garis besar
berpikir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah,
pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam
sekelilingnya [katakan saja : penalaran tentang api yang dapat membakar].
Berpikir ilmiah, pola penalaran berdasarkan sasaran tertentu secara teratur dan
cermat [dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu
pada saat yang sama dalam satu kesatuan].
Dari dua pola berpikir di atas, akan dibahas pola
berpikir ilmiah dan lebih khusus di fokuskan pada pembahasan “logika dan
statistika sebagai sarana berpikir ilmiah”.
2. Sarana Berpikir Ilmiah
“Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan
pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti
jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang
berupa pengetahuan”6. Oleh karena itu, proses
berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan diperlukan
sarana tertentu yang disebut dengan sarana berpikir ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu
kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah
tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu pula. Tanpa penguasaan sarana
berpikir ilmiah kita
tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Untuk dapat
melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir
ilmiah berupa:
[1] Bahasa Ilmiah,
[2] Logika dan metematika,
[3] Logika dan statistika5.
Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang
dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir
dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir
ilmiah kepada orang lain. Logika dan matematika mempunyai peran penting dalam
berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali
kebenarannya. Sedangkan logika dan statistika mempunyai peran penting dalam
berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum”.
Matematika
mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti
dan dilacak kembali kebenaranya sedangkan statistika mempunyai peranan penting
dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum. Proses
pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian
ilmiah yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau
menolak hipotesis yang diajukan.
3. Pengertian Penalaran Deduktif
Metode
ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja,
tata langkah, dan cara tehnis untuk memperoleh pengetahuan baru atau
memperkembangkan pengetahuan yang ada. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik
harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu
langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan
masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah
tersebut.
Para
ilmuwan dan filosuf memberikan pula berbagai perumusan mengenai pengertian
metode ilmiah. George Kneller menegaskan : Dengan ‘metode ilmiah’ kami
maksudkan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang di situ
pangkal-pangkal duga di susun dan di uji.Sebuah contoh lagi dari Harold Titus
merumuskan metode ilmiah sebagai “ Proses-proses dan langkah-langkah yang dengan
itu ilmu-ilmu memperoleh pengetahuan”.
Logika
dan matematika merupakan dua pengetahuan yang selalu berhubungan erat, yang
keduannya sebagai sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa
artifisial, yakni murni bahasa buatan. Baik logika maupun matematika lebih
mementingkan bentuk logis pertanyaan-pertanyaannya mempunyai sifat yang jelas.
Pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang
lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis
yang kebenarannya telah ditentukan.7
1.
Menentukan
kebenaran dengan metode deduktif
Deduksi
adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari
dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme
ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi premsi mayor dan
premis minor.
Syllogisme tersusun dari dua
buah pernyataan (premis) dan sebuah kesimpulan (konklusi).
Penyataan yang mendukung
syllogisme itu disebut premis mayor dan premis minor. Konklusinya merupakan
pengetahuan yang diperoleh dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis
itu.
Contoh klasik metode
berpikir dimaksud dilukiskan sebagai syllogisme. Misalnya proses berpikir:
·
Premis mayor : semua manusia mengalami mati
·
Premis minor : Ali manusia
·
Konklusi : Ali mengalami mati
Konklusinya
benar, karena didukung oleh kedua premis yang juga benar. Dapat juga terjadi
konklusinya salah, meskipunkedua premis itu benar, apabila cara penarikan
konklusi itu salah. Jadi
kebenaran suatu kesimpulan /konklusi tergantung kepada tga faktor tersebut di
atas.
MACAM-MACAM SILOGISME
1.
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua posisinya merupakan
proposisi kategorik , Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita
berpijak harus merupakan proposisi universal , sedangkan pangkalan khusus tidak
berarti bahwa proposisinya harus partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga
proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya
.
Hukum-hukum Silogisme Katagorial
o Apabila
salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
o Apabila
salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
o Apabila
kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan
o Apabila
kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini
dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya.
Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif
o Apabila
term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil
kesimpulan. Contoh; semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin.
Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata
o Term-predikat
dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya.
Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah
o Term
penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila
term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
o Silogisme
harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa
diturunkan konklsinya.
Contoh Silogisme Kategorial
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis
Mayor)
Semua manusia pasti akan meninggal
Tono adalah manusia
Jadi : Tono pasti akan meninggal
Tono adalah manusia
Jadi : Tono pasti akan meninggal
2.
Silogisme Hipotesis adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik
sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau
mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya
silogisme hipotetik tidk memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita
ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan
primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi.
Hukum-hukum
Silogisme Hipotetik Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh
lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting
menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan
yang benar. Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B,
maka hukum silogisme hipotetik adalah:
·
Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
·
Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana.
(tidak sah = salah)
·
Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah =
salah)
·
Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
Contoh Silogisme Hipotesis
Macam tipe silogisme hipotetik
a) Silogisme hipotetik yang
premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan ,
saya naik becak
Sekarang Hujan
.
Jadi saya naik
becak.
b) Silogisme
hipotetik yang premis
minornya mengakui bagian konsekwensinya , seperti :
Bila hujan ,
bumi akan basah
Sekarang bumi
telah basah .
Jadi hujan
telah turun
c) Silogisme
hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti
:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan
paksa , maka kegelisahan akan timbul .
Politik pemerintah tidak
dilaksanakan dengan paksa ,
Jadi kegelisahan tidak akan timbul
d) Silogisme hipotetik
yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya , seperti:
Bila mahasiswa turun kejalanan ,
pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa
tidak gelisah
Jadi mahasiswa
tidak turun ke jalanan
3.
Silogisme alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain
Contoh
My : Nenek susi berada di Bandung atau woniosobo.
Mn : Nenek Susi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
My : Nenek susi berada di Bandung atau woniosobo.
Mn : Nenek Susi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
My : Nenek
Susi berada di Bandung atau wonosobo.
Mn : Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
K : Jadi, Nenek Susi berada di Bandung.
Mn : Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
K : Jadi, Nenek Susi berada di Bandung.
kaidah Silogisme alternative
a) Silogisme
alternatif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur
penyimpulannya valid, seperti :
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata berbaju putih.
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata ia tidak berbaju putih.
Jadi ia berbaju non-putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata berbaju putih.
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata ia tidak berbaju putih.
Jadi ia berbaju non-putih.
b) Silogisme
alternatif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
·
Bila premis minor mengakui salah satu alterna
konklusinya sah (benar), seperti:
Budi menjadi guru atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Budi menjadi guru atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Budi menjadi guru atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
·
Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya
tidak sah (salah), seperti:
Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).
Budi menjadi guru atau pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa j’adi ia seorang pedagang).
Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).
Budi menjadi guru atau pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa j’adi ia seorang pedagang).
4. ENTIMEN
Di atas telah disinggung bahwa silogisme jarang sekali
ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam tulisan pun, bentuk itu
hampir tidak pernah digunakan. Bentuk yang biasa ditemukan dan dipakai ialah
bentuk entimem. Entimem ini pada
dasarnya adalah silogisme. Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan
karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua:
a. menipu adalah dosa
b. karena (menipu) merugikan orang lain.
Kalimat a
merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor (karena bersifat
khusus). Maka silogisme dapat disusun:
Mn : menipu
merugikan orang lain
K :menipu
adalah dosa.
Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah
premis mayor. Untuk melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu
bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva "menipu". Kita
dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan
orang lain adalah dosa. Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula
kita cari dulu ke-simpulannya. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah
kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya.
Kalau sudah, kita temukan apa premis yang dihilangkan.
Contoh lain:
Pada malam
hari tidak ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.
Bagaimana
bentuk silogismenya?
My : Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Mn : Pada malam hari tidak ada matahari
K : Pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.
Sebaiknya,
kita juga dapat mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan
salah satu premisnya.
Contoh:
My : Anak-anak yang berumur di atas sebelas
tahun telah mampu berpikir formal.
Mn : Siswa kelas VI di Indonesia telah berumur
lebih dari sebelas tahun
K : Siswa kelas VI di Indonesia telah mampu
berfikir formal
Kalau dihilangkan premis mayornya entimemnya akan
berbunyi “siswa kelas VI di Indonesia telah berumur lebih dari sebelas tahun,
jadi mereka mampu berpikir formal”. Atau dapat juga “Anak-anak kelas VI di
Indonesia telah mampu berpikir formal karena mereka telah berumur lebih dari
sebelas tahun”. Kalau dihilangkan premis minornya menjadi “Anak-anak yang
berumur di atas sebelas tahun telah mampu berpikir formal; karena itu siswa
kelas VI telah mampu berpikir formal.
SILOGISME
TIDAK SEMPURNA
Silogisme
tidak sempurna adalah pernyataan dalam
tulisan-tulisan ataupun pernyataan sehari-hari yang tidak menggunakan
silogisme lengkap berupa dua proposisi yang berupa premis mayor dan premis
minor dan sebuah konklusi.
Silogisme tidak sempurna umumnya
terbagi dua jenis:
1. Silogisme
yang bagian atau bagian-bagiannya telah dihilangkan.
2. Silogisme
yang telah digabungkan dalam suatu rangkaian pemikiran tertentu.
Bentuk-bentuk silogisme tidak sempurna
diantaranya adalah:
1. Enthymeme adalah silogisme yang premis mayor atau premis
minornya dihilangkan karena dianggap telah diketahui oleh semua orang sehingga
ridak perlu disebut lagi.
Contoh:
·
Aly adalah manusia, maka ia dapat mati.
Silogisme di atas hanya terdiri atas premis minor dan
konklusi, sedangkan premis mayornya tidak disebutkan. Premis moyornya adalah Semua manusia dapat mati.
·
Andy tidak sempurna
Hanya konklusi yang disebut; premis mayor dan premis
minornya tidak disebut . premis mayor dan premis minornya adalah.
Tidak
seorang pun manusia yang sempurna.
Andy
adalah manusia.
2. Epicheirema adalah silogisme yang salah satu atau kedua premisnya
ditambah dan diperluas dengan memberi alasan atau bukti. Premis atau
premis-premis dalam Epicheirema merupakan konklusi dari suatu silogisme
tersendiri sehingga premis-premis itu merupakan Enthy-meme yang disusun sedemikian rupa untuk memperoleh konklusi
baru.
Contoh:
Tidak
seorang pun manusia yang sempurna karena hanya tuhan yang sempurna.
Plato adalah seorang manusia karena bertubuh dan
berakal budi.
Jadi,
Plato tidak sempurna.
Premis mayor tidak seorangpun manusia yang sempurna
merupakan sebuah Ethymeme karena ia merupakan konklusi dari silogisme berikut
Segala sesuatu yang bukan Tuhan adalah tidak
sempurna.
Manusia bukan Tuhan.
Jadi, tidak seorang pun manusia yang
sempurna.
3. Polisilogisme adalah sederetan
silogisme yg dihubung-hubungkan sbg simpulan yg ditarik dr suatu silogisme,
berfungsi sbg premis silogisme berikutnya.
Jika semua warga PDI adalah WNI, dan semua WNI harus
ber-Ketuhanan Yang Maha Esa maka semua wara PDI harus ber-Ketuhanan Yang Maha
Esa, dan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa tidak beraliran komunis maka warga
PDI tidak beraliran komunis.
4. Sorites adalah Suatu
bentuk silogisme yang premisnya berkait-kaitan lebih dari 2 proposisi pertama
dengan salah satu term proposisi terahkir yang keduanya bukan term pembanding. Semua peserta tes pegawai negeri adalah WNI, dan WNI
harus berpancasila, dan semua yang berpancasila tidak berpaham komunis maka
semua peserta tes bukan berpaham komunis.
1.
Syarat2 sorites
a.
Jika dalam perkaitan itu
lingkunan term berjalan dari term yang luas meliputi term yang sempit maka
perkaitan selanjutnya tidak boleh dibalik walaupun term tersebut sebagai subjek
atau predikat.
b. Jika dalam perkaitan itu lingkunan term berjalan dari term
yang sempit meliputi term yang luas maka perkaitan selanjutnya tidak boleh
teribalik walaupun term tersebut sebagai subjek atau predikat.
c. Jika dalam perkaitan itu ada negasimaka yang menegasikan atau
yang dinegasikan harus term yang lebih luas.
d. Jika dalam perkaitan itu tiap proposisi sebagai premis
berbentuk ekuivalen maka sampai proposisi tak terhingga pun kesimpulannya tetap
berbentuk ekuivalen.
5. Dilema adalah argumentasi,
dalam arti sempit merupakan suatu pembuktian. Dalam pembuktian itu ditarik
kesimpulan yang sama dari dua atau lebih dari dua keputusan disjungtif.
Konklusinya, berupa proposisi disjungtif, tetapi bisa proposisi kategorik.
Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat.
Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan.
6. Paradoks
Kendatipun
Aristoieles telah menyinggung paradoks di dalam logikanya, yang membahas secara
mendetail dan mengembangkannya sedemikian rupa adalah para penganut mazhab
Stoa, khususnya Chrysippus (280-207 SM). Chrysippus adalah pemimpin mazhab Stoa
yang ketiga dan yang terbesar. Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari
sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan
dan akan tiba pada konklusi yang mengandung konflik atau kontradiksi. Paradoks
disebut juga antinomi karena melanggar principium contradicuonis (law of
contradiction) atau hukum kontradiksi yang menyatakan bahwa tidak mungkin
sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Yang
di-maksudkan ialah mustahil ada hal yang bertentangan pada sesuatu pada waktu
yang bersamaan.
Paradoks
yang tertua dan sangat terkenal ialah paradoks pembohong (liar paradox),
sebagai berikut: Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta
adalah pembohong. Apakah pernyataan itu benar? Ikutilah rangkaian premis
berikut yang akan tiba pada dua konklusi yang bertentangan: Jika yang dikatakan
Epimenides benar, ia bukan pembohong.
Jika
Epimenides bukan pembohong. apa yang dikatakannya tidak benar, Jika apa yang
dikatakannya tidak benar, ia pembohong. Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang
jujnr (konklusi pertama). Jika yang dikatakan Epimenides lidak benar, ia adalah
pembohong. Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar. Jika apa yang
dikatakannva tidak benar, itu berurti bahwa ia adalah orang jujur Jadi, ia
adalah orang jujur dan bukan pembohong (konklusi kodua). Apa yang dikatakan
Epimenides sesungguhnya secara serentak mengandung kebohongan dan kebenaran.
Jika kebohongan, ia benar-benar pembohong, dan Jika kebenaran, ia adalah
seorang yang jujur.
Pernyataan: Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa
semua orang Kreta adalah pembohong
Rangkaian premis berikut in akan tiba pada dua
konklusi yang bertentangan:
·
Jika apa yang dikatan Epimenides benar,
ia bukan pembohong.
·
Jika Epimenides bukan pembohong, apa
yang dikatakannya tidak benar.
·
Jika apa yang dikatakannya tidak benar, ia pembohong.
Konklusi
pertama
·
Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang jujur.
·
Jika yang dikatakan Epimenides tidak
benar, ia adalah pembohong.
·
Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
·
Jika apa yang dikatakannya tidak benar, itu berarti
bahwa ia adalah orang jujur.
Konklusi kedua
·
Jadi, ia adalah orang jujur dan bukan pembohong.
Logika
deduktif dalam proses penalarannya memakai premis-premis berupa pengetahuan
yang dianggap benar. Yang penting kita ketahui dari syllogisme dan
bentuk-bentuk inferensi atau penalaran deduktif yang lain ialah bahwa masalah
kebenaran dan ketidakbenaran pada premis-premis itu tidak pernah timbul, karena
premis-premis yang selalu diambil adalah yang benar. Ini berarti bahwa konklusi
memang sudah didasari oleh kondisi kebenaran.
Filsafat
melahirkan ilmu pengetahuan. Tetapi sebaliknya, perkembangan berpikir seorang
pribadi, melalui proses pertama tingkat indera, kedua tingkat ilmiah (rasional kritis,
obyektif, sistematis) ketiga tingkat filosofis (reflective thinking) dan
keempat tingkat religius. Uraian ini berpangkal pada kenyataan bahwa pribadi
pada filosof yang ada misalnya Aristoteles, Russell, Dewey, Newton, Einsten,
dan lain-lain mula-mula mereka scientist. Kemudian setelah makin mendalam
ilmunya, mereka mencapai puncak kematangan dan integratis pribadi sebagai
filosof yang mana sebelum mnjadi scientist adalah manusia biasa, remaja yang
mengerti dengan panca indera.
Metode
utama dalam filsafat memang contemplative, deductive, speculative. Namun ini
tak berarti filsafat tidak mempergunakan metode inductive. Bahkan dewasa ini,
ilmu (dengan segala metode ilmiah) merupakan pelengkap bagi
kesimpulan-kesimpulan filsafat. Karena itu dalam batas-batas tertentu filasafat
mempergunakan metode-metode ilmiah, termasuk induktif untuk mendapat kebenaran
yang valid melalui che-ing, re-cheching dan cross-checking.8
4.
Cara
Pengambilan Keputusan Yang benar
Apabila
kita menyatakan suatu pendapat (suatu pengertian) maka itu dinamakan keputusan
(proposition, qodlijah). Apakah pendapat itu benar atau salah itu belumlah
dipersoalka. Demikian juga suatu perbuatan haruslah berdasarkan pada suatu
keputusan walaupun hanya dalam pikiran saja (belum diucapkan). Dengan demikian
berarti dalam setiap hari ratusan atau ribuan kali kita mengambil keputusan
baik kita nyatakan secara lisan maupun sambil disimpan dalam hati dinyatakan
dalam perbuatan saja.
Keputusan
ini merupakan suatu kegitan rohani baik menyungguhkan (mudjabah) ataupun
mengingkari (salibah). Menyungguh misalnya: semua
orang Negro hitam. Mengingkari misalnya: semua orang Negro tidak putih.
Yang
menjadi persoalan pada logika ini ialah keputusan yang diucapkan atau ditulidkan dalam susunan kata-kata yang
teratur yakni dalam susunan kalimat-kalimat yang lengkap dengan subjek dan
predikatnya.
BAB
III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Deduksi
adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari
dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme
ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi premsi mayor dan
premis minor.
Sarana
ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang
harus ditempuh yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik. Prosedur
yang merupakan metode ilmiah sesungguhnya tidak hanya mencakup pengamatan dan
percobaan seperti dikemukakan dalam salah satu definisi di atas. Masih banyak
macam prosedur lainnya yang dapat dianggap sebagai pola-pola metode ilmiah,
yaitu analisis (analysis), pemerian(description), penggolongan
(classification), pengukuran(measurement), perbandingan(comparison), survei
(survey).
Suatu
proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan pengetahuan disebut penalaran.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang berlawanan dengan penalaran
induktif. Deduktif adalah penalaran atau cara berpikir yang menolak dari
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum, menarik kesimpulan yang bersifat
khusus.
Dengan berpikir atau
bernalar, merupakan suatu bentuk kegiatan akal/rasio manusia dengan mana
pengetahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk
mecapai suatu kebenaran…
Proses penalaran dapatlah disusun melalui observasi dan
eksperimen, hipotesis ilmiah, verifikasi dan pengukuhan, teori dan hukum
ilmiah.
3.2.
Kritik dan Saran
Dalam penyusunan makalah ini
penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, dalam hal ini kami
mengharapkan kritik dan saran dari para pendengar dan pembaca yang budiman demi
kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Filsafat ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2007 Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan
Ilmu Pengetahuan, Liberty Yogyakarta
Ihsan A.Fuad, 2010 Filsafat Ilmu , rineka Cipta
J.S.Suriasumantri, 1997 Ilmu
dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Yayasan
Obor Indonesia,
Gie, The Lang. 2010 Pengantar
Filsafat Ilmu. Librty
Yogyakarta
Bakry, Hasbullah 1970, Sistematik
Filsafat, Widjaya Djakarta
Anonim”merumuskan
ide secara deduktif” http://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses tanggal 09 maret 2013
Anonim,
“berpikir ilmiah”http://mutiarafatur.blogspot.com/2011/12/berpikir-psikologi-umum.html diakses
tanggal 8 maret 2013.
[1] Tim
Dosen Filsafat ilmu Fakultas Filsafat
UG, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan 2007, Liberty Yogyakarta hal. 97
3
Anonim, “berpikir ilmiah”http://mutiarafatur.blogspot.com/2011/12/berpikir-psikologi-umum.html
diakses tanggal 8 maret 2013
4
J.S.Suriasumantri, Ilmu dalam
Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Yayasan Obor Indonesia, 1997, hlm. 1
5 Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Liberti, Yogyakarta, 1992, hlm. 97.
7 Anonim”merumuskan ide secara deduktif” http://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses
tanggal 09 maret 2013
8 Anonim”merumuskan
ide secara deduktif” http://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses tanggal 09 maret 2013
0 Komentar untuk "Makalah Pengentar Filasat Ilmu "MERUMUSKAN IDE SECARA DEDUKTIF DAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG BENAR""