Knowladge Is Free

Catatan Kuliah Teknik Informatika dan lain-lain

Makalah Pengentar Filasat Ilmu "MERUMUSKAN IDE SECARA DEDUKTIF DAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG BENAR"

BAB I
PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan manusia dengan makhluk lain. Dengar dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir juga disebut juga sebagai proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan demikian akal merupakan intinya, sebagai sifat hakikat, sedang makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal.
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki. Berpikir banyak sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan antara berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Bepikir alamiah yang dimaksud di sini adalah pola pemikiran berdasarkan kebiasaan sehari-hari dan pengaruh alam sekelilingnya. Misalnya; penalaran tentang panas yang dapat membakar, jika dikenakan kayu maka pasti akan terbakar. Sedangkan berpikir ilmiah yang dimaksudkan adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat, misalnya; dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan.[1]
Hasil dari berpikir adalah pengetahuan. Berpikir adalah suatu proses, proses berpikir itu biasa disebut bernalar manusia melakukan proses berpikir untuk berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pertanyaan lain yang telah diketahui(The, 1999: 21). Pernyataan yang telah diketahui itu disebut pangkal pikir(premise), sedangkan pernyataan baru yang yang diturunkan dinamakan simpulan(conclusion). Menjadi pernyataan berikutnya adalah: apakah pernyataan atau pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran mempunyai dasar kebenaran? Untuk menjawab hal ini maka perlu dilacak, apakah proses berpikir atau penalaran yang dilakukan itu telah malalui cara tertentu dan sampai kepada cara penarikan kesimpulan yang sahih (valid) sesuai dengan cara tertentu tersebut? Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika. Terdapat berbagai cara penarikan kesimpulan, namun dalam dunia keilmuan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis cara penarikan simpulan, yakni lagika induktif dan logika deduktif.[2]
Berpikir deduktif adalah salah satu metode dalam bernalar selain berpikir induktif. Menurut wikipedia, berpikir deduktif adalah “ metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.” misalnya: “ Sekolah tersebut adalah sekolah terfavorit(Umum) karena lulusannya memiliki prestasi yang cermelang(khusus) dan berpontensi tinggi(khusus) ” atau “ setiap mamalia(umum) pasti melahirkan, dan kuda(khusus) adalah hewan mamalia”.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat kami
1.    Apa yang dimaksud dengan berpikir ilmiah?
2.    Apa yang dimaksud dengan deduktif?
3.    Bagaimana cara merumuskan ide secara deduktif ?
4.    Apa yang dimaksud dengan silogisme?
5.    Apa saja macam-macam silogisme?
6.    Bagaimana cara pengambilan keputusan yang benar?

3.    TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas matakuliah Pengantar Filsafat Ilmu dan untuk mengetahui hal-hal yang baru terutama dalam hal filsafat seperti di bawah ini :
1. Mengetahui pengertian penalaran deduktif?
2. Mengetahui macam-macam metode penalaran deduktif dalam Filsafat Ilmu?
3. Mengetahui bagaimana menentukan kebenaran dengan metode deduktif?




BAB II
PEMBAHASAN
1.    Berpikir Ilmiah
Ada berbagai macam definisi yang bisa dijadikan sebagai rujukan untuk memahami definisi berpikir. Diantaranya;
a.    Philip L. Harriman mengungkapkan, bahwa berpikir adalah suatu aktivitas dalam menanggapi suatu situasi yang tidak objektif yang menyerang organ panca indera.
b.    Drever mengemukakan masalah berpikir sebagai berikut: “thinking is any course or train of ideas; in the narrower and stricter sense, a course of ideas initiated by a problem”.  Artinya, bahwa berpikir bertitik tolak dari adanya persoalan atau problem yang dihadapi secara individu.
c.    Menurut Floyd L. Ruch, berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak3.
Dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana, berpikir dapat didefinisikan sebagai proses yang intens untuk memecahkan masalah dengan meghubungkan satu hal dengan yang lainnya. Sebagaimana yang diungkapkan Anita Taylor, bahwa berpikir adalah proses penarikan kesimpulan (thinking is a inferring process).
Manusia berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian, pembentukan pendapat, dan kesimpulan atau keputusan dari sesuatu yang kita kehendaki. Menurut J.S.Suriasumantri4, ‘manusia – homo sapiens, makhluk yang berpkir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berpkir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut dengan perikehidupan yang terlepas dari jangkauan pikirannya, dari soal paling remeh sampai soal paling asasi”.

“Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir merupakan proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal.
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa dan kehendak untuk mencapai kebaikan”5. Dengan demikian, “cirri utama dari berpkikir adalah adanya abstraksi.  Maka dalam arti yang luas kita dapat mengatakan berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi.  Sedangkan dalam arti yang sempit berpikir adalah meletakan atau mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi.
“Secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: berpikir alamiah  dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah, pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya [katakan saja : penalaran tentang api yang dapat membakar]. Berpikir ilmiah, pola penalaran berdasarkan sasaran tertentu secara teratur dan cermat [dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan].  
Dari dua pola berpikir di atas, akan dibahas pola berpikir ilmiah dan lebih khusus di fokuskan pada pembahasan “logika dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah”.
2.    Sarana Berpikir Ilmiah
“Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan”6. Oleh karena itu, proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan diperlukan sarana tertentu yang disebut dengan sarana berpikir ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu pula. Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah berupa:
[1] Bahasa Ilmiah,
[2] Logika dan metematika,
[3] Logika dan statistika5.
Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah kepada orang lain. Logika dan matematika mempunyai peran penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Sedangkan logika dan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum”.
Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenaranya sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
3.    Pengertian Penalaran Deduktif
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara tehnis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah tersebut.
Para ilmuwan dan filosuf memberikan pula berbagai perumusan mengenai pengertian metode ilmiah. George Kneller menegaskan : Dengan ‘metode ilmiah’ kami maksudkan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang di situ pangkal-pangkal duga di susun dan di uji.Sebuah contoh lagi dari Harold Titus merumuskan metode ilmiah sebagai “ Proses-proses dan langkah-langkah yang dengan itu ilmu-ilmu memperoleh pengetahuan”.
Logika dan matematika merupakan dua pengetahuan yang selalu berhubungan erat, yang keduannya sebagai sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa artifisial, yakni murni bahasa buatan. Baik logika maupun matematika lebih mementingkan bentuk logis pertanyaan-pertanyaannya mempunyai sifat yang jelas. Pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan.7
1.    Menentukan kebenaran dengan metode deduktif
Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi premsi mayor dan premis minor.
Syllogisme tersusun dari dua buah pernyataan (premis) dan sebuah kesimpulan (konklusi).
Penyataan yang mendukung syllogisme itu disebut premis mayor dan premis minor. Konklusinya merupakan pengetahuan yang diperoleh dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis itu.
Contoh klasik metode berpikir dimaksud dilukiskan sebagai syllogisme. Misalnya proses berpikir:
·         Premis mayor : semua manusia mengalami mati
·         Premis minor : Ali manusia
·         Konklusi : Ali mengalami mati
Konklusinya benar, karena didukung oleh kedua premis yang juga benar. Dapat juga terjadi konklusinya salah, meskipunkedua premis itu benar, apabila cara penarikan konklusi itu salah. Jadi kebenaran suatu kesimpulan /konklusi tergantung kepada tga faktor tersebut di atas.
MACAM-MACAM SILOGISME
1.     Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua posisinya merupakan proposisi kategorik , Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal , sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya . 

Hukum-hukum Silogisme Katagorial
o   Apabila salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
o   Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
o   Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan
o   Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif
o   Apabila term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh; semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin. Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata
o   Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah
o   Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
o   Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa diturunkan konklsinya.
Contoh Silogisme Kategorial
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
   Akasia adalah tumbuhan (premis minor).
 Akasia membutuhkan air (Konklusi)

Semua manusia pasti akan meninggal
Tono adalah manusia
Jadi : Tono pasti akan meninggal


2.    Silogisme Hipotesis adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidk memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi.
Hukum-hukum Silogisme Hipotetik Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar. Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka hukum silogisme hipotetik adalah:
·         Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
·         Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
·         Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
·         Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
Contoh Silogisme Hipotesis
Macam tipe silogisme hipotetik
a) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan , saya naik becak
Sekarang Hujan .
Jadi saya naik becak.
b) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya , seperti :
Bila hujan , bumi akan basah
Sekarang bumi telah basah .
Jadi hujan telah turun
c) Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti :
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa , maka kegelisahan akan timbul .
Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa ,
Jadi kegelisahan tidak akan timbul
d) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya , seperti:
Bila mahasiswa turun kejalanan , pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa tidak gelisah
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan
3.    Silogisme alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain
Contoh
My : Nenek susi berada di Bandung atau woniosobo.
Mn : Nenek Susi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
My : Nenek Susi berada di Bandung atau wonosobo.
Mn : Nenek Susi tidak berada di wonosobo.
K : Jadi, Nenek Susi berada di Bandung.
kaidah Silogisme alternative
a)    Silogisme alternatif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid, seperti :
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata berbaju putih.
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata ia tidak berbaju putih.
Jadi ia berbaju non-putih.
b)    Silogisme alternatif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
·         Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:
Budi menjadi guru atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Budi menjadi guru atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
·         Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah), seperti:
Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).
Budi menjadi guru atau pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa j’adi ia seorang pedagang).

4.    ENTIMEN
Di atas telah disinggung bahwa silogisme jarang sekali ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam tulisan pun, bentuk itu hampir tidak pernah digunakan. Bentuk yang biasa ditemukan dan dipakai ialah bentuk entimem. Entimem ini pada dasarnya adalah silogisme. Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua:
a. menipu adalah dosa
b. karena (menipu) merugikan orang lain.

Kalimat a merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor (karena bersifat khusus). Maka silogisme dapat disusun:
Mn  : menipu merugikan orang lain
K  :menipu adalah dosa.
Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu ke-simpulannya. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang dihilangkan.
Contoh lain:
Pada malam hari tidak ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.
Bagaimana bentuk silogismenya?
My : Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Mn : Pada malam hari tidak ada matahari
K : Pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.
Sebaiknya, kita juga dapat mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan salah satu premisnya.
Contoh:
My  : Anak-anak yang berumur di atas sebelas tahun telah mampu berpikir formal.
Mn  : Siswa kelas VI di Indonesia telah berumur lebih dari sebelas tahun
K  : Siswa kelas VI di Indonesia telah mampu berfikir formal
Kalau dihilangkan premis mayornya entimemnya akan berbunyi “siswa kelas VI di Indonesia telah berumur lebih dari sebelas tahun, jadi mereka mampu berpikir formal”. Atau dapat juga “Anak-anak kelas VI di Indonesia telah mampu berpikir formal karena mereka telah berumur lebih dari sebelas tahun”. Kalau dihilangkan premis minornya menjadi “Anak-anak yang berumur di atas sebelas tahun telah mampu berpikir formal; karena itu siswa kelas VI telah mampu berpikir formal.
SILOGISME TIDAK SEMPURNA
Silogisme tidak sempurna adalah pernyataan dalam tulisan-tulisan ataupun pernyataan sehari-hari yang tidak menggunakan silogisme lengkap berupa dua proposisi yang berupa premis mayor dan premis minor dan sebuah konklusi.
Silogisme tidak sempurna umumnya terbagi dua jenis:
1.   Silogisme yang bagian atau bagian-bagiannya telah dihilangkan.
2.   Silogisme yang telah digabungkan dalam suatu rangkaian pemikiran tertentu.
Bentuk-bentuk silogisme tidak sempurna diantaranya adalah:
1.    Enthymeme adalah silogisme yang premis mayor atau premis minornya dihilangkan karena dianggap telah diketahui oleh semua orang sehingga ridak perlu disebut lagi.
Contoh:
·         Aly adalah manusia, maka ia dapat mati.
Silogisme di atas hanya terdiri atas premis minor dan konklusi, sedangkan premis mayornya tidak disebutkan. Premis moyornya adalah Semua manusia dapat mati.
·         Andy tidak sempurna
Hanya konklusi yang disebut; premis mayor dan premis minornya tidak disebut . premis mayor dan premis minornya adalah.
Tidak seorang pun manusia yang sempurna.
Andy adalah manusia.
2.    Epicheirema adalah silogisme yang salah satu atau kedua premisnya ditambah dan diperluas dengan memberi alasan atau bukti. Premis atau premis-premis dalam Epicheirema merupakan konklusi dari suatu silogisme tersendiri sehingga premis-premis itu merupakan Enthy-meme yang disusun sedemikian rupa untuk memperoleh konklusi baru.
Contoh:

Tidak seorang pun manusia yang sempurna karena hanya tuhan yang sempurna.
Plato adalah seorang manusia karena bertubuh dan berakal budi.
Jadi, Plato tidak sempurna.
Premis mayor tidak seorangpun manusia yang sempurna merupakan sebuah Ethymeme karena ia merupakan konklusi dari silogisme berikut
            Segala sesuatu yang bukan Tuhan adalah tidak sempurna.
            Manusia bukan Tuhan.
            Jadi, tidak seorang pun manusia yang sempurna.

3.    Polisilogisme adalah sederetan silogisme yg dihubung-hubungkan sbg simpulan yg ditarik dr suatu silogisme, berfungsi sbg premis silogisme berikutnya.
Jika semua warga PDI adalah WNI, dan semua WNI harus ber-Ketuhanan Yang Maha Esa maka semua wara PDI harus ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, dan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa tidak beraliran komunis maka warga PDI tidak beraliran komunis.
4.    Sorites adalah Suatu bentuk silogisme yang premisnya berkait-kaitan lebih dari 2 proposisi pertama dengan salah satu term proposisi terahkir yang keduanya bukan term pembanding. Semua peserta tes pegawai negeri adalah WNI, dan WNI harus berpancasila, dan semua yang berpancasila tidak berpaham komunis maka semua peserta tes bukan berpaham komunis.
1.    Syarat2 sorites
a.    Jika dalam perkaitan itu lingkunan term berjalan dari term yang luas meliputi term yang sempit maka perkaitan selanjutnya tidak boleh dibalik walaupun term tersebut sebagai subjek atau predikat.
b.    Jika dalam perkaitan itu lingkunan term berjalan dari term yang sempit meliputi term yang luas maka perkaitan selanjutnya tidak boleh teribalik walaupun term tersebut sebagai subjek atau predikat.
c.    Jika dalam perkaitan itu ada negasimaka yang menegasikan atau yang dinegasikan harus term yang lebih luas.
d.    Jika dalam perkaitan itu tiap proposisi sebagai premis berbentuk ekuivalen maka sampai proposisi tak terhingga pun kesimpulannya tetap berbentuk ekuivalen.
5.    Dilema adalah argumentasi, dalam arti sempit merupakan suatu pembuktian. Dalam pembuktian itu ditarik kesimpulan yang sama dari dua atau lebih dari dua keputusan disjungtif. Konklusinya, berupa proposisi disjungtif, tetapi bisa proposisi kategorik. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan.
6.    Paradoks
Kendatipun Aristoieles telah menyinggung paradoks di dalam logikanya, yang membahas secara mendetail dan mengembangkannya sedemikian rupa adalah para penganut mazhab Stoa, khususnya Chrysippus (280-207 SM). Chrysippus adalah pemimpin mazhab Stoa yang ketiga dan yang terbesar. Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada konklusi yang mengandung konflik atau kontradiksi. Paradoks disebut juga antinomi karena melanggar principium contradicuonis (law of contradiction) atau hukum kontradiksi yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Yang di-maksudkan ialah mustahil ada hal yang bertentangan pada sesuatu pada waktu yang bersamaan.
Paradoks yang tertua dan sangat terkenal ialah paradoks pembohong (liar paradox), sebagai berikut: Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong. Apakah pernyataan itu benar? Ikutilah rangkaian premis berikut yang akan tiba pada dua konklusi yang bertentangan: Jika yang dikatakan Epimenides benar, ia bukan pembohong.
Jika Epimenides bukan pembohong. apa yang dikatakannya tidak benar, Jika apa yang dikatakannya tidak benar, ia pembohong. Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang jujnr (konklusi pertama). Jika yang dikatakan Epimenides lidak benar, ia adalah pembohong. Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar. Jika apa yang dikatakannva tidak benar, itu berurti bahwa ia adalah orang jujur Jadi, ia adalah orang jujur dan bukan pembohong (konklusi kodua). Apa yang dikatakan Epimenides sesungguhnya secara serentak mengandung kebohongan dan kebenaran. Jika kebohongan, ia benar-benar pembohong, dan Jika kebenaran, ia adalah seorang yang jujur.
Pernyataan: Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong
Rangkaian premis berikut in akan tiba pada dua konklusi yang bertentangan:
·         Jika apa yang dikatan Epimenides benar, ia bukan pembohong.
·         Jika Epimenides bukan pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
·         Jika apa yang dikatakannya tidak benar, ia pembohong.
Konklusi pertama
·         Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang jujur.
·         Jika yang dikatakan Epimenides tidak benar, ia adalah pembohong.
·         Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
·         Jika apa yang dikatakannya tidak benar, itu berarti bahwa ia adalah orang jujur.
Konklusi kedua
·         Jadi, ia adalah orang jujur dan bukan pembohong.

Logika deduktif dalam proses penalarannya memakai premis-premis berupa pengetahuan yang dianggap benar. Yang penting kita ketahui dari syllogisme dan bentuk-bentuk inferensi atau penalaran deduktif yang lain ialah bahwa masalah kebenaran dan ketidakbenaran pada premis-premis itu tidak pernah timbul, karena premis-premis yang selalu diambil adalah yang benar. Ini berarti bahwa konklusi memang sudah didasari oleh kondisi kebenaran.
Filsafat melahirkan ilmu pengetahuan. Tetapi sebaliknya, perkembangan berpikir seorang pribadi, melalui proses pertama tingkat indera, kedua tingkat ilmiah (rasional kritis, obyektif, sistematis) ketiga tingkat filosofis (reflective thinking) dan keempat tingkat religius. Uraian ini berpangkal pada kenyataan bahwa pribadi pada filosof yang ada misalnya Aristoteles, Russell, Dewey, Newton, Einsten, dan lain-lain mula-mula mereka scientist. Kemudian setelah makin mendalam ilmunya, mereka mencapai puncak kematangan dan integratis pribadi sebagai filosof yang mana sebelum mnjadi scientist adalah manusia biasa, remaja yang mengerti dengan panca indera.
Metode utama dalam filsafat memang contemplative, deductive, speculative. Namun ini tak berarti filsafat tidak mempergunakan metode inductive. Bahkan dewasa ini, ilmu (dengan segala metode ilmiah) merupakan pelengkap bagi kesimpulan-kesimpulan filsafat. Karena itu dalam batas-batas tertentu filasafat mempergunakan metode-metode ilmiah, termasuk induktif untuk mendapat kebenaran yang valid melalui che-ing, re-cheching dan cross-checking.8
4.    Cara Pengambilan Keputusan Yang benar
Apabila kita menyatakan suatu pendapat (suatu pengertian) maka itu dinamakan keputusan (proposition, qodlijah). Apakah pendapat itu benar atau salah itu belumlah dipersoalka. Demikian juga suatu perbuatan haruslah berdasarkan pada suatu keputusan walaupun hanya dalam pikiran saja (belum diucapkan). Dengan demikian berarti dalam setiap hari ratusan atau ribuan kali kita mengambil keputusan baik kita nyatakan secara lisan maupun sambil disimpan dalam hati dinyatakan dalam perbuatan saja.
Keputusan ini merupakan suatu kegitan rohani baik menyungguhkan (mudjabah) ataupun mengingkari (salibah). Menyungguh misalnya: semua orang Negro hitam. Mengingkari misalnya: semua orang Negro tidak putih.
Yang menjadi persoalan pada logika ini ialah keputusan yang diucapkan  atau ditulidkan dalam susunan kata-kata yang teratur yakni dalam susunan kalimat-kalimat yang lengkap dengan subjek dan predikatnya.


BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi premsi mayor dan premis minor.
Sarana ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik. Prosedur yang merupakan metode ilmiah sesungguhnya tidak hanya mencakup pengamatan dan percobaan seperti dikemukakan dalam salah satu definisi di atas. Masih banyak macam prosedur lainnya yang dapat dianggap sebagai pola-pola metode ilmiah, yaitu analisis (analysis), pemerian(description), penggolongan (classification), pengukuran(measurement), perbandingan(comparison), survei (survey).
Suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan pengetahuan disebut penalaran. Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang berlawanan dengan penalaran induktif. Deduktif adalah penalaran atau cara berpikir yang menolak dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum, menarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Dengan berpikir atau bernalar, merupakan suatu bentuk kegiatan akal/rasio manusia dengan mana pengetahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk mecapai suatu kebenaran…
Proses penalaran dapatlah disusun melalui observasi dan eksperimen, hipotesis ilmiah, verifikasi dan pengukuhan, teori dan hukum ilmiah.
3.2. Kritik dan Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, dalam hal ini kami mengharapkan kritik dan saran dari para pendengar dan pembaca yang budiman demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Filsafat ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2007 Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Liberty Yogyakarta
Ihsan A.Fuad, 2010 Filsafat Ilmu  , rineka Cipta
J.S.Suriasumantri, 1997 Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Yayasan Obor Indonesia,

Gie, The Lang. 2010 Pengantar Filsafat Ilmu. Librty Yogyakarta

Bakry, Hasbullah 1970, Sistematik Filsafat, Widjaya Djakarta

Anonim”merumuskan ide secara deduktifhttp://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses tanggal 09 maret 2013
Anonim, “berpikir ilmiah”http://mutiarafatur.blogspot.com/2011/12/berpikir-psikologi-umum.html  diakses tanggal 8 maret 2013.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online http://kbbi.web.id/, “diakses tanggal 26 april 2013



[1] Tim Dosen Filsafat ilmu Fakultas Filsafat UG, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan 2007, Liberty Yogyakarta hal. 97
[2] Ihsan A.Fuad, Filsafat Ilmu  2010, rineka Cipta
3 Anonim, “berpikir ilmiah”http://mutiarafatur.blogspot.com/2011/12/berpikir-psikologi-umum.html diakses tanggal 8 maret 2013
4 J.S.Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Yayasan Obor Indonesia, 1997, hlm. 1
5 Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Liberti, Yogyakarta, 1992, hlm. 97.

6 Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat, Op.Cit, hlm. 98.

7 Anonim”merumuskan ide secara deduktif” http://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses tanggal 09 maret 2013
8 Anonim”merumuskan ide secara deduktif” http://prismasarijulianwijayanti.wordpress.com/ diakses tanggal 09 maret 2013
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Makalah Pengentar Filasat Ilmu "MERUMUSKAN IDE SECARA DEDUKTIF DAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG BENAR""

 
Copyright © 2014 Knowladge Is Free - All Rights Reserved - DMCA
Template By Kunci Dunia