BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Turunnya
Al-Qur’an ialah peristiwa besar yang sekaligus merupakan pernyataan kedudukan
Al-Qur’an itu sendiri bagi langit dan penghuni bumi yang mana penyampaian wahyu
dengan perantara Malaikat Jibril as. kepada Nabi akhir zaman berdasarkan
peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian.
Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qodar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi
(samawi) yang dihuni oleh para malaikat tentang kemuliaan umat nabi Muhammad,
sedangkan turunnya Al-Qur’an yang kedua kali secara bertahap berbeda dengan
kitab-kitab yang turun sebelumnya.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada
Nabi Muhammad SAW adalah dengan perantaraan Malaikat Jibril, dan caranya tidak
sekali turun, tetapi berangsur-angsur dari se-ayat, dua ayat dan tempo-tempo
sampai sepuluh ayat. Bahkan kadang-kadang diturunkan hanya tiga perkataan,
kadang-kadang hanya setengah ayat dan demikian selanjutnya, menurut
kepentingannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Ayat-ayat Al-Qur’an turun kepada Rasulullah secara berkesinambungan sebagai
penghibur dan pendukung sehingga beliau tidak dirundung kesedihan dan
dihinggapi rasa putus asa. Didalam kisah para Nabi itu terdapat teladan baginya. Dalam nasib
yang menimpa orang-orang yang mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam
janji akan memperoleh pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap
kali ia merasa sedih sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaannya, ayat-ayat
penghibur pun datang berulang kali, sehingga hatinya mantap untuk melanjutkan
dakwah, dan merasa tentram dengan pertolongan Allah.
Usaha
untuk menyamai kerapian dan keserasian susunan Al-Qur’an tidak mungkin dapat
berhasil dan bahkan sedikitpun tidak dapat mendekati pola ini, baik sabda
Rasulullah sendiri ataupun perkataan para sastrawan maupun lainnya. Hal itu
tidak mungkin terjadi dan tidak akan terjadi. Siapa saja yang berusaha ke arah
itu, ia akan sia-sia belaka. Oleh karena itu Al-Qur’an diturunkan secara
berangsur-angsur karena merupakan
Kalam Allah yang Maha Esa. Itulah hikmah yang sungguh agung
yang secara tegas menunjukkan kepada makhluk-Nya tentang sumber Al-Qur’an.
Hikmah turunnya Al-Qur’an secara
bertahap itu kita melihat adanya suatu metode yang berfaedah bagi kita dalam
mengaplikasikan perhatian terhadap tingkat pemikiran siswa dan pengembangan
potensi akal, sebab turunnya Al-Qur’an itu telah meningkatkan pendidikan umat
islam secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa manusia,
meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian dan menyempurnakan eksistensinya,
sehingga jiwa itu tumbuh dengan tegak di atas pilar-pilar yang kokoh dan
mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan umat manusia seluruhnya dengan izin
Tuhan.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses turunnya Al-Qur’an?
2. Apa hikmah Al-Qur’an diturunkan secara
berangsur-angsur?
3. Apa faedah turunnya Al-Qur’an secara bertahap
dalam pendidikan dan pengajaran?
C.
Tujuan Penulisan
1. Memahami proses turunnya Al-Qur’an
2. Memahami hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
3. Memahami faedah turunnya Al-Qur’an secara bertahap dalam
pendidikan dan pengajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Proses Turunnya Al-Qur’an
Al-Qur`an diturunkan,
secara keseluruhan, dalam kurun waktu selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Proses turunnya ada 2 tahap, yaitu:
1. Dari Lauhil
Mahfuz ke sama’ (langit) dunia
secara sekaligus pada malam Lailatul
Qadar.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ
فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى
Artinya:
Bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang haq dan yang batil) (Q.S.
Al-Baqarah : 185).
2. Dari sama’ dunia
ke bumi secara bertahap
Al-Qur’an dalam satu riwayat diturunkan dalam
tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu dari malam 17 Ramadhan tahun 41 Nabi,
sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.
Firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 106 :
وَقُرْآَنًا
فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
Artinya :
Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian.
Penyampaiannya melalui
Malaikat Jibril as. dengan cara:
1. Malaikat Jibril meresapkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. Dalam
hal ini Nabi tidak melihat kehadiran Jibril, namun merasakan menerima wahyu
dari Allah SWT.
2. Malaikat Jibril Menampakkan diri kepada Nabi Muhammad SAW berupa seorang
lelaki tampan, dan menyampaikan firman Allah sampai Nabi hafal benar.
3. Wahyu yang datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng, yang
dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai cara yang paling berat. Tidak jarang
sampai kening beliau berkeringat, meski turunnya wahyu itu pada musim hujan.
4. Malaikat Jibril menampakkan diri sebagaimana wujud sebenarnya, dan mengajarkan
firman Allah SWT.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,
melalui Malaikat Jibril, tidak secara langsung melainkan turun sesuai dengan
kebutuhan. Sering pula wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang
dilontarkan kepada Nabi atau membenarkan tindakan Nabi SAW. Banyak pula ayat
atau surat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau
kejadian tertentu.
Ayat-ayat Al-Qur`an yang pertama diturunkan adalah ayat 1 sampai 5
surat Al - Alaq sewaktu Nabi Muhammad berkholwat (Menyepi untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT). Sedangkan ayat terakhir yang diturunkan, adalah ayat 3
dari Surat Al-Maidali diturunkan di Padang Arofah sewaktu Nabi Muhammad
menjalankan ibadah Haji Wada`.
B.
Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur-Angsur
Turunnya Al-Qur’an secara bertahap, tidak hanya disebabkan karena Al-Qur’an
itu lebih besar dari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah sebelumnya,
melainkan ada beberapa hikmah lainnya.
Turunnya
Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu mengandung hikmah yang nyata serta
rahasia mendalam yang hanya diketahui oleh orang-orang yang alim atau pandai.
Kita dapat
menyimpulkan hikmah turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, diantaranya:
1.
Meneguhkan hati Nabi
Muhammad SAW
Ketika berdakwah, Nabi kerap kali berhadapan dengan para penentang yang
memiliki sikap dan watak begitu keras. Meraka
senantiasa mengganggu dengan berbagai macam gangguan dan kekerasan. Mereka senantiasa melemparkan berbagai ancaman dan gangguan kepada Nabi.
Wahyu turun kepada
Rasulullah dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya terhadap
kebenaran dan memperkokoh zamannya untuk tetap melangkahkan kaki dijalan
dakwahnya tanpa ambil peduli akan perlakuan jahiliyah yang beliau hadapinya
dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut dimusim
panas yang segera lenyap.
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka (orang zalim), sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (Al-An’am: 33-34)
Allah menjelaskan kepada Rasulullah tentang sunnah-Nya yang terjadi kepada para nabi
terdahulu yang didustakan dan dianiaya oleh kaum mereka, tetapi mereka tetap
bersabar sehingga datang pertolongan Allah. Kaum Rasulullah itu pada dasarnya,
mendustakannya hanya karena kesombongan mereka. Disini beliau menemukan suatu
“Sunnah Ilahi” dalam perjalanan para nabi sepanjang sejarah, yang dapat menjadi
hiburan dan penerang baginya dalam menghadapi gangguan, cobaan, dan sikap mereka yang selalu mendustakan dan
menolaknya.
Maka bersabarlah kamu seperti
orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan
janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat
azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di
dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup,
maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Q.S : Al-Ahqaf : 35)
Hati beliau menjadi tenang, sebab Allah telah menjamin akan melindunginya
dari gangguan orang-orang yang mendustakannya, dan setiap kali penderitaan
Rasulullah bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena
penganiayaan mereka, maka Al-Qur’an turun untuk melepaskan derita dan
menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah
mengetahui dan akan membalas apa yang mereka lakukan itu.
Hai Rasul, sampaikanlah apa
yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah
memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Maidah:67)
Dan supaya Allah menolongmu
dengan pertolongan yang kuat (banyak). (Q.S. Al-Fath: 3)
Allah telah menetapkan:
"Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat
lagi Maha Perkasa. (Q.S.Al-Mujadilah: 21)
Demikianlah, ayat-ayat Al-Qur’an itu turun kepada Rasulullah secara
berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga beliau tidak
dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa. Didalam kisah
para Nabi itu terdapat teladan baginya. Dalam nasib yang
menimpa orang-orang yang mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam janji
akan memperoleh pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap kali
ia merasa sedih sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaannya, ayat-ayat penghibur
pun datang berulang kali, sehingga hatinya mantap untuk melanjutkan dakwah, dan
merasa tentram dengan pertolongan Allah.
2.
Menentang dan melemahkan
para penentang Al-Qur’an
Dalam dakwahnya nabi seringkali menerima pertanyaan-pertanyaan sulit dari
orang-orang kafir dengan tujuan melemahkan dan menguji kenabian Rasullullah.
Maka turunlah Al-Qur’an yang menjelaskan kebenaran dan jawaban yang amat tegas.
Tidaklah
orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan
Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya ( Q.S : Al-Furqan: 33)
Turunnya wahyu secara berangsur-angsur tidak hanya menjawab pertanyaan
bahkan menentang mereka untuk membuat satu surat saja
yang sebanding dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat
saja yang seperti Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.
3.
Meringankan Nabi dalam menerima wahyu
Sesungguhnya Kami akan
menurunkan kapadamu perkataan yang berat. (Q.S.
Al-Muzzamil: 5)
Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah
merupakan sabda Allah yang mempunyai keagungan dan keluhuran. Ia adalah sebuah
kitab yang andaikata diturunkan kepada gunung niscaya gunung tersebut akan
hancur dan merata karena begitu hebat dan agungnya kitab tersebut.
Bagaimana dengan hati Nabi yang begitu lembut, mampukah
beliau menerima Al-Qur’an secara langsung tanpa merasakan kebingungan dan
keberatan.
4.
Mempermudah dalam menghafal Al-Qur’an dan memberi pemahaman bagi
kaum muslimin
Al-Qur’an pertama kali turun ditengah-tengah masyarakat yang ummi yakni yang tidak memiliki
pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunnya wahyu secara berangsur-angsur
memudahkan mereka untuk memahami dan menghafalkannya.
Dia-lah yang mengutus kepada
kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan
Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata (Q.S. : Al-Jumu’ah: 2)
Umat
yang ummi akan kesulitan menghafal
jika Al-Qur’an diturukan sekaligus dan tidak mudah bagi mereka untuk memahami
maknanya. Jadi dengan diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu merupakan bantuan
yang terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahaminya. Setiap turun satu
atau beberapa ayat, para sahabat segera menghafalkannya, merenungkan maknanya
dan mempelajari hukum-hukumnya.
5.
Tadarruj (selangkah demi selangkah) dalam
menetapkan hukum samawi.
Hikmah
yang selanjutnya adalah tadarruj (berangsur-angsur) dalam penetapan
hukum. Hikmah Allah memutuskan demikian ini dengan tujuan mengalihkan dari
beberapa aqidah menjadi satu aqidah, mengeluarkan mereka dari berhala kepada
agama, dari sangkaan dan dugaan kepada kebenaran serta dari tidak iman menjadi
keimanan.
Setelah
itu langkah pemantapan dan pelestarian iman diteruskan dengan ibadah. Ibadah
yang mula-mula ditekankan adalah shalat, yaitu pada masa sebelum hijrah,
kemudian diikuti dengan puasa dan zakat, yaitu pada tahun yang kedua hijrah dan
yang terakhir adalah ibadah haji yaitu pada tahun keenam hijrah.
Demikian
pula halnya dengan kebiasaan yang sudah membudaya dikalangan mereka, Al-Qur’an
pun menggunakan metode yang sama. Pertama-tama dititik beratkan kepada masalah
dosa-dosa besar, kemudian menyusul dosa-dosa kecil
(hal-hal yang disepelekan). Selanjutnya selangkah demi selangkah, mengharamkan
perbuatan yang sudah mendarah daging bagi mereka seperti : khamar, judi, dan
riba.
Sebagai contoh yaitu dalam penetapan dalam kasus pengharaman minuman keras :
a.
Tahap pertama
Dan dari buah korma dan
anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang
yang memikirkan. (Q.S : An-
Nahl 67)
Dalam ayat ini, menyebutkan tentang nikmat atau karunia Allah. Allah
menjelaskan bahwa Dia telah memberi karunia dua jenis pohon
kepada manusia, yaitu anggur dan kurma. Dan dari keduanya dapat diperoleh
minuman keras dan rezeki yang baik bagi manusia yaitu berupa makanan dan
minuman. Para Ulama sepakat bahwa pemberian predikat baik adalah pada rezeki
bukan pada mabuknya. Dengan demikian, pujian Allah hanya ditujukan pada rezeki
bukan pada mabuknya. Dari perbandingan diatas, orang-orang yang befikir akan
mengetahui perbedaannya dengan jelas.
b.
Tahap kedua
Mereka bertanya kepadamu
tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang
besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfa'atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.
Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Q.S. Al-Baqarah: 219)
Dalam ayat ini, membandingkan antara manfaat khamr seperti kesenangan,
kegairahan, atau keuntungan karena memperdagangkannya, dengan bahaya yang
berupa dosa, bahaya kesehatan tubuh, merusak akal, menghabiskan harta dan
membangkitkan dorongan untuk berbuat dosa. Ayat ini merupakan cara halus untuk
menjauhkan khamr dengan menonjolkan bahayanya.
c.
Tahap ketiga
Dalam tahap ini terdapat larangan tegas berupa diharamkannya khamr terhadap
mereka dalam waktu shalat saja agar mereka sadar dari mabuknya.
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid)
sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu
mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat
buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat
air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan
tanganmu. Sesungguhnya
Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (Q.S.
An-Nisa: 43)
d.
Tahap keempat
Dalam tahap ini sudah ada larangan tegas dan pasti akan pengharaman khamr
dalam segala waktu.
Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu
bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran
(meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan
sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Q.S. Al-Maidah: 90-91)
Dengan demikian sempurnalah pengharaman Khamr secara berangsur-angsur.
Itulah langkah-langkah dalam penanggulangan penyelewengan masyarakat yang
ditempuh oleh Islam.
6.
Sejalan dengan kisah-kisah yang terjadi dan
mengingatkan atas kejadian-kejadian itu
Al-Qur’an turun berangsur-angsur sesuai dengan keadaan saat itu sekaligus
memperingatkan kesalahan yang dilakukan tepat pada waktunya. Dengan demikian
turunnya Al-Qur’an lebih mudah tertanam dalam hati dan mendorong orang-orang Islam untuk mengambil pelajaran secara praktis.
Bila ada peersoalan baru, maka turunlah ayat yang sesuai. Bila terjadi
kesalahan dan penyelewengan maka turunlah ayat yang memberi batasan serta
pemberitahuan kepada mereka tentang masalah mana yang harus ditinggalkan dan
patut dikerjakan. Contohnya ketika Perang Hunain, orang Islam bersikap sombong dan optimis karena jumlah pasukan mereka berlipat ganda melebihi
pasukan kafir. Mereka merasa yakin dapat mengalahkan orang kafir. Namun
kenyataan yang terjadi mereka justru berantakan dan mundur kocar-kacir. Pada
peristiwa tersebut Allah menegaskan:
Sesungguhnya
Allah telah menolong kamu (hai para mu'minin) di medan peperangan yang banyak,
dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena
banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa'at
kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu,
kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
Contoh lain dalam
permasalahan pengambilan harta tebusan tawanan dalam perang badar, turunlah
pengarahan dari Allah yang begitu tajam.
Tidak
patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.(Q.S. Al-Anfal: 67)
Dari dua kisah diatas, kita dapat menyimpulkan, jika Al-Qur’an diturunkan
sekaligus, maka umat Islam tidak akan mengetahui kesalahan dan menemukan
jawaban yang tepat akan permasalahannya.
7.
Petunjuk terhadap asal
(sumber) Al-Qur’an bahwasanyan Al-Qur’an diturunkan dari
zat yang maha bijaksana lagi terpuji
Al-Qur’an yang turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah dalam waktu
yang lebih dari dua puluh tahun ini, ayat-ayatnya turun dalam waktu-waktu
tertentu, orang-orang membacanya dan mengkajinya surat demi surat. Ketika itu
mereka mendapati rangkaiannya yang tersusun cermat sekali dengan makna yang
saling bertaut, dengan gaya redaksi yang begitu teliti, ayat demi ayat, surat
demi surat, yang saling terjalin bagaikan untaian mutiara yang indah yang belum
pernah ada bandingannya dalam perkataan manusia.
Alif laam
raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Tahu, (Q.S.
Huud: 1)
Hadist-hadist
Rasulullah SAW sendiri yang merupakan puncak kefasihan sesudah Al-Qur’an, tidak
mampu membandingi keindahan bahasa Al-Qur’an, apalagi ucapan dan perkataan
manusia biasa.
“Katakanlah; sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka
tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian dari mereka
menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Israa’: 88)
Seperti
yang telah dikemukakan oleh oleh Syekh Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani dalam
kitabnya Manahilul Irfan, beliau mengemukakan secara tegas ”memberi
petunjuk terhadap sumber Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah semata,
dan bukan merupakan kata-kata nabi Muhammad atau makhluk lainnya” beliau
menjelaskan bahwa: “Kami telah membaca Al-Qur’an hingga tamat ternyata
rangkaian kata-katanya begitu teratur jalinannya, lembut susunan bahasanya,
begitu kuat kaitannya. Satu sama lainnya saling berhubungan, baik antara satu
surat dengan yang lainnya, ayat-ayat
yang satu dengan yang lainnya mampu dilihat dari secara keseluruhan dari mulai
alif sampai dengan ya’ mengalir darah kemukjizatannya, seolah-olah Al-Qur’an
merupakan suatu gumpalan yang tidak dapat terpisahkan. Di antara
bagian-bagiannya tidak terpisah-pisah, Al-Qur’an tidak ubahnya bagaikan untaian
mutiara atau sepasang kalung yang menarik perhatian. Huruf-huruf dan kata-kata
kalimatnya, dan ayat-ayatnya tersusun secara sistematis.
Semua
makhluk termasuk Nabi Muhammad pun tidak akan dapat membuat sebuah kitab yang
baik dan rapi antara satu dengan yang lainnya, kokoh rangkaian kalimatnya,
saling berkaitan dari awal hingga akhir serta sesuai susunannya dengan berbagai
faktor di luar Kemampuan manusia, yaitu beberapa peristiwa dan kejadian, yang
masing-masing dari uraian kitab ini bisa mengiringi dan menceritakan kejadian
tersebut, sebab demi sebab, faktor demi faktor sejalan dengan berbagai faktor
yang berbeda latar belakangnya padahal masa penyusunan ini berjauhan dan masa
turunya cukup lama.
Usaha
untuk menyamai kerapian dan keserasian susunan Al-Qur’an tidak mungkin dapat
berhasil dan bahkan sedikitpun tidak dapat mendekati pola ini, baik sabda
Rasulullah sendiri ataupun perkataan para sastrawan maupun lainnya. Hal itu
tidak mungkin terjadi dan tidak akan terjadi. Siapa saja yang berusaha ke arah
itu, ia akan sia-sia belaka. Oleh karena itu Al-Qur’an diturunkan secara
berangsur-angsur karena merupakan
Kalam Allah yang Maha Esa. Itulah hikmah yang sungguh agung
yang secara tegas menunjukkan kepada makhluk-Nya tentang sumber Al-Qur’an.
C.
Faedah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap dalam Pendidikan
dan Pengajaran
Proses belajar mengajar itu berlandaskan dua asas:
perhatian terhadap tingkat pemikiran siswa dan pengembangan potensi akal, jiwa,
dan jasmaninya dengan apa yang dapat membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.[1][10]
Dalam hikmah
turunnya Al-Qur’an secara bertahap itu kita melihat adanya suatu metode yang
berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan perhatian terhadap tingkat pemikiran
siswa dan pengembangan potensi akal, sebab turunnya Al-Qur’an itu telah meningkatkan
pendidikan umat islam secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa
manusia, meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian dan menyempurnakan
eksistensinya, sehingga jiwa itu tumbuh dengan tegak di atas pilar-pilar yang
kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan umat manusia seluruhnya
dengan izin Tuhan.
Tahapan turunnya
Al-Qur’an itu merupakan bantuan yang paling baik bagi jiwa manusia dalam upaya
mengahafal Al-Qur’an, memahami, mempelajari, memikirkan makna-maknanya dan mengamalkan apa yang dikandungnya.
Petunjuk ilahi tentang hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap merupakan
contoh yang baik dalam menyusun kurikulum pengajaran, memilih metode yang baik
dan menyusun buku pelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 tahap, yaitu :
a. Dari
Lauhil Mahfuz ke sama’ (langit) dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar.
b. Dari sama’
dunia ke bumi secara bertahap
Ada banyak hikmah Al-Qur’an diturunkan secara
berangsur-angsur, diantaranya: Meneguhkan hati Nabi
Muhammad SAW, menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an, meringankan
Nabi dalam menerima wahyu, mempermudah dalam menghafal Al-Qur’an dan memberi
pemahaman bagi kaum muslimin, Tadarruj (selangkah demi selangkah) dalam menetapkan
hukum samawi, sejalan dengan kisah-kisah yang terjadi dan mengingatkan atas
kejadian-kejadian itu, dan petunjuk terhadap asal (sumber) Al-Qur’an
bahwasanyan Al-Qur’an diturunkan dari zat yang maha bijaksana lagi terpuji.
Dengan
mempelajari cara turunnya Al-Qur’an kita dapat mengetahui hikmah dan kita dapat
menerapkan cara tersebut dalam proses pembelajaran.
B.
Saran
Kita sudah mengetahui, betapa banyak dan luar biasanya hikmah diturunkannya
Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Maka tidak perlu diragukan lagi tentang
kebijaksanaan Allah. Dan alangkah baiknya jika kita juga menerapkan cara-cara
tersebut dalam pembelajaran. Karena dengan proses bertahap maka akan
mempermudah kita dan juga anak didik kita.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. 2010. Ulum Al-Quran. Bandung:
CV. Pustaka Setia
Ash-Shaabuuniy, M. Ali. 2008. Studi
Ilmu Al-Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia
Al-Abyari, Ibrahim. 1993. Sejarah
Al-Qur’an. Semarang: Dina Utama
Khalil, Manna al-Qattan. 2012. Pengantar
Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
0 Komentar untuk "Makalah Studi Al-Quran _ Asbabun Nuzul (Sebab Sebab Turunnya Al-Quran)"