BAB I
Pendahuluan
1.1.Latar
Belakang
Bebagai
macam literature menjelaskan tentang munculnya Syi’ah. Ada yang mengatakan Syi’ah
sudah ada sejak sepeninggalan Nabi Muhammad saw yaitu ketika terpilihnya abu
bakar sebagai khlifah pengganti Nabi Muhammad saw yang telah meninggal dunia.
Sedang beberapa literature lain mengatakan Syi’ah muncul waktu perang shiffin,
yaitu perang antara khalifah ali bin abu thalib dengan bani ummaiyah.
Semula
aliran yang lebih pada segi politik, yaitu dukungan kepada ahlu bait tapi lama
kelamaan berubah lebih kea rah teologis. Berbagai macam hal terjadi sehingga Syi’ah
terpecah menjadi beberapa sekte-sekte yang kesemuanya memiliki perbedaan
tersendiri.
Walaupun
demikian Syi’ah tetap kuat dan menyebar hingga Indonesia. Perkembangan yang tak
disangka-sangka, yang semula dikira hanya sebuah isu kini menjadi nyata.
1.2.Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
sejarah perkembangan Syi’ah?
b. Apa
saja sekte-sekte dalam Syi’ah?
c. Bagaimana
ajaran-ajaran Syi’ah?
d. Bagaimana
penyebaran Syi’ah di Indonesia?
1.3.Tujuan
a. Memahami
sejarah perkembangan Syi’ah.
b. Mengetahui
sekte-sekte dalam Syi’ah.
c. Mengetahui
ajaran-ajaran Syi’ah.
d. Mengetahui
penyebaran Syi’ah di Indonesia.
BAB
II
Kajian
Pustaka
2.1.Pengertian
Syi’ah
Menurut bahasa Syi’ah berarti pengikut,
pendukung, pembela, pecinta, yang kesemuanya mengarah pada makna dukungan
kepada ide atau individu dan kelompok tertentu. Sedangkan secara terminologis adalah
sebagian kaum muslim yang dalam spiritual dan keagamaanya selalu merujuk
pada keturunan Nabi Muhammad SAW, atau orang yang disebut sebagai ahl
al-bait. Syi’ah juga dapat diartikan, kelompok masyarakat yang menjadi
pendukung Ali ibn Abi Thalib, yang mana beliau dianggap sebagai imam dan
khalifah oleh mereka yang ditetapkan melalui Nash dan wasiat dari
Rasulullah.
Muhammad Jawad Maghniyah, seorang
ulama beraliran Syi’ah, memberikan definisi tentang kelompok Syi’ah, bahwa
mereka adalah “kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW. Telah menetapkan
dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti) Beliau dengan
menunjuk Imam Ali. Definisi ini kendati hanya mencerminkan sebagian dari
golongan Syi’ah, bukan seluruhnya, namum untuk sementara dapat diterima karena
kadungannya telah menunjuk kepada Syi’ah yang terbanyak dewasa ini, yakni
Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.
Untuk merumuskan pengertian Syi’ah
secara sempurna memang sangat sulit, karena Syi’ah telah melalui proses sejarah
yang panjang dengan segala peristiwa yang ikut mempengaruhi ajarannya. Namun
al-Syahrastani mendefinisikan Syi’ah sebagai istilah khusus yang dipakai untuk
pendukung atau pengikut Ali Bin Abi Thalib yang berpendirian bahwa pengangkatan
Ali sebagai imam atau khalifah berdasarkan kepada nash dan wasiat, serta mereka
berkeyakinan bahwa keimaman tersebut tidak terlepas dan terus berlanjut pada
keturunan-keturunannya.
2.2.Sejarah
Syi’ah
Syi’ah adalah
sebutan bagi kelompok pendukung khalifah Ali bin abi thalib. Para pendukung
khalifah ali r.a ini sebenarnya sudah ada sejak hari wafatnya Nabi SAW. Ketika
diadakan pertemuan di saqafilah bani sa’diah antara golongan muhajirin dengan
ansar, sebagian keturunan bani hasyim
dan sebagian kaum muhajirin sebenarnya menjagokan ali sebagai khilifah
pengganti Nabi SAW. Namun suara meraka kalah besar dengan suara pendukung Abu
Bakar sehingga dialah yang terpilih. Disamping itu, pada saat pertemuan
tersebut ali tidak hadir karena sedang mengurusi jenazah Nabi SAW. Ketika Ali
terpilih sebagai khalifah menggantikan Utsman, mereka mulai menguatkan barisan
namun belum terbentuk sebuah gerakan.
2.1.1 Perang Shiffin
Ketika perang Shiffin terjadi perpecahan
dalam kubu Ali, yang pada saat itu memiliki kesempatan yang sangat besar untuk
menang. Tetapi karena Ali memilih perundingan hal itulah yang menyebabkan
perpecahan. Karena keputusannya untuk melakukan perundingan ternyata mendapat
tentangan dari pendukungnya sendiri. Hingga akhir salah seorang komandan
pasukan Ali yang bernama Hurqus dari bani tamin keluar membantuk barisan
sendiri dengan mebawa 12 ribu orang pasukan. Dan kelompok Hurqus ini kelak
dikenal sebagai khawarij.
Sebagai bentuk reaksi atas golongan
khawarij, muncul pula golongan pendukung Ali yang menyatakan kesetiaan mereka
kepada Ali. Mereka menyatakan siap membela Ali bahkan siap mati bersamanya.
Golongan ini kemudian dikenal dengan sebutan syi’atul Ali (pengikut Ali), dan
pada akhirnya menjadi embrio lahirnya Syi’ah.
2.1.2
Bani Umayah dan Hasan
Dengan cara kotor bani umayah
memenangkan perundingan. Dan ketika Ali meninggal dibunuh oleh Abdurrahman bin
Muljam (sisa kelompok khawarij) ketika akan sholat, hal ini membuka kesempatan
bagi bani umayah mengikrarkan diri sebagai khalifah dan berakhirlah
kepemimpinan Khulafa al-rasyidin.
Ketika khalifah Ali r.a telah wafat,
para pengikut Ali kemudian mengangkat Hasan bin Ali (putra dari Ali dan
Fatimah) sebagai khalifah baru. Sehingga terjadi dua kepemimpinan yaitu
Muawiyah dan Hasan.
Hasan yang tak ingin membuka konflik
dengan Muawiyah, disamping ia tidak berambisi untuk menjadi khalifah, tiga
bulan setelah di baiat oleh pendukungnya Hasan mengikat perjanjian dengan
Muawiyah. Yang dalam perjanjiannya Hasan mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan
beberapa syarat. Syarat yang diajukan oleh Hasan yaitu Muawiyah tidak menaruh
dendam kepada orang-orang yang mendukung Hasan, serta mau memaafkan dan
menjamin keselamatan mereka; kursi kekhalifahan setelah Muawiyah harus diserahkan
kepada pilihan umat, bukan diwariskan kepada keturunannya; pajak dari Ahwaz dan
salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; dan Muawiyah harus
membayar kompensasi sebesar lima juta dirham dari bendahara Kuffah, member satu
juta dirham tiap tahun untuk Hasan, dan dua juta dirham untuk saudaranya,
Husain.
Dalam literature Syi’ah dinyatakan bahwa
setelah perjanjian damai tersebut Hasan berkali-kali berusaha di bunuh, bahkah
usaha tersebut telah dilakukan sebanyak 70 kali. Hingga pada akhirnya Hasan
harus mati oleh racun yang diletakkan istrinya yang ke tiga di makanan yang dia
makan.
2.1.3
Yazid dan Husein
Umayah tidak menepati janjinya, ketika
merasa ajalnya sudah dekat dia tidak mengembalikan pemilihan khalifah kepada
umat, tetapi mewariskannya kepada anaknya yang bernama Yazid. Tetapi keputusan
tersebut banyak menadao tetangan dari berbagai pihak. Ketika Yazid telah
diangkat menggantikan ayahnya, kawasan
Timur seperti Hijaz, Persia, Khurasan, dan Irak tidak memberkan baiat kepada Yazid.
Sehingga terhajid pemaksaan untuk memenetapkan Yazid sebagai khalifah.
Hai ini dekelathu oleh Husai, dan
sebagia benuk protesnya, Husei dan para pengikutnya kemudian pindah ke mekah.
Tak lama setelah menetap di mekah, datang utusan dari kuffah. Melalui utusan
tersebut, penduduk kuffah meminta kesediannya menjadi khalifah. Dan permohonan
tersebut di penuhi oleh Husein.
Setelah mendapat baiat dari 30000
penduduk kuffah, Husein pergi ke irak bersama keluarga dan pengikutnya, guna
untuk mendapatkan baiat dari penduduk disana. Tetapi rencana tersebut telah di
dengar oelh Yazid di Damaskus, sehingga dia memerintahkan Abdullah bin Ziyad,
gubernur Persia, untuk menangkap Husein dan menggagalkan baiat penduduk irak
atas Husein.
Rombongan Husein yang hanya 73 orang
dihadang oleh 2000 orang tentara di suatu kawasan yang bernama Shiraf.
Rombongan kecil ini disesak hingga ke daerah yang kering dan gersang yang
bernama Karbala. Disana mereka diserbu oleh 4000 orang. Pembunuhan sadis pun
terjadi disana, dimana seluruh keluarga Husein di penggal lehernya dan di bawa
ke kota Kuffah, guna di persembahkan
kepada gubernur Abdullah bin Ziyad.
2.1.4
Syi’ah
Pembunuhan sadis atas Husein dipadang
Karbala menumbukan kemarahan berat bagi pengikutnya, terutama bagi golongan Syi’ah
yang menyakini bahwa khalifah haruslah ahlul bait.
Dengan keyakinan bahwa Umayah yang telah
melanggar perjanjian dan membunuh Hasan, sedangkan Yazid yang telah membunuh
Husein membangkitkan semangat patriotic kaum Syi’ah untuk melakukan perlawanan
bersenjata.
Perlawanan pertama ditunjukkan oleh
Mukhtar al Salaqafi bersama penngikutnya, kemudian dilanjutkan oleh Zaid bin
Ali, cucu Husein, lalu perlawanan Yahya bin Zaid, serta pemberontakan Nafs al
Zakiyah.
Pada awalnya kelompok Syi’ah hanya
dibentuk karena situasi politik yang berkembang pada masa itu, namanu seiring
berjalannya waktu keyakinan kelompok Syi’ah mulai beralih kearah Teologis. Inti
dari ajaran teoligis kelompok Syi’ah adalah berpusat pada keyakinan bahwa hanya
ahlul bait yang pantas menggantikan kepemimpinan sepeninggalan Nabi saw.
Di tahun-tahun berikutnya, Syi’ah
terpecah menjadi beberapa sekte. Hal itu terjadi karena mereka harus memilih
pengganti Husein, ada sekelompok yang berpendapat bahwa yang berhak
menggantikannya adalah putra Husein sendiri, Ali Zainal Abidin (satu-satunya
yang selamat adri tragedy pembataian di Karbala), sedangkan kelompok yang lain
memilih Muhammad bin Hanifiyah, putra Ali dan istri selain Fatimah. Akibatnya
muncul sekte-sekte baru dalam Syi’ah. Beberapa sempalan aliran Syi’ah yaitu
Kaisaniyah, Ghulat, Zaidiyah, dan Imamiyah. 2 golongan yang disebutkan pertama
tidak mampu bertahan dan leyap.
A. Syi’ah
Zaidiyah
Nama
aliran ini dinisbatkan pada nama pendirinya, Zaid bin Ali Zainal Abidin,
seorang ahli tafsir dan fiqih di zamannya. Dia adalah putra dari Ali bin Husein
Abidin.
Pada
masa berikutnya aliran ini pecah kembali menjadi beberapa sekte, diantaranya
adalah Syi’ah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Shalihiyah. Syi’ah Jarudiyah adalah
pengikut Abu Jarud Ziyad bin Abd al-Ziyad. Sekte ini beranggapan bahwa Nabi
Muhammad SAW telah menunjuk Ali sebagai penerusnya (walaupun secara tidak
langsung).
Syi’ah
Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir, yang beranggapan bahwa
sekalipun Ali adalah pemimpin terbaik pasca Nabi saw. Tetapi mereka masih
mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, namun tidak mengakui kepemimpinan
Utsman bin Affan.
Sedangkan
Syi’ah Shalihiyah adalah pengikut Katsir al-Nu’man al-Akhtar dan Hasan bin
Shaleh al-Hayy. Golongan ini memiliki pandangan yang hamper sama dengan Syi’ah
Sulaimaniyah, tetapi perihal Utsman mereka lebih memilih diam.
B. Syi’ah
Imamiyah
Kemunculan
golongan ini berawal dari permasalahan siapa yang akan menggantikan
kepemimpinan Ja’far al-Shadiq, seorang ahli tafsir , hadist, fiqh, filsafat,
fisika, yang masih keturunan Ahlul Bait. Berbeda dengan Syi’ah Zaidiyah yang
bersifat ekstrem dan bernuansa politis, Syi’ah Imamiyah ini lebih bersifat
moderat dan lebih menekankan pada bidang ilmu pengetahuan, pemikiran, dan
filsafat. Hal ini sesuai dengan semangat yang dibawa oleh Ja’far al-Shadiq yang
lebih menekankan pada bidang ilmu pengetahuan.
Ja’far
al-Shadiq lebih suka berjuang pada jalur pendidikan. Karean itu ia melanjutkan
perjuangan ayahnya mengajar di perguruan masjid Nabawi dan merupaka perguruan
pertama yang mengajarkan filsafat.
Kebesaran
nama Ja’far al-Shadiq meresahkan khalifah yang memimpin kala itu, sehingga dia
berkali-kali berusaha membunuh Ja’far al-Shadiq. Dan usaha terakhir yang dia
lakukan adalah dengan memasukkan racun pada makanan Ja’far al-Shadiq. Ja’far
al-Shadiq meninggal dan dimakamkan di depan makam ayah dan kakeknya, serta
makam Hasan bin Ali.
Sepeninggalan
Ja’far al-Shadiq, golongan ini terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama
meyakini bahwa yang berhak menggantikan Ja’far al-Shadiq adalah Ismail, putra
Ja’far al-Shadiq walaupun telah meninggal lebih dahulu. Golongan ini dinamakan
Syi’ah Ismailiyah. Golongan kedua meyakini bahwa yang berhak menggantikan
Ja’far al-Shadiq adalah Musa al-Kazim, putra Ja’far al-Shadiq. Golongan ini
kemudian di kenal dengan sebutan Syi’ah Itsna Asy’ariyah atau golongan Syi’ah
yang meyakini 12 imam. Sedangkan golongan ketiga berpendapat bahwa tidak ada
yang mampu menggantikan kepemimpinan Ja’far al-Shadiq. Golongan ini kemudian di
kenal dengan nama Sy’ah al-Waqfiyyah.
2.3.Pokok-Pokok
Pemikiran Syi’ah
Kaum Syi’ah memiliki 5 pokok pikiran utama yang harus dianut oleh para
pengikutnya diantaranya yaitu at tauhid, al ‘adl, an nubuwah, al imamah dan al
ma’ad.
A.
At tauhid
Kaun Syi’ah juga meyakini bahwa
Allah SWT itu Esa, tempat bergantung semua makhluk, tidak beranak dan tidak
diperanakkan dan juga tidak serupa dengan makhluk yang ada di bumi ini. Namun,
menurut mereka Allah memiliki 2 sifat yaitu al-tsubutiyah yang merupakan sifat
yang harus dan tetap ada pada Allah SWT. Sifat ini mencakup ‘alim (mengetahui),
qadir (berkuasa), hayy (hidup), murid (berkehendak), mudrik (cerdik, berakal),
qadim azaliy baq (tidak berpemulaan, azali dan kekal), mutakallim
(berkata-kata) dan shaddiq (benar). Sedangkan sifat kedua yang dimiliki oleh
Allah SWT yaitu al-salbiyah yang merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada
Allah SWT. Sifat ini meliputi antara tersusun dari beberapa bagian, berjisim,
bisa dilihat, bertempat, bersekutu, berhajat kepada sesuatu dan merupakan
tambahan dari Dzat yang telah dimilikiNya.
B.
Al ‘adl
Kaum Syi’ah memiliki keyakinan bahwa
Allah memiliki sifat Maha Adil. Allah tidak pernah melakukan perbuatan zalim
ataupun perbuatan buruk yang lainnya. Allah tidak melakukan sesuatu kecuali
atas dasar kemaslahatan dan kebaikan umat manusia. Menurut kaum Syi’ah semua
perbuatan yang dilakukan Allah pasti ada tujuan dan maksud tertentu yang akan
dicapai, sehingga segala perbuatan yang dilakukan Allah Swt adalah baik. Jadi
dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep keadilan Tuhan yaitu Tuhan
selalu melakukan perbuatan yang baik dan tidak melakukan apapun yang
buruk.Tuhan juga tidak meninggalkan sesuatu yang wajib dikerjakanNya.
C.
An
nubuwwah
Kepercayaan kaum Syi’ah terhadap
keberadaan Nabi juga tidak berbeda halnya dengan kaum muslimin yang lain.
Menurut mereka Allah mengutus nabi dan rasul untuk membimbing umat manusia.
Rasul-rasul itu memberikan kabar gembira bagi mereka-mereka yang melakukan amal
shaleh dan memberikan kabar siksa ataupun ancaman bagi mereka-mereka yang
durhaka dan mengingkari Allah SWT. Dalam hal kenabian, Syi’ah berpendapat bahwa
jumlah Nabi dan Rasul seluruhnya yaitu 124 orang, Nabi terakhir adalah nabi
Muhammad SAW yang merupakan Nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada,
istri-istri Nabi adalah orang yang suci dari segala keburukan, para Nabi
terpelihara dari segala bentuk kesalahan baik sebelum maupun sesudah diangkat
menjadi Rasul, Al Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang kekal, dan kalam
Allah adalah hadis (baru), makhluk (diciptakan) hukian qadim dikarenakan kalam
Allah tersusun atas huruf-huruf dan suara-suara yang dapat di dengar, sedangkan
Allah berkata-kata tidak dengan huruf dan suara.
D.
Al imamah
Bagi kaun Syi’ah imamah berarti
kepemimpinan dalam urusan agama sekaligus dalam dunia. Ia merupakan pengganti
Rasul dalam memelihara syari’at, melaksanakan hudud (had atau hukuman terhadap
pelanggar hukum Allah), dan mewujudkan kebaikan serta ketentraman umat. Bagi
kaum Syi’ah yang berhak menjadi pemimpin umat hanyalah seorang imam dan
menganggap pemimpin-pemimpin selain imam adlah pemimpin yang ilegal dan tidak
wajib ditaati. Karena itu pemerintahan Islam sejak wafatnya Rasul (kecuali
pemerintahan Ali Bin Abi Thalib) adalah pemerintahan yang tidak sah. Di samping
itu imam dianggap ma’sum, terpelihara dari dosa sehingga iamam tidak berdosa
serta perintah, larangan tindakan maupun perbuatannya tidak boleh diganggu
gugat ataupun dikritik.
E.
Al Ma’ad
Secara harfiah al ma’dan yaitu
tempat kembali, yang dimaksud disini adalah akhirat. Kaum Syi’ah percaya
sepenuhnya bahwahari akhirat itu pasti terjadi. Menurut keyakinan mereka
manusia kelak akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhannya akan
dikembalikan ke asalnya baik daging, tulang maupun ruhnya. Dan pada hari kiamat
itu pula manusia harus memepertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukan
selama hidup di dunia di hadapan Allah SWT. Pada saaat itu juga Tuhan akan
memberikan pahala bagi orang yang beramal shaleh dan menyiksa orang-orang yang
telah berbuat kemaksiatan.
2.4.Ajaran
Syi’ah
A.
Syi’ah
Itsna Asyariyah
Di dalam sekte
Ayi’ah Asyariyah dikenal konsep Usul Ad-Din. Konsep ini menjadi akar atau
fondasi pragmatise agama. Konsep usuluddin mempunyai lima akar[1]
a.
Tauhid
(The devine Unity)
Tuhan
adalah Esa baik esensi maupun eksistensi –Nya. Keesaan Tuhan adalah mutlak. Ia
bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu
diciptakan oleh Tuhan. Ia berdiri sendiri, tidak di batasi oleh ciptaan-Nya.
Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata biasa[2]
b.
Keadilan
(The Devine Justice)
Tuhan
menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah
menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidakadilan dan kelaliman terhadap yang lain
merupakan tanda kebodohan dan ketidakmampuan dan sifat ini jauh dari
keabsolutan dan kehendak Tuhan.
Tuhan
memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah
melalui perasaan. Manusia dapat menggunakan penglihatan, pendengaran dan indera
lainnya untuk melakukan perbuatan, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
Jadi, manusia dapat memanfaatkan potensi bergkehendak sebagai anugerah Tuhan
untuk mewujudkan dan bertanggungjawab atas perbuatannya.[3]
c.
Nubuwwah
(Apostleship)
Setiap
makhluk sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik
petunjuk dari Tuhan maupun dari manusia.
Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan Tuhan yang secara transenden diutus
untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam
semesta. Dalam keyakinan Syi’ah Itsna Asyariyah, Tuhan telah mengutus 124.000
rasul untuk memberikan petunjuk pada manusia.[4]
Syi’ah
Itsna Asyariyah percayamutlak tentang ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Adam
hingga Muhammad dan tidak ada nabi dan rasul setelah Muahammad. Mereka percaya
adanya kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif., perubahan,
atau tambahan.[5]
d.
Ma’ad
(The Last Day)
Ma’ad
adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan Tuhan di akhirat. Setiap
muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan
bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan. Mati adalah periode transit dari
kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.[6]
e.
Imamah
(The Devine Guidance)
Imamah
adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia
yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasi kan kepada keturunan
Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.[7]
Selanjutnya,
dalam sisi yang bersifat mahdah, Syi’ah Itsna Asyariyah berpijak kepada delapan
cabang agama yang disebut dengan furu ad-din. Delapan cabang tersebut terdiri
atas shalat, puasa, haji, zakat, khumus atau pajak sebesar seperlima dari
penghasialan, jihad, al-amr bi al-ma’ruf, dan an-nahyu an munkar.
B.
Syi’ah
Sab’iyah (Syiah Tujuh)
Para pengikut Syi’ah
Sab’iyah percaya bahawa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti dijelaskan
al-qobhi an-nukman dalam da’ain al-islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman,
taharoh,
sholat, zakat, puasa, haji dan jihad.
Dalam pandangan
kelompok Syi’ah sab’iyah, keimanan hanya dapat diterima bila sesuai dengan
keyakinan mereka, yakni melalui walayah (kesetian) kepada imam zaman. Imam
adalah seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan (ma’rifat).[8]
Syarat-syarat seoarang imam dalam
pandangan Syi’ah ab’iyah adalah sebagai berikut:
a.
Imam
harus berasal dari keturunan ali melalui perkawinannya dari fatimah yang
kemudian dikenal dengan ahlul bait[9]
b.
Berbeda
dengan aliran kaisaniyah pengikut muhktar at-tsakoti, mempropagandakan bahwa
keimanan harus dari keturunan ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita
dari bani hanifah yang mempunyai anak bernama muhammad bin al-hanafiyah.[10]
c.
Imam
harus berdasarkan penunjukan atau nas.
d.
Keimanan
jatuh pada anak tertua
e.
Imam
harus maksum.
f.
Imam
harus dijabat oleh seorang yang paling baik. Berbeda dengan zaidah, Syi’ah
sab’iyah dan syia’ah dua belas tidak membolehkan adanya imam mafdul.
C.
Syi’ah
Sab’iyah
Pada dasarnya sama
dengan ajaran sekte-sekte Syi’ah lainnya. Perbedaannya terletak pada konsep
kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap uang lahir, dan penolakannya
terhadap Al-Mahdi Al-Mumtadzar.
Ada satu sekte
dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam.
Oleh karena itu, imam harus disembah. Menurut imam Sab’iyah, Al-Qur’an memiliki
makna batin selain makna lahir.[11]
Dengan prinsip
ta’wil. Sab’iyah menakwilkan, misalnya, ayat Al-Qur’an tentang puasa dengan
menahan diri dari menyiarkan rahasia-rahasia imam; dan ayat Al-Qur’an tentang
haji ditakwilkan dengan mengunjungi imam[12]
D.
Syi’ah
Zaidiyah
Imamah,
sebagaimana telah disebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah secara
umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang
dikembangkan Syi’ah lain, Syi’ah Zaidiyah mengembangkan imamah yang tipikal.
Menurut zaidiyah, seorang imam paling tidak memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Merupakan
keturunan ahl al-bait, baik melalui garis hasan maupun husein .
b.
Memiliki
kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang.
E.
Syi’ah Zaidiyah lainnya
Bertolak dari
doktrin tentang al-imamahal-mafdul. Syi’ah Zaidiyah berpendapat bahwa
kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah dari sudut pandang
islam. Mereka tidak merampas kekuasaan dari sudut pandang islam.[13]
Berbeda dengan Syi’ah
lain, Zaidiyah menolak nikah mut’ah. Tampaknya ini merupakan implikasi dari
pengakuan mereka atas kekhalifahan Umar bin Khattab.
F.
Syi’ah
Ghulat
Menurut Syahrastani, ada empat
doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu:
a.
Tanasukh
adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
b.
Bada’
adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan
ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang
sebaliknya.
c.
Raj’ah
ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa imam mahdi
Al-Muntazhar akan datang ke bumi.
d.
Tasbih
artinya menyerupakan, mempersamakan. Tasbih ini diambil dari faham hululiyah
dan tanasukh dan khalik.
e.
Hulul
artinya Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada
pada setiap individu manusia.
f.
Ghayba
artinya menghilangnya Imam mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa
Imam Mahdi itu ada di dalam negeri ini dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
2.5.Syi’ah
di Indonesia
Menilik sejarah Syi’ah di
Indonesia, memiliki alur yang sangat abu-abu. Pasalnya banyak sekali
klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh Syi’ah, disajikan dalam bentuk sangat
menarik, tetapi faktanya bersembunyi dibalik topeng wajah buruknya. Sampai hari
ini, ada beberapa pihak menyimpulkan bahwa Syi’ah datang pada abad 12 Masehi
yang dibawa oleh bangsa Persia, ada juga klaim bahwa itu dari bangsa Arab
secara langsug. Tapi, semua pelik di atas akan kembali pada 1 muara, bahwa Syi’ah
datang ke Indonesia dibawa langsung oleh Syi’ah. Bukan para Sufi, maupun
saudagar. Tapi, hal ini kemudian dianulis dengan literasi taqiyyah versyi Syi’ah,
mereka mengevaluasi bahwa Syi’ah dibawa oleh orang-orang bermadzhab Syafi’i.
Mereka ingin memberikan pengaburan di tubuh kaum muslimin, agar Syi’ah ini,
bisa masuk dengan plong bersama masyarakat Islam. Demi misi yang sangat
berbahaya.
Ketahuilah, sesungguhnya Syi’ah masuk ke Indonesia dengan beberapa
periode. Mari kita simak:
- Periode Pertama
Yaitu, sebelum berdirinya revolusi
Iran, pada tahun 1979. Pada dekade ini, sangat sulit menyisir orang-orang Syi’ah
yang datang ke Indonesia. Hal ini dimotori oleh aqidah taqiyyah oleh mereka.
Sehingga, bisa menyusup menyusuri, memasuki, dan mengaburkan aqidah kaum
muslimin.
Alih-alih berdakwah secara
terang-terangan di masa ini, ternyata lebih diotoritaskan pada peta keluarga
terdekat mereka. Hal inilah yang paling dasar didistribusi oleh kaum Syi’ah.
Memasuki keluarga terdekatnya. Salah seorang tokoh Syi’ah Lebanon, Muhamamd
Jawad Mughniyyah, mengatakan, “Para pemeluk agama Syiah di Indonesia pada tahun
dekade ini sebesar 1 juta orang.”
Perlu juga dicatat, bahwa sebelum
tahun 1979, beberapa orang Indonesia sudah ada belajar di Qum, Iran. Inilah
menjadi cekaman tersendiri bagi kaum muslimin. Tempat ini merupakan wadah, atau
lebih praktisnya sebagai madrasah Syi’ah yang paling terbesar ke-4 di dunia,
setelah Najaf di Irak, Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri. Para
mahasiswa Indonesia pun belajar dengan ulama Syi’ah dengan bantuan beasiswa
(baca: zakat dan khumus).
Kemudian, pada tahun 1976
sesungguhnya di Indonesia telah ada berdiiri Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren
Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Pesantren ini kemudian
menjadi corong Syi’ah dan menjadi yayasan tertua di Indonesia. Santri pada
pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji secara dalam aqidah Syi’ah.
Untuk ‘mengimbanginya’, pesantren ini kemudian mempelajari buku-buku sunni,
seperti buku mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Dan tentunya tetap
mereka tak ketinggalan kereta mempelajari mazhab Syi’ah. Maka, keluaran
pesantren ini pun banyak-banyak memotori dakwah di beberapa tempat di Indonesia
dengan ‘visi’ terselubung.
-Periode Kedua
Pasca Revolusi Iran meletus tahun
1979, yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi,
menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Khomaini, maka banyak orang
berafiliasi menjadi Syi’ah. Hal ini dikarenakan faktor intelektualitas mereka.
Inilah yang menjadi sebab banyak terjadi konversi ke paham Syi’ah di tubuh
mahasiswa dan dosen. Salah seorang staf DDII, Nabhan Husein, mengatakan dakwah
yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada renta tahun 1970-1980-an.
Mereka ‘tertarik’ dengan
pemikiran-pemikiran Syi’ah. Bersamaan dengan dekade tersebut, mahasiswa pun
tertarik pada paham pemikiran Hasan al-Banna, Abul A-la al-Maududi, Sayyid
Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.
Kembali ke awal, bahwa magnet dari
pemikiran Syi’ah terfokus pada keberhasilan Khomaini dan ideologi yang
mendorong terjadinya revolusi. Hal inilah yang menjadi kecenderungan mengapa
beberapa oknum mahasiswa sering kali menggugat pemerintah seperti SBY. Hal
tersebut difaktorisasi oleh adanya buku-buku yang menyajikan paham-paham
bagaimana sejarah Khomaini menjatuhkan Shah (pemimpin, pen) Mohammad Reza
Pahlavi. Sementara, bagi mahasiswa, ini adalah sebuah wacana populer dan bisa
diadopsi sebagai sarana menjatuhkan penguasa yang ada. Inilah menjadi isme-isme
yang mekar sampai saat ini.
Pasca berhasilnya Revolusi Iran,
maka didistribusilah berbagai varian tulisan berbau Iran. Tak terpungkiri yang
paling independen adalah aqidah Syi’ah tersisir di belantara nusantara.
Ulama-ulama Syi’ah membanjiri kemudian toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah
seputar revolusi Iran, Khomaini, dan filsafat Syi’ah yang miring oleh
penerjemah-penerjemah Indonesia.
Salah satu penerbit yang kemudian
memfasilitasi buku-buku terjemahan Syi’ah adalah Mizan yang dipelopori oleh
Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua lulusan dari ITB.
Mizan sendiri dibentuk pada tanggal 7 Maret 1983. Buku-buku yang pertama kali
diterbitkan sebanyak 2.000-3.000 eks berjudul Dialog Sunni-Syi’ah; Surat Menyurat
antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kariro Mesir dan
as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amiili, Seorang Ulama Besar Syi’ah.
Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.
Masa berlalu, Penerbit Syi’ah pun
banyak-banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, dalam hal ini Muhammad al-Bagir
al-Habsyi dalam menerjemahkan. Muhammad al-Bagir al-Habsyi dikenal sebagai
tokoh yang mengidolai Syi’ah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan
dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syi’ah pada tahun 1980-1900-an. Maka,
masyarakat pun banyak mencap bahwa Mizan sebagai corong Syi’ah. Tetapi, hal ini
seiring dengan perjalanan waktu, masyarakat pun menilai sama seperti penerbit
buku pada umumnya.
Pada saat yang sama, di Kota
Bandung, Jalaluddin Rahmat , yang diklaim sebagai ‘doktor’ gemilang pada saat
ini, tiba-tiba tertarik pada Syi’ah. Sebelum lebih jauh, menarik pula dibahas
mengapa proses doktoral Jalaluddin Rahmat mendapat sorotan, hal ini dipaparkan
oleh LPPI, antara lain:
Pertama, dalam suatu kunjungan
silaturrahim ke Bandung, kami (LPPI) menemui Prof. Dr. KH. Miftah Farid (Ketua
MUI Bandung) dan beliau menyatakan bahwa JR itu belum pernah dikukuhkan sebagai
guru besar di Unpad, Bandung.
Kedua, JR adalah tokoh utama
penyebaran Syiah di Indonesia, sebagai Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul
Bait Indonesia (Ijabi), sebuah organisasi yang berfaham dan getol menyebarkan
Syiah. Sedang Syiah telah dinyatakan oleh MUI Pusat dan MUI Jatim sebagai ajaran
yang perlu diwaspadai, yang ditolak dan tidak diterima oleh masyarakat
Indonesia yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah, yang menyimpang dan sebagai
ajaran yang sesat lagi menyesatkan.
Ketiga, tokoh-tokoh dan cendekiawan
muslim di Makassar juga menyatakan keberatan dengan rencana program doktoral JR
tersebut sehingga Bapak KH. M. Nur (alm) mengharamkan program doktoral JR di
UIN Alauddin karena akan menambah kredibilitasnya dalam menyebarkan ajaran
sesatnya. Seorang ulama kharismatik di Makassar berkata: “JR itu cendekiawan
yang tidak berakhlak karena suka mencela-cela sahabat dan tabi’in, dia
tidak layak diberi gelar doktor agama Islam, karena akan
disalah-gunakan menyebarkan pahamnya yang sesat, sebagaimana tidak boleh
menjual beras ketan kepada orang yang kita tahu akan membuatnya menjadi minuman
yang memabukkan”.
Keempat, statuta UIN Alauddin
Makassar menyatakan bahwa PT tersebut adalah pusat keunggulan akdemik dan
intelektual, yang mengedepankan kejujuran dan sangat melarang penggunaan ijazah
dan gelar palsu.
Kembali ke awal, maka Jalaluddin
Rahmat berafiliasi pada saat itu, yang tadinya aktif berbicara seputar
pemikiran Hasan al-Bannad, Sayyid Quthub, dan Sa’id Hawwa, kini Jalaluddin
Rahmat membicarkan seputar akidah Syi’ah. Timbul pertanyaan, mengapa begitu
cepat berafiliasi pemikirannya? Hal ini difaktori oleh pertemuan Jalaluddin
Rahmat dengan Ulama Syi’ah, Husein al-Habsyi. Inilah pentingnya menjaga teman
duduk, karena bisa membuat hati lebih cepat menerima syubhat. Maka, setelah
Jalaluddin Rahmat menjadi corong Syi’ah, ia kemudian diidentifikasi oleh MUI
Kota Bandung tahun 1985, menyusul MUI Pusat agar mewaspadai Syi’ah di tengah
mereka.
Di tengah-tengah keluarnya
instruksi tersebut, Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Agus Effendy, Ahmad
Tafsir, dan Ahmad Muhajir mendirikan Yayasan Muthahhari pada tanggal 3 Oktober
1988. Tahun yang sama ini, pun Haidar Bagir keluar dari Penerbit Mizan dan
kemudian belajar kembali di Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta
pada 1988. Ortom dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka, SMA ini
kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syi’ah yang pertama di Bandung,
Kota Kembang.
Lanjut, pada tahun 1989, berdiri
pesantren al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad
Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak supaya menjembatani para
pelajar Syi’ah untuk kemudian bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran. Kini
diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran,
disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan
pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya. Ini merupakan ‘ujian’ bagi
kaum muslim untuk lebih menjaga aqidahnya, jangan sampai terkontaminasi.
-Periode Ketiga
Pada periode ini, tidak bisa
dirinci secara gamblang. Tidak bisa ditentukan secara tepat waktunya. Hal ini
wajar, karena dimotori oleh semakin merebahnya wabah pemikiran Syi’ah di
Indonesia. Bersamaan dengan itu, muncul pula serangan, counter, yang kemudian
mendiskreditkan Syi’ah karena mengadopsi praktik-praktik ibadah yang berbeda
dengan Islam. Penulis akan sebutkan beberapa praktik ibadah Syi’ah yang sangat
‘aneh’ di tengah kaum muslimin:
a. Mereka di saat wudhu hanya mengusap kaki, sebagaimana ketika seseorang
mengusap khuf (kaos kaki, sepatu, atau semisalnya). Tidak membasuhnya.
b. Adzan hanya pada 3 waktu, yaitu Dzuhur, Maghrib, dan Subuh.
c. Takbir adzan mereka hanya sekali. Bukan 2 kali pada adzan.
d. Menjama’ sholat setiap harinya walaupun tidak safar.
e. Meninggalkan shalat jum’at. Karena pandangan mereka, yang wajib
imam dalam solat adalah orang yang bebas dari dosa.
f. Tidak bersedekap dalam sholat.
g. Meninggalkan bacaan amin dalam sholat.
h. Meninggalkan sholat tarwih.
i.
Menahan makan sahur sebelum adzan.
Sembilan Point di atas, dipaparkan
oleh a-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori dalam bukunya bertajuk
Bahaya Syi’ah bagi Dunia Islam.
Nah, inilah menjadi kekhawatiran
tersendiri bagi umat Islam pada waktu itu, oleh sebab itu, alumni-alumni Qum
dari Indonesia kemudian datang. Bak menjadi pahlawan. Yang kemudian lebih
frontal. Maka dibukalah kajian-kajian Syi’ah yang terselubung maupun terbuka di
beberapa tempat. Kemudian, hal ini lebih digemukkan oleh adanya yayasan-yayasan
yang berdiri pada saat itu. Tercatat pada tahun 1995 ada 40 yayasan Syi’ah yang
berdiri di Indonesia, 25 di antaranya berada pada titik Jakarta.
Pada tahun 1998, masa turunya
Presiden Soeharto membawa dampak yang cukup signifikan dalam pemekaran Syi’ah
di Indonesai. Pasalnya, sebelum Soeharto turun, mereka, jama’ah Syi’ah masih
pada koridor pengawasan dan kontrol yang baik. Maka, sepeninggalnya merupakan
jembatan mulus untuk menanam bibit Syi’ah di Indonesia. Bahkan, pada orde Gus
Dur, berdilah untuk pertama kalinya ormas Syi’ah secara resmi yang bernama
IJABI (Ikatan Ahlul Bait Indonesia).
Ormas IJABI berdiri pada tahun 2000
dan yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syura IJABI adalah Jalaluddin Rahmat.
Setelah itu, Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan tanfidziyah.
IJABI kemudian semakin pesat,
sampai tahun 2008 terdaftar 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 sub-cabang
IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Kemudian tahun 2011 di
Bandung, kembali jamaah Syi’ah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia
(MUHSIN). Yang kemudian menjadi wadah sosial antara sunni dan Syi’ah dalam visi
yang ‘abu-abu’.
Daftar Pustaka
Rozak, Abdul dan Anwar,
Rosihon,20007, Ilmu Kalam, Pustaka
Setia: Bandung
Hasjmy, A, 1982, Syi’ah dan AhlusSunnah, Bina Ilmu: Aceh
Amar, A. Hasan, 1993, Akhidah Syi’ah seri tauhid, Yayasan Al
Muntazhar: _____
Al Musawi, A. Syarafudin, 1997, Isu-Isu Penting Ikhtilaf, Mizan: Bandung
Ja’fari, F. Su’ud, 2010, Islam Syiah, UIN-MalikiPress:Malang
Al Barsani, I. Noer, 2005. Akhidah Kaum Sarungan, Tim Saluran
Teologi:Purwokerto
Abdullah,2008, Cara Mudah Memahami Aqidah,Pustaka At Tazkia:Jakarta
Shihab, M. Quraish. 2007.Shunah Syiah Bergandengan
Tangan!Mungkinkah?.Lentera Hati:Tangerang
Hashem,O.2002.Syiah Ditolah Syah Dicari.Islamik Center Jakarta al-Huda:Jakarta
[1] Ghafarri.po. cit.,hlm 41-42
[2]Ibid.,
hlm. 42-52
[3]Ibid.,
hlm., 53
[4]Ibid.,
hlm., 58-59
[5]Ibid.,
hlm., 4-5
[6]Ibid.,
hlm., 67-68
[7]Ibid,
hlm., 71-74
[8]Thabathaba’i,
Shi’a. Terj. Husain Nasr. Anshariah. Qum. 1981. Hlm. 173.
[9]Watt. Op.
Cut., hlm 31
[10]Zahrah.
Op. Cut., hlm 37
[11]Nasution,
islam... op. Cit., hlm 102.
[12]Syahrastani,
op. Cit., hlm. 193
[13]Zahrah,
op. Cit., hlm. 47
0 Komentar untuk "Makalah Teologi islam _ Ajaran Ajaran Syi'ah"