Knowladge Is Free

Catatan Kuliah Teknik Informatika dan lain-lain

Makalah Teologi islam _ Ajaran Ajaran Syi'ah

BAB I
Pendahuluan
1.1.Latar Belakang
Bebagai macam literature menjelaskan tentang munculnya Syi’ah. Ada yang mengatakan Syi’ah sudah ada sejak sepeninggalan Nabi Muhammad saw yaitu ketika terpilihnya abu bakar sebagai khlifah pengganti Nabi Muhammad saw yang telah meninggal dunia. Sedang beberapa literature lain mengatakan Syi’ah muncul waktu perang shiffin, yaitu perang antara khalifah ali bin abu thalib dengan bani ummaiyah.
Semula aliran yang lebih pada segi politik, yaitu dukungan kepada ahlu bait tapi lama kelamaan berubah lebih kea rah teologis. Berbagai macam hal terjadi sehingga Syi’ah terpecah menjadi beberapa sekte-sekte yang kesemuanya memiliki perbedaan tersendiri.
Walaupun demikian Syi’ah tetap kuat dan menyebar hingga Indonesia. Perkembangan yang tak disangka-sangka, yang semula dikira hanya sebuah isu kini menjadi nyata.
1.2.Rumusan Masalah
a.       Bagaimana sejarah perkembangan Syi’ah?
b.      Apa saja sekte-sekte dalam Syi’ah?
c.       Bagaimana ajaran-ajaran Syi’ah?
d.      Bagaimana penyebaran Syi’ah di Indonesia?
1.3.Tujuan
a.       Memahami sejarah perkembangan Syi’ah.
b.      Mengetahui sekte-sekte dalam Syi’ah.
c.       Mengetahui ajaran-ajaran Syi’ah.
d.      Mengetahui penyebaran Syi’ah di Indonesia.
BAB II
Kajian Pustaka

2.1.Pengertian Syi’ah
Menurut bahasa Syi’ah berarti pengikut, pendukung, pembela, pecinta, yang kesemuanya mengarah pada makna dukungan kepada ide atau individu dan kelompok tertentu. Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam spiritual dan keagamaanya  selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW, atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait. Syi’ah juga dapat diartikan, kelompok masyarakat yang menjadi pendukung Ali ibn Abi Thalib, yang mana beliau dianggap sebagai imam dan khalifah oleh mereka yang ditetapkan melalui Nash dan wasiat dari Rasulullah. 
Muhammad Jawad Maghniyah, seorang ulama beraliran Syi’ah, memberikan definisi tentang kelompok Syi’ah, bahwa mereka adalah “kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW. Telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti) Beliau dengan menunjuk Imam Ali. Definisi ini kendati hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syi’ah, bukan seluruhnya, namum untuk sementara dapat diterima karena kadungannya telah menunjuk kepada Syi’ah yang terbanyak dewasa ini, yakni Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.
Untuk merumuskan pengertian Syi’ah secara sempurna memang sangat sulit, karena Syi’ah telah melalui proses sejarah yang panjang dengan segala peristiwa yang ikut mempengaruhi ajarannya. Namun al-Syahrastani mendefinisikan Syi’ah sebagai istilah khusus yang dipakai untuk pendukung atau pengikut Ali Bin Abi Thalib yang berpendirian bahwa pengangkatan Ali sebagai imam atau khalifah berdasarkan kepada nash dan wasiat, serta mereka berkeyakinan bahwa keimaman tersebut tidak terlepas dan terus berlanjut pada keturunan-keturunannya.

2.2.Sejarah Syi’ah
Syi’ah adalah sebutan bagi kelompok pendukung khalifah Ali bin abi thalib. Para pendukung khalifah ali r.a ini sebenarnya sudah ada sejak hari wafatnya Nabi SAW. Ketika diadakan pertemuan di saqafilah bani sa’diah antara golongan muhajirin dengan ansar, sebagian keturunan  bani hasyim dan sebagian kaum muhajirin sebenarnya menjagokan ali sebagai khilifah pengganti Nabi SAW. Namun suara meraka kalah besar dengan suara pendukung Abu Bakar sehingga dialah yang terpilih. Disamping itu, pada saat pertemuan tersebut ali tidak hadir karena sedang mengurusi jenazah Nabi SAW. Ketika Ali terpilih sebagai khalifah menggantikan Utsman, mereka mulai menguatkan barisan namun belum terbentuk sebuah gerakan.
 2.1.1 Perang Shiffin
Ketika perang Shiffin terjadi perpecahan dalam kubu Ali, yang pada saat itu memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menang. Tetapi karena Ali memilih perundingan hal itulah yang menyebabkan perpecahan. Karena keputusannya untuk melakukan perundingan ternyata mendapat tentangan dari pendukungnya sendiri. Hingga akhir salah seorang komandan pasukan Ali yang bernama Hurqus dari bani tamin keluar membantuk barisan sendiri dengan mebawa 12 ribu orang pasukan. Dan kelompok Hurqus ini kelak dikenal sebagai khawarij.
Sebagai bentuk reaksi atas golongan khawarij, muncul pula golongan pendukung Ali yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Ali. Mereka menyatakan siap membela Ali bahkan siap mati bersamanya. Golongan ini kemudian dikenal dengan sebutan syi’atul Ali (pengikut Ali), dan pada akhirnya menjadi embrio lahirnya Syi’ah.
2.1.2 Bani Umayah dan Hasan
Dengan cara kotor bani umayah memenangkan perundingan. Dan ketika Ali meninggal dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (sisa kelompok khawarij) ketika akan sholat, hal ini membuka kesempatan bagi bani umayah mengikrarkan diri sebagai khalifah dan berakhirlah kepemimpinan Khulafa al-rasyidin.
Ketika khalifah Ali r.a telah wafat, para pengikut Ali kemudian mengangkat Hasan bin Ali (putra dari Ali dan Fatimah) sebagai khalifah baru. Sehingga terjadi dua kepemimpinan yaitu Muawiyah dan Hasan.
Hasan yang tak ingin membuka konflik dengan Muawiyah, disamping ia tidak berambisi untuk menjadi khalifah, tiga bulan setelah di baiat oleh pendukungnya Hasan mengikat perjanjian dengan Muawiyah. Yang dalam perjanjiannya Hasan mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan beberapa syarat. Syarat yang diajukan oleh Hasan yaitu Muawiyah tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang mendukung Hasan, serta mau memaafkan dan menjamin keselamatan mereka; kursi kekhalifahan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada pilihan umat, bukan diwariskan kepada keturunannya; pajak dari Ahwaz dan salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; dan Muawiyah harus membayar kompensasi sebesar lima juta dirham dari bendahara Kuffah, member satu juta dirham tiap tahun untuk Hasan, dan dua juta dirham untuk saudaranya, Husain.
Dalam literature Syi’ah dinyatakan bahwa setelah perjanjian damai tersebut Hasan berkali-kali berusaha di bunuh, bahkah usaha tersebut telah dilakukan sebanyak 70 kali. Hingga pada akhirnya Hasan harus mati oleh racun yang diletakkan istrinya yang ke tiga di makanan yang dia makan.
2.1.3 Yazid dan Husein
Umayah tidak menepati janjinya, ketika merasa ajalnya sudah dekat dia tidak mengembalikan pemilihan khalifah kepada umat, tetapi mewariskannya kepada anaknya yang bernama Yazid. Tetapi keputusan tersebut banyak menadao tetangan dari berbagai pihak. Ketika Yazid telah diangkat menggantikan ayahnya,  kawasan Timur seperti Hijaz, Persia, Khurasan, dan Irak tidak memberkan baiat kepada Yazid. Sehingga terhajid pemaksaan untuk memenetapkan Yazid sebagai khalifah.
Hai ini dekelathu oleh Husai, dan sebagia benuk protesnya, Husei dan para pengikutnya kemudian pindah ke mekah. Tak lama setelah menetap di mekah, datang utusan dari kuffah. Melalui utusan tersebut, penduduk kuffah meminta kesediannya menjadi khalifah. Dan permohonan tersebut di penuhi oleh Husein.
Setelah mendapat baiat dari 30000 penduduk kuffah, Husein pergi ke irak bersama keluarga dan pengikutnya, guna untuk mendapatkan baiat dari penduduk disana. Tetapi rencana tersebut telah di dengar oelh Yazid di Damaskus, sehingga dia memerintahkan Abdullah bin Ziyad, gubernur Persia, untuk menangkap Husein dan menggagalkan baiat penduduk irak atas Husein.
Rombongan Husein yang hanya 73 orang dihadang oleh 2000 orang tentara di suatu kawasan yang bernama Shiraf. Rombongan kecil ini disesak hingga ke daerah yang kering dan gersang yang bernama Karbala. Disana mereka diserbu oleh 4000 orang. Pembunuhan sadis pun terjadi disana, dimana seluruh keluarga Husein di penggal lehernya dan di bawa ke  kota Kuffah, guna di persembahkan kepada gubernur Abdullah bin Ziyad.
2.1.4 Syi’ah
Pembunuhan sadis atas Husein dipadang Karbala menumbukan kemarahan berat bagi pengikutnya, terutama bagi golongan Syi’ah yang menyakini bahwa khalifah haruslah ahlul bait.
Dengan keyakinan bahwa Umayah yang telah melanggar perjanjian dan membunuh Hasan, sedangkan Yazid yang telah membunuh Husein membangkitkan semangat patriotic kaum Syi’ah untuk melakukan perlawanan bersenjata.
Perlawanan pertama ditunjukkan oleh Mukhtar al Salaqafi bersama penngikutnya, kemudian dilanjutkan oleh Zaid bin Ali, cucu Husein, lalu perlawanan Yahya bin Zaid, serta pemberontakan Nafs al Zakiyah.
Pada awalnya kelompok Syi’ah hanya dibentuk karena situasi politik yang berkembang pada masa itu, namanu seiring berjalannya waktu keyakinan kelompok Syi’ah mulai beralih kearah Teologis. Inti dari ajaran teoligis kelompok Syi’ah adalah berpusat pada keyakinan bahwa hanya ahlul bait yang pantas menggantikan kepemimpinan sepeninggalan Nabi saw.
Di tahun-tahun berikutnya, Syi’ah terpecah menjadi beberapa sekte. Hal itu terjadi karena mereka harus memilih pengganti Husein, ada sekelompok yang berpendapat bahwa yang berhak menggantikannya adalah putra Husein sendiri, Ali Zainal Abidin (satu-satunya yang selamat adri tragedy pembataian di Karbala), sedangkan kelompok yang lain memilih Muhammad bin Hanifiyah, putra Ali dan istri selain Fatimah. Akibatnya muncul sekte-sekte baru dalam Syi’ah. Beberapa sempalan aliran Syi’ah yaitu Kaisaniyah, Ghulat, Zaidiyah, dan Imamiyah. 2 golongan yang disebutkan pertama tidak mampu bertahan dan leyap.
A.    Syi’ah Zaidiyah
Nama aliran ini dinisbatkan pada nama pendirinya, Zaid bin Ali Zainal Abidin, seorang ahli tafsir dan fiqih di zamannya. Dia adalah putra dari Ali bin Husein Abidin.
Pada masa berikutnya aliran ini pecah kembali menjadi beberapa sekte, diantaranya adalah Syi’ah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Shalihiyah. Syi’ah Jarudiyah adalah pengikut Abu Jarud Ziyad bin Abd al-Ziyad. Sekte ini beranggapan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali sebagai penerusnya (walaupun secara tidak langsung).
Syi’ah Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir, yang beranggapan bahwa sekalipun Ali adalah pemimpin terbaik pasca Nabi saw. Tetapi mereka masih mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, namun tidak mengakui kepemimpinan Utsman bin Affan.
Sedangkan Syi’ah Shalihiyah adalah pengikut Katsir al-Nu’man al-Akhtar dan Hasan bin Shaleh al-Hayy. Golongan ini memiliki pandangan yang hamper sama dengan Syi’ah Sulaimaniyah, tetapi perihal Utsman mereka lebih memilih diam.
B.     Syi’ah Imamiyah
Kemunculan golongan ini berawal dari permasalahan siapa yang akan menggantikan kepemimpinan Ja’far al-Shadiq, seorang ahli tafsir , hadist, fiqh, filsafat, fisika, yang masih keturunan Ahlul Bait. Berbeda dengan Syi’ah Zaidiyah yang bersifat ekstrem dan bernuansa politis, Syi’ah Imamiyah ini lebih bersifat moderat dan lebih menekankan pada bidang ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat. Hal ini sesuai dengan semangat yang dibawa oleh Ja’far al-Shadiq yang lebih menekankan pada bidang ilmu pengetahuan.
Ja’far al-Shadiq lebih suka berjuang pada jalur pendidikan. Karean itu ia melanjutkan perjuangan ayahnya mengajar di perguruan masjid Nabawi dan merupaka perguruan pertama yang mengajarkan filsafat.
Kebesaran nama Ja’far al-Shadiq meresahkan khalifah yang memimpin kala itu, sehingga dia berkali-kali berusaha membunuh Ja’far al-Shadiq. Dan usaha terakhir yang dia lakukan adalah dengan memasukkan racun pada makanan Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq meninggal dan dimakamkan di depan makam ayah dan kakeknya, serta makam Hasan bin Ali.
Sepeninggalan Ja’far al-Shadiq, golongan ini terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama meyakini bahwa yang berhak menggantikan Ja’far al-Shadiq adalah Ismail, putra Ja’far al-Shadiq walaupun telah meninggal lebih dahulu. Golongan ini dinamakan Syi’ah Ismailiyah. Golongan kedua meyakini bahwa yang berhak menggantikan Ja’far al-Shadiq adalah Musa al-Kazim, putra Ja’far al-Shadiq. Golongan ini kemudian di kenal dengan sebutan Syi’ah Itsna Asy’ariyah atau golongan Syi’ah yang meyakini 12 imam. Sedangkan golongan ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang mampu menggantikan kepemimpinan Ja’far al-Shadiq. Golongan ini kemudian di kenal dengan nama Sy’ah al-Waqfiyyah.

2.3.Pokok-Pokok Pemikiran Syi’ah
Kaum Syi’ah memiliki 5 pokok pikiran utama yang harus dianut oleh para pengikutnya diantaranya yaitu at tauhid, al ‘adl, an nubuwah, al imamah dan al ma’ad.
A.     At tauhid
Kaun Syi’ah juga meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, tempat bergantung semua makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan juga tidak serupa dengan makhluk yang ada di bumi ini. Namun, menurut mereka Allah memiliki 2 sifat yaitu al-tsubutiyah yang merupakan sifat yang harus dan tetap ada pada Allah SWT. Sifat ini mencakup ‘alim (mengetahui), qadir (berkuasa), hayy (hidup), murid (berkehendak), mudrik (cerdik, berakal), qadim azaliy baq (tidak berpemulaan, azali dan kekal), mutakallim (berkata-kata) dan shaddiq (benar). Sedangkan sifat kedua yang dimiliki oleh Allah SWT yaitu al-salbiyah yang merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada Allah SWT. Sifat ini meliputi antara tersusun dari beberapa bagian, berjisim, bisa dilihat, bertempat, bersekutu, berhajat kepada sesuatu dan merupakan tambahan dari Dzat yang telah dimilikiNya.
B.     Al ‘adl
Kaum Syi’ah memiliki keyakinan bahwa Allah memiliki sifat Maha Adil. Allah tidak pernah melakukan perbuatan zalim ataupun perbuatan buruk yang lainnya. Allah tidak melakukan sesuatu kecuali atas dasar kemaslahatan dan kebaikan umat manusia. Menurut kaum Syi’ah semua perbuatan yang dilakukan Allah pasti ada tujuan dan maksud tertentu yang akan dicapai, sehingga segala perbuatan yang dilakukan Allah Swt adalah baik. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep keadilan Tuhan yaitu Tuhan selalu melakukan perbuatan yang baik dan tidak melakukan apapun yang buruk.Tuhan juga tidak meninggalkan sesuatu yang wajib dikerjakanNya.
C.     An nubuwwah
Kepercayaan kaum Syi’ah terhadap keberadaan Nabi juga tidak berbeda halnya dengan kaum muslimin yang lain. Menurut mereka Allah mengutus nabi dan rasul untuk membimbing umat manusia. Rasul-rasul itu memberikan kabar gembira bagi mereka-mereka yang melakukan amal shaleh dan memberikan kabar siksa ataupun ancaman bagi mereka-mereka yang durhaka dan mengingkari Allah SWT. Dalam hal kenabian, Syi’ah berpendapat bahwa jumlah Nabi dan Rasul seluruhnya yaitu 124 orang, Nabi terakhir adalah nabi Muhammad SAW yang merupakan Nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada, istri-istri Nabi adalah orang yang suci dari segala keburukan, para Nabi terpelihara dari segala bentuk kesalahan baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul, Al Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang kekal, dan kalam Allah adalah hadis (baru), makhluk (diciptakan) hukian qadim dikarenakan kalam Allah tersusun atas huruf-huruf dan suara-suara yang dapat di dengar, sedangkan Allah berkata-kata tidak dengan huruf dan suara.
D.    Al imamah
Bagi kaun Syi’ah imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama sekaligus dalam dunia. Ia merupakan pengganti Rasul dalam memelihara syari’at, melaksanakan hudud (had atau hukuman terhadap pelanggar hukum Allah), dan mewujudkan kebaikan serta ketentraman umat. Bagi kaum Syi’ah yang berhak menjadi pemimpin umat hanyalah seorang imam dan menganggap pemimpin-pemimpin selain imam adlah pemimpin yang ilegal dan tidak wajib ditaati. Karena itu pemerintahan Islam sejak wafatnya Rasul (kecuali pemerintahan Ali Bin Abi Thalib) adalah pemerintahan yang tidak sah. Di samping itu imam dianggap ma’sum, terpelihara dari dosa sehingga iamam tidak berdosa serta perintah, larangan tindakan maupun perbuatannya tidak boleh diganggu gugat ataupun dikritik.
E.     Al Ma’ad
Secara harfiah al ma’dan yaitu tempat kembali, yang dimaksud disini adalah akhirat. Kaum Syi’ah percaya sepenuhnya bahwahari akhirat itu pasti terjadi. Menurut keyakinan mereka manusia kelak akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhannya akan dikembalikan ke asalnya baik daging, tulang maupun ruhnya. Dan pada hari kiamat itu pula manusia harus memepertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia di hadapan Allah SWT. Pada saaat itu juga Tuhan akan memberikan pahala bagi orang yang beramal shaleh dan menyiksa orang-orang yang telah berbuat kemaksiatan.

2.4.Ajaran Syi’ah
A.    Syi’ah Itsna Asyariyah
Di dalam sekte Ayi’ah Asyariyah dikenal konsep Usul Ad-Din. Konsep ini menjadi akar atau fondasi pragmatise agama. Konsep usuluddin mempunyai lima akar[1]
a.       Tauhid (The devine Unity)
Tuhan adalah Esa baik esensi maupun eksistensi –Nya. Keesaan Tuhan adalah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Ia berdiri sendiri, tidak di batasi oleh ciptaan-Nya. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata biasa[2]
b.      Keadilan (The Devine Justice)
Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidakadilan dan kelaliman terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan ketidakmampuan dan sifat ini jauh dari keabsolutan dan kehendak Tuhan.
Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah melalui perasaan. Manusia dapat menggunakan penglihatan, pendengaran dan indera lainnya untuk melakukan perbuatan, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jadi, manusia dapat memanfaatkan potensi bergkehendak sebagai anugerah Tuhan untuk mewujudkan dan bertanggungjawab atas perbuatannya.[3]
c.       Nubuwwah (Apostleship)
Setiap makhluk sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari Tuhan  maupun dari manusia. Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan Tuhan yang secara transenden diutus untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam semesta. Dalam keyakinan Syi’ah Itsna Asyariyah, Tuhan telah mengutus 124.000 rasul untuk memberikan petunjuk pada manusia.[4]
Syi’ah Itsna Asyariyah percayamutlak tentang ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Adam hingga Muhammad dan tidak ada nabi dan rasul setelah Muahammad. Mereka percaya adanya kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif., perubahan, atau tambahan.[5]
d.      Ma’ad (The Last Day)
Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan Tuhan di akhirat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan. Mati adalah periode transit dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.[6]
e.       Imamah (The Devine Guidance)
Imamah adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasi kan kepada keturunan Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.[7]
Selanjutnya, dalam sisi yang bersifat mahdah, Syi’ah Itsna Asyariyah berpijak kepada delapan cabang agama yang disebut dengan furu ad-din. Delapan cabang tersebut terdiri atas shalat, puasa, haji, zakat, khumus atau pajak sebesar seperlima dari penghasialan, jihad, al-amr bi al-ma’ruf, dan an-nahyu an munkar.
B.     Syi’ah Sab’iyah (Syiah Tujuh)
Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percaya bahawa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti dijelaskan al-qobhi an-nukman dalam da’ain al-islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman, taharoh,
 sholat, zakat, puasa, haji dan jihad.
Dalam pandangan kelompok Syi’ah sab’iyah, keimanan hanya dapat diterima bila sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui walayah (kesetian) kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan (ma’rifat).[8]
Syarat-syarat seoarang imam dalam pandangan Syi’ah ab’iyah adalah sebagai berikut:
a.       Imam harus berasal dari keturunan ali melalui perkawinannya dari fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait[9]
b.      Berbeda dengan aliran kaisaniyah pengikut muhktar at-tsakoti, mempropagandakan bahwa keimanan harus dari keturunan ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari bani hanifah yang mempunyai anak bernama muhammad bin al-hanafiyah.[10]
c.       Imam harus berdasarkan penunjukan atau nas.
d.      Keimanan jatuh pada anak tertua
e.       Imam harus maksum.
f.       Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik. Berbeda dengan zaidah, Syi’ah sab’iyah dan syia’ah dua belas tidak membolehkan adanya imam mafdul.
C.     Syi’ah Sab’iyah
Pada dasarnya sama dengan ajaran sekte-sekte Syi’ah lainnya. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap uang lahir, dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Mumtadzar.
Ada satu sekte dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam. Oleh karena itu, imam harus disembah. Menurut imam Sab’iyah, Al-Qur’an memiliki makna batin selain makna lahir.[11]
Dengan prinsip ta’wil. Sab’iyah menakwilkan, misalnya, ayat Al-Qur’an tentang puasa dengan menahan diri dari menyiarkan rahasia-rahasia imam; dan ayat Al-Qur’an tentang haji ditakwilkan dengan mengunjungi imam[12]
D.    Syi’ah Zaidiyah
Imamah, sebagaimana telah disebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah secara umum. Berbeda dengan doktrin  imamah yang dikembangkan Syi’ah lain, Syi’ah Zaidiyah mengembangkan imamah yang tipikal.
Menurut  zaidiyah, seorang imam paling tidak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Merupakan keturunan ahl al-bait, baik melalui garis hasan maupun husein .
b.      Memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang.
E.     Syi’ah  Zaidiyah lainnya
Bertolak dari doktrin tentang al-imamahal-mafdul. Syi’ah Zaidiyah berpendapat bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah dari sudut pandang islam. Mereka tidak merampas kekuasaan dari sudut pandang islam.[13]
Berbeda dengan Syi’ah lain, Zaidiyah menolak nikah mut’ah. Tampaknya ini merupakan implikasi dari pengakuan mereka atas kekhalifahan Umar bin Khattab.
F.      Syi’ah Ghulat
Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu:
a.       Tanasukh adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
b.      Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.
c.       Raj’ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa imam mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi.
d.      Tasbih artinya menyerupakan, mempersamakan. Tasbih ini diambil dari faham hululiyah dan tanasukh dan khalik.
e.       Hulul artinya Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia.
f.       Ghayba artinya menghilangnya Imam mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa Imam Mahdi itu ada di dalam negeri ini dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
2.5.Syi’ah di Indonesia
Menilik sejarah Syi’ah di Indonesia, memiliki alur yang sangat abu-abu. Pasalnya banyak sekali klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh Syi’ah, disajikan dalam bentuk sangat menarik, tetapi faktanya bersembunyi dibalik topeng wajah buruknya. Sampai hari ini, ada beberapa pihak menyimpulkan bahwa Syi’ah datang pada abad 12 Masehi yang dibawa oleh bangsa Persia, ada juga klaim bahwa itu dari bangsa Arab secara langsug. Tapi, semua pelik di atas akan kembali pada 1 muara, bahwa Syi’ah datang ke Indonesia dibawa langsung oleh Syi’ah. Bukan para Sufi, maupun saudagar. Tapi, hal ini kemudian dianulis dengan literasi taqiyyah versyi Syi’ah, mereka mengevaluasi bahwa Syi’ah dibawa oleh orang-orang bermadzhab Syafi’i. Mereka ingin memberikan pengaburan di tubuh kaum muslimin, agar Syi’ah ini, bisa masuk dengan plong bersama masyarakat Islam. Demi misi yang sangat berbahaya.
Ketahuilah, sesungguhnya Syi’ah masuk ke Indonesia dengan beberapa periode. Mari kita simak:
- Periode Pertama
Yaitu, sebelum berdirinya revolusi Iran, pada tahun 1979. Pada dekade ini, sangat sulit menyisir orang-orang Syi’ah yang datang ke Indonesia. Hal ini dimotori oleh aqidah taqiyyah oleh mereka. Sehingga, bisa menyusup menyusuri, memasuki, dan mengaburkan aqidah kaum muslimin.
Alih-alih berdakwah secara terang-terangan di masa ini, ternyata lebih diotoritaskan pada peta keluarga terdekat mereka. Hal inilah yang paling dasar didistribusi oleh kaum Syi’ah. Memasuki keluarga terdekatnya. Salah seorang tokoh Syi’ah Lebanon, Muhamamd Jawad Mughniyyah, mengatakan, “Para pemeluk agama Syiah di Indonesia pada tahun dekade ini sebesar 1 juta orang.”
Perlu juga dicatat, bahwa sebelum tahun 1979, beberapa orang Indonesia sudah ada belajar di Qum, Iran. Inilah menjadi cekaman tersendiri bagi kaum muslimin. Tempat ini merupakan wadah, atau lebih praktisnya sebagai madrasah Syi’ah yang paling terbesar ke-4 di dunia, setelah Najaf di Irak, Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri. Para mahasiswa Indonesia pun belajar dengan ulama Syi’ah dengan bantuan beasiswa (baca: zakat dan khumus).
Kemudian, pada tahun 1976 sesungguhnya di Indonesia telah ada berdiiri Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Pesantren ini kemudian menjadi corong Syi’ah dan menjadi yayasan tertua di Indonesia. Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji secara dalam aqidah Syi’ah. Untuk ‘mengimbanginya’, pesantren ini kemudian mempelajari buku-buku sunni, seperti buku mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Dan tentunya tetap mereka tak ketinggalan kereta mempelajari mazhab Syi’ah. Maka, keluaran pesantren ini pun banyak-banyak memotori dakwah di beberapa tempat di Indonesia dengan ‘visi’ terselubung.
-Periode Kedua
Pasca Revolusi Iran meletus tahun 1979, yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Khomaini, maka banyak orang berafiliasi menjadi Syi’ah. Hal ini dikarenakan faktor intelektualitas mereka. Inilah yang menjadi sebab banyak terjadi konversi ke paham Syi’ah di tubuh mahasiswa dan dosen. Salah seorang staf DDII, Nabhan Husein, mengatakan dakwah yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada renta tahun 1970-1980-an.
Mereka ‘tertarik’ dengan pemikiran-pemikiran Syi’ah. Bersamaan dengan dekade tersebut, mahasiswa pun tertarik pada paham pemikiran Hasan al-Banna, Abul A-la al-Maududi, Sayyid Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.
Kembali ke awal, bahwa magnet dari pemikiran Syi’ah terfokus pada keberhasilan Khomaini dan ideologi yang mendorong terjadinya revolusi. Hal inilah yang menjadi kecenderungan mengapa beberapa oknum mahasiswa sering kali menggugat pemerintah seperti SBY. Hal tersebut difaktorisasi oleh adanya buku-buku yang menyajikan paham-paham bagaimana sejarah Khomaini menjatuhkan Shah (pemimpin, pen) Mohammad Reza Pahlavi. Sementara, bagi mahasiswa, ini adalah sebuah wacana populer dan bisa diadopsi sebagai sarana menjatuhkan penguasa yang ada. Inilah menjadi isme-isme yang mekar sampai saat ini.
Pasca berhasilnya Revolusi Iran, maka didistribusilah berbagai varian tulisan berbau Iran. Tak terpungkiri yang paling independen adalah aqidah Syi’ah tersisir di belantara nusantara. Ulama-ulama Syi’ah membanjiri kemudian toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomaini, dan filsafat Syi’ah yang miring oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.
Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan Syi’ah adalah Mizan yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada tanggal 7 Maret 1983. Buku-buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000-3.000 eks berjudul Dialog Sunni-Syi’ah; Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kariro Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amiili, Seorang Ulama Besar Syi’ah.  Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.
Masa berlalu, Penerbit Syi’ah pun banyak-banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, dalam hal ini Muhammad al-Bagir al-Habsyi dalam menerjemahkan. Muhammad al-Bagir al-Habsyi dikenal sebagai tokoh yang mengidolai Syi’ah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syi’ah pada tahun 1980-1900-an. Maka, masyarakat pun banyak mencap bahwa Mizan sebagai corong Syi’ah. Tetapi, hal ini seiring dengan perjalanan waktu, masyarakat pun menilai sama seperti penerbit buku pada umumnya.
Pada saat yang sama, di Kota Bandung, Jalaluddin Rahmat , yang diklaim sebagai ‘doktor’ gemilang pada saat ini, tiba-tiba tertarik pada Syi’ah. Sebelum lebih jauh, menarik pula dibahas mengapa proses doktoral Jalaluddin Rahmat mendapat sorotan, hal ini dipaparkan oleh LPPI, antara lain:
Pertama, dalam suatu kunjungan silaturrahim ke Bandung, kami (LPPI) menemui Prof. Dr. KH. Miftah Farid (Ketua MUI Bandung) dan beliau menyatakan bahwa JR itu belum pernah dikukuhkan sebagai guru besar di Unpad, Bandung.
Kedua, JR adalah tokoh utama penyebaran Syiah di Indonesia, sebagai Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi), sebuah organisasi yang berfaham dan getol menyebarkan Syiah. Sedang Syiah telah dinyatakan oleh MUI Pusat dan MUI Jatim sebagai ajaran yang perlu diwaspadai, yang ditolak dan tidak diterima oleh masyarakat Indonesia yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah, yang menyimpang dan sebagai ajaran yang sesat lagi menyesatkan.
Ketiga, tokoh-tokoh dan cendekiawan muslim di Makassar juga menyatakan keberatan dengan rencana program doktoral JR tersebut sehingga Bapak KH. M. Nur (alm) mengharamkan program doktoral JR di UIN Alauddin karena akan menambah kredibilitasnya dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Seorang ulama kharismatik di Makassar berkata: “JR itu cendekiawan yang tidak berakhlak karena  suka mencela-cela sahabat dan tabi’in, dia tidak layak diberi gelar doktor agama  Islam, karena  akan disalah-gunakan menyebarkan pahamnya yang sesat, sebagaimana tidak boleh menjual beras ketan kepada orang yang kita tahu akan membuatnya menjadi minuman yang memabukkan”.
Keempat, statuta UIN Alauddin Makassar menyatakan bahwa PT tersebut adalah pusat keunggulan akdemik dan intelektual, yang mengedepankan kejujuran dan sangat melarang penggunaan ijazah dan gelar palsu.
Kembali ke awal, maka Jalaluddin Rahmat berafiliasi pada saat itu, yang tadinya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Bannad, Sayyid Quthub, dan Sa’id Hawwa, kini Jalaluddin Rahmat membicarkan seputar akidah Syi’ah. Timbul pertanyaan, mengapa begitu cepat berafiliasi pemikirannya? Hal ini difaktori oleh pertemuan Jalaluddin Rahmat dengan Ulama Syi’ah, Husein al-Habsyi. Inilah pentingnya menjaga teman duduk, karena bisa membuat hati lebih cepat menerima syubhat. Maka, setelah Jalaluddin Rahmat menjadi corong Syi’ah, ia kemudian diidentifikasi oleh MUI Kota Bandung tahun 1985, menyusul MUI Pusat agar mewaspadai Syi’ah di tengah mereka.
Di tengah-tengah keluarnya instruksi tersebut, Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir mendirikan Yayasan Muthahhari pada tanggal 3 Oktober 1988. Tahun yang sama ini, pun Haidar Bagir keluar dari Penerbit Mizan dan kemudian belajar kembali di Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 1988. Ortom dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syi’ah yang pertama di Bandung, Kota Kembang.
Lanjut, pada tahun 1989, berdiri pesantren al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak supaya menjembatani para pelajar Syi’ah untuk kemudian bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya. Ini merupakan ‘ujian’ bagi kaum muslim untuk lebih menjaga aqidahnya, jangan sampai terkontaminasi.
-Periode Ketiga
Pada periode ini, tidak bisa dirinci secara gamblang. Tidak bisa ditentukan secara tepat waktunya. Hal ini wajar, karena dimotori oleh semakin merebahnya wabah pemikiran Syi’ah di Indonesia. Bersamaan dengan itu, muncul pula serangan, counter, yang kemudian mendiskreditkan Syi’ah karena mengadopsi praktik-praktik ibadah yang berbeda dengan Islam. Penulis akan sebutkan beberapa praktik ibadah Syi’ah yang sangat ‘aneh’ di tengah kaum muslimin:
a.       Mereka di saat wudhu hanya mengusap kaki, sebagaimana ketika seseorang mengusap khuf (kaos kaki, sepatu, atau semisalnya). Tidak membasuhnya.
b.      Adzan hanya pada 3 waktu, yaitu Dzuhur, Maghrib, dan Subuh.
c.       Takbir adzan mereka hanya sekali. Bukan 2 kali pada adzan.
d.      Menjama’ sholat setiap harinya walaupun tidak safar.
e.       Meninggalkan shalat jum’at. Karena pandangan mereka, yang wajib imam dalam solat adalah orang yang bebas dari dosa.
f.       Tidak bersedekap dalam sholat.
g.      Meninggalkan bacaan amin dalam sholat.
h.      Meninggalkan sholat tarwih.
i.        Menahan makan sahur sebelum adzan.
Sembilan Point di atas, dipaparkan oleh a-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori dalam bukunya bertajuk Bahaya Syi’ah bagi Dunia Islam.
Nah, inilah menjadi kekhawatiran tersendiri bagi umat Islam pada waktu itu, oleh sebab itu, alumni-alumni Qum dari Indonesia kemudian datang. Bak menjadi pahlawan. Yang kemudian lebih frontal. Maka dibukalah kajian-kajian Syi’ah yang terselubung maupun terbuka di beberapa tempat. Kemudian, hal ini lebih digemukkan oleh adanya yayasan-yayasan yang berdiri pada saat itu. Tercatat pada tahun 1995 ada 40 yayasan Syi’ah yang berdiri di Indonesia, 25 di antaranya berada pada titik Jakarta.
Pada tahun 1998, masa turunya Presiden Soeharto membawa dampak yang cukup signifikan dalam pemekaran Syi’ah di Indonesai. Pasalnya, sebelum Soeharto turun, mereka, jama’ah Syi’ah masih pada koridor pengawasan dan kontrol yang baik. Maka, sepeninggalnya merupakan jembatan mulus untuk menanam bibit Syi’ah di Indonesia. Bahkan, pada orde Gus Dur, berdilah untuk pertama kalinya ormas Syi’ah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Ahlul Bait Indonesia).
Ormas IJABI berdiri pada tahun 2000 dan yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syura IJABI adalah Jalaluddin Rahmat. Setelah itu, Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan tanfidziyah.
IJABI kemudian semakin pesat, sampai tahun 2008 terdaftar 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 sub-cabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Kemudian tahun 2011 di Bandung, kembali jamaah Syi’ah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN). Yang kemudian menjadi wadah sosial antara sunni dan Syi’ah dalam visi yang ‘abu-abu’.





Daftar Pustaka

Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon,20007, Ilmu Kalam, Pustaka Setia: Bandung
Hasjmy, A, 1982, Syi’ah dan AhlusSunnah, Bina Ilmu: Aceh
Amar, A. Hasan, 1993, Akhidah Syi’ah seri tauhid, Yayasan Al Muntazhar: _____
Al Musawi, A. Syarafudin, 1997, Isu-Isu Penting Ikhtilaf, Mizan: Bandung
Ja’fari, F. Su’ud, 2010, Islam Syiah, UIN-MalikiPress:Malang
Al Barsani, I. Noer, 2005. Akhidah Kaum Sarungan, Tim Saluran Teologi:Purwokerto
Abdullah,2008, Cara Mudah Memahami Aqidah,Pustaka At Tazkia:Jakarta
Shihab, M. Quraish. 2007.Shunah Syiah Bergandengan Tangan!Mungkinkah?.Lentera Hati:Tangerang
Hashem,O.2002.Syiah Ditolah Syah Dicari.Islamik Center Jakarta al-Huda:Jakarta



[1]  Ghafarri.po. cit.,hlm 41-42
[2]Ibid., hlm. 42-52
[3]Ibid., hlm., 53
[4]Ibid., hlm., 58-59
[5]Ibid., hlm., 4-5
[6]Ibid., hlm., 67-68
[7]Ibid, hlm., 71-74
[8]Thabathaba’i, Shi’a. Terj. Husain Nasr. Anshariah. Qum. 1981. Hlm. 173.
[9]Watt. Op. Cut., hlm 31
[10]Zahrah. Op. Cut., hlm 37
[11]Nasution, islam... op. Cit., hlm 102.
[12]Syahrastani, op. Cit., hlm. 193
[13]Zahrah, op. Cit., hlm. 47
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Makalah Teologi islam _ Ajaran Ajaran Syi'ah"

 
Copyright © 2014 Knowladge Is Free - All Rights Reserved - DMCA
Template By Kunci Dunia